Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Transaksi QRIS Bikin Transparan, Tapi Justru Bikin Takut, Ironis Kan?

by teguh
Agustus 3, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Pemerintah terus mengajak masyarakat bertransaksi digital. Transaksi QRIS hadir sebagai simbol ekonomi modern yang cepat, praktis, dan transparan. Hampir setiap warung, kios, hingga pedagang kaki lima kini menyediakan kode QR untuk menerima pembayaran. Namun, di balik geliat digitalisasi itu, muncul ironi yang tidak banyak dibahas.

Tabooo.id – Sebagian pelaku usaha justru kembali meminta pembeli membayar secara tunai. Mereka bukan anti-teknologi seperti QRIS dan mereka juga bukan menolak kemajuan. Sebaliknya, mereka khawatir setiap transaksi QRIS berubah menjadi jejak yang membuka pintu pengawasan pajak, sementara kepercayaan terhadap pengelolaan pajak belum benar-benar pulih.

Ironisnya, negara mengajak masyarakat masuk ke sistem digital. Di sisi lain, sebagian masyarakat justru mencari jalan keluar dari sistem tersebut.

Transaksi QRIS Dibangun untuk Transparansi. Namun, Kepercayaan Tidak Ikut Tumbuh.

Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah mempromosikan QRIS sebagai tulang punggung transformasi ekonomi digital Indonesia. Sistem ini menawarkan transaksi yang cepat, mudah, aman, sekaligus tercatat secara otomatis.

Secara teknis, QRIS menjalankan fungsinya dengan baik. Sistem mencatat setiap transaksi. Selain itu, setiap pembayaran digital meninggalkan jejak yang mudah ditelusuri. Karena itu, pelaku usaha tidak lagi harus menghitung uang tunai secara manual.

Meski begitu, teknologi tidak pernah berdiri sendiri. Teknologi selalu berjalan berdampingan dengan kepercayaan.

Ini Belum Selesai

Api Dipadamkan, Masalahnya Jangan Ikut Dibiarkan

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen

Ketika rasa percaya mulai retak, masyarakat memandang teknologi dengan cara yang berbeda. Mereka tidak lagi melihat QRIS sebagai alat pembayaran. Sebaliknya, mereka mulai melihatnya sebagai alat pengawasan.

QRIS sebenarnya bukan persoalannya. Akar persoalannya justru terletak pada hilangnya rasa percaya. Teknologi hanya menjadi alat yang ikut terkena dampaknya.

Bank Dunia Membuka Luka yang Selama Ini Hanya Beredar di Warung Kopi

Laporan Bank Dunia berjudul “Indonesia: Membuka Potensi Pajak Usaha untuk Pertumbuhan” yang dikutip pada Senin, 03/08/2026, mengungkap fakta yang cukup mengejutkan.

“Banyak usaha kecil sengaja menghindari transfer perbankan untuk menghindari pajak, sering kali karena kurangnya kepercayaan pada sistem dan kekhawatiran akan korupsi.”

Kalimat itu tampak sederhana namun, maknanya jauh lebih dalam. Laporan tersebut tidak hanya berbicara tentang kepatuhan pajak. Bank Dunia juga menunjukkan bahwa sebagian pelaku usaha kehilangan kepercayaan terhadap sistem yang mengelola penerimaan negara.

Selain itu, Bank Dunia mencatat bahwa perusahaan yang jarang menggunakan layanan keuangan formal lebih sering menghindari kewajiban perpajakan.

Sebaliknya, perusahaan eksportir yang aktif memakai pembiayaan formal cenderung lebih patuh terhadap kewajiban pajaknya.

Artinya, akses terhadap sistem keuangan memang berkaitan dengan kepatuhan. Akan tetapi, hubungan itu tidak bisa dipisahkan dari tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.

Ketika Transaksi QRIS Berubah Menjadi Kamera yang Tidak Pernah Berkedip

Laporan tersebut juga mengungkap temuan yang jauh lebih menarik. Sebanyak 48 persen pelaku usaha mikro mengaku membatasi penggunaan QRIS untuk menghindari kewajiban perpajakan.

Selain itu, 40 persen responden percaya pajak yang mereka bayarkan berpotensi habis karena korupsi dan pemborosan.

Angka-angka itu sebenarnya tidak sedang berbicara tentang Transaksi QRIS. Angka-angka itu sedang menggambarkan psikologi publik.

Di mata sebagian pelaku usaha, setiap transaksi digital bukan lagi sekadar pembayaran.

Sebaliknya, mereka memandang setiap transaksi sebagai rekaman permanen yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi tagihan.

Lucunya, negara menyebut kondisi itu sebagai transparansi. Sementara itu, sebagian masyarakat justru menganggapnya sebagai pengawasan.

Ketika Pajak Kehilangan Legitimasi Moral

Ekonom senior almarhum Faisal Basri berkali-kali mengingatkan bahwa penerimaan pajak tidak hanya bergantung pada aturan hukum tapi negara juga harus menjaga legitimasi moral.

Dalam berbagai kesempatan sebelum wafatnya pada 05/09/2024, Faisal Basri menegaskan bahwa korupsi menjadi musuh terbesar kepatuhan pajak.

“Kalau uang rakyat terus bocor karena korupsi, jangan heran bila kepercayaan terhadap pajak ikut bocor.”

Pandangan serupa juga sering disampaikan Ekonom INDEF Tauhid Ahmad.

Menurutnya, kepatuhan pajak tumbuh ketika masyarakat percaya bahwa negara mengelola uang publik secara transparan, efisien, dan bertanggung jawab.

Sebaliknya, ketika masyarakat terus menyaksikan praktik korupsi, keinginan membayar pajak ikut melemah.

Hukum Bisa Memaksa. Kepercayaan Tidak Bisa Dipaksa.

Pakar Hukum Tata Negara Bivitri Susanti berulang kali mengingatkan bahwa negara hukum tidak cukup mengandalkan sanksi administratif.

Menurutnya, negara juga harus membangun legitimasi melalui tata kelola yang adil, transparan, dan akuntabel.

Karena itu, pemerintah boleh mempercepat digitalisasi. Namun, pemerintah tidak bisa memaksa masyarakat mempercayai sistem hanya melalui aplikasi.

Kepercayaan lahir dari pengalaman Bukan dari slogan.

Sosiolog Melihat Ini sebagai Krisis Kepercayaan

Sosiolog Musni Umar dalam berbagai analisisnya mengenai kepercayaan publik menjelaskan bahwa masyarakat akan menjaga jarak ketika mereka merasa institusi kehilangan kredibilitas.

Fenomena itu tidak hanya muncul di Indonesia. Berbagai negara juga mengalami kondisi serupa ketika publik kehilangan keyakinan terhadap pemerintah.

Karena itu, persoalan QRIS sebenarnya tidak berhenti pada urusan pembayaran digital. Persoalan utamanya terletak pada hubungan antara negara dan warga.

Realita yang Menampar

Lucunya begini Negara berkata,

“Ayo pakai QRIS supaya semua transaksi transparan.”

Sebagian rakyat menjawab,

“Boleh transparan. Tapi uang pajaknya juga transparan, kan?”

Kalimat itu memang terdengar seperti candaan. Namun, survei Bank Dunia menunjukkan bahwa keresahan tersebut benar-benar hidup di tengah pelaku usaha mikro.

Satirnya terasa pahit karena teknologi berkembang semakin cepat. Sebaliknya, kepercayaan berjalan jauh lebih lambat.

Pola yang Tak Terlihat

Kisah ini bukan hanya tentang Transaksi QRIS tapi lebih jauh lagi, persoalan ini juga tidak berhenti pada urusan pajak.

Sesungguhnya, fenomena tersebut menggambarkan hubungan yang mulai renggang antara negara dan warganya.

Digitalisasi memang mampu mempercepat transaksi. Namun, digitalisasi tidak pernah mampu menggantikan kepercayaan.

Pemerintah dapat membeli server baru. Setelah itu, pemerintah juga mampu meluncurkan berbagai aplikasi digital. Bahkan, Indonesia bisa membangun sistem pembayaran paling modern di Asia Tenggara.

Sayangnya, tidak ada aplikasi yang mampu mengunduh kembali kepercayaan publik ketika masyarakat merasa uang mereka tidak kembali dalam bentuk pelayanan yang layak.

Yang Perlu Diingat

Pada akhirnya, masyarakat tidak benar-benar lari dari QRIS tapi mereka juga tidak sedang memusuhi teknologi.

Sebaliknya, mereka menjauh dari sistem yang belum sepenuhnya mereka percaya. Karena itu, pertanyaan terbesar hari ini bukan lagi

“Mengapa masyarakat enggan memakai QRIS?” Melainkan “Mengapa negara lebih cepat membangun sistem digital daripada membangun kembali kepercayaan publik?”

Sebab, ketika uang tunai terasa lebih aman daripada transaksi digital, persoalannya sudah bukan lagi soal teknologi.

Persoalannya adalah legitimasi Dan legitimasi selalu lahir dari kepercayaan, bukan sekadar dari kewajiban. @teguh

Tags: Bank DuniaEkonomi DigitalIndonesiaKebijakan PublikkorupsiPajak UMKMQRISTrust Crisis

Kamu Melewatkan Ini

Gaji ASN Lewat Kopdes Merah Putih: Ambisi Ekonomi Desa atau Ujian Tata Kelola?

Gaji ASN Lewat Kopdes Merah Putih: Ambisi Ekonomi Desa atau Ujian Tata Kelola?

by teguh
Oktober 17, 2026

Ada satu pertanyaan yang perlu pemerintah jawab sebelum memperluas fungsi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih siapa yang menjamin keamanan gaji ASN...

Gaji ASN Lewat Kopdes Merah Putih pada 2026: DPR Pertanyakan Dasar Hukumnya

Gaji ASN Lewat Kopdes Merah Putih pada 2026: DPR Pertanyakan Dasar Hukumnya

by teguh
Oktober 16, 2026

Rencana pemerintah menyalurkan gaji ASN melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) memunculkan pertanyaan tentang dasar hukum dan mekanisme pelaksanaannya. DPR...

Korupsi Dana Darurat Bencana, Ketika Perlindungan Warga Dipertaruhkan

Korupsi Dana Darurat Bencana, Ketika Perlindungan Warga Dipertaruhkan

by dimas
Oktober 16, 2026

Dugaan korupsi dana darurat BNPB memicu sorotan terhadap perlindungan warga dan hak atas lingkungan sehat. Rieke mendesak pengusutan hingga ke...

Next Post
Merdeka Dapat 30 Kg Beras, Merdeka Tekanan Ekonomi?

Merdeka Dapat 30 Kg Beras, Merdeka Tekanan Ekonomi?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id