Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bukan Tak Mau Bayar Pajak. Mereka Tak Lagi Percaya Negara Mengelolanya.

by teguh
Agustus 3, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Suara mesin kasir berbunyi. QRIS terpampang di meja. Transfer bank tersedia. Namun sebagian pelaku usaha kecil tetap mengulurkan uang tunai. Ini bukan karena mereka menolak teknologi. Ini juga bukan semata-mata ingin menghindari pajak. Mereka tak lagi percaya negara mengelolanya.

Tabooo.id – Di mata mereka, setiap transaksi digital bukan sekadar jejak pembayaran, melainkan pintu menuju kewajiban yang belum tentu berbalas pelayanan. Ketika kepercayaan runtuh, yang dihindari bukan hanya pajak, tetapi juga sistem yang dianggap gagal menjaga amanah publik. Ini terjadi disektor industri usaha kecil bukannya mereka tidak mau bayar pajak tapi mereka tak lagi percaya Negara mengelolanya.

Persoalannya ternyata bukan sekadar pajak. Persoalan utamanya adalah kepercayaan. Ketika negara meminta warga patuh, sementara publik terus disuguhi berita korupsi, transparansi yang dipertanyakan, dan birokrasi yang berbelit, maka yang retak bukan hanya penerimaan pajak. Yang retak adalah kontrak sosial antara negara dan rakyat.

Ketika Pajak Tak Lagi Dipandang Sebagai Gotong Royong

Bank Dunia (World Bank) melalui laporan “Indonesia Membuka Potensi Pajak Usaha untuk Pertumbuhan” yang dikutip Senin, 03/08/2026, menemukan fakta yang menggelitik sekaligus mengkhawatirkan.

“Banyak usaha kecil sengaja menghindari transfer perbankan untuk menghindari pajak, seringkali karena kurangnya kepercayaan pada sistem dan kekhawatiran akan korupsi.”

Kalimat itu mungkin hanya satu paragraf dalam laporan Bank Dunia. Namun dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar angka statistik.

Laporan tersebut menunjukkan pelaku usaha kecil lebih memilih membatasi transaksi melalui sistem keuangan formal karena menganggap jalur digital memperbesar peluang mereka terpantau otoritas pajak.

Ini Belum Selesai

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

Ironisnya, di saat pemerintah terus mendorong digitalisasi UMKM melalui QRIS, pembayaran elektronik, dan inklusi keuangan, sebagian pelaku usaha justru berjalan ke arah sebaliknya.

Bukan karena mereka tidak mampu beradaptasi. Tetapi karena mereka Tak Lagi Percaya Negara Mengelolanya.

Data yang Membongkar Krisis Kepercayaan

Beberapa temuan Bank Dunia memperlihatkan pola yang konsisten.

  • 48 persen pelaku usaha mikro mengaku membatasi penggunaan pembayaran QRIS demi menghindari kewajiban pajak.
  • 40 persen responden percaya pajak yang mereka bayarkan hanya akan berakhir pada korupsi dan pemborosan.
  • Hanya 4 persen pelaku usaha menerima pembayaran digital.
  • Hanya 14 persen menerima transfer bank.
  • Sekitar 62 persen memiliki rekening bank.

Bank Dunia juga mencatat:

“Perusahaan non-eksportir, yang memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk menghindari pajak, secara signifikan lebih kecil kemungkinannya untuk menggunakan pinjaman atau kredit formal.”

Sebaliknya:

“Eksportir yang membutuhkan pembiayaan perdagangan dan transaksi lintas batas lebih cenderung menggunakan layanan perbankan formal.”

Temuan tersebut menunjukkan hubungan erat antara integrasi keuangan formal dengan kepatuhan pajak. Meski Bank Dunia menegaskan hubungan sebab-akibatnya belum dapat dipastikan secara langsung, pola korelasinya sangat kuat.

Masalahnya Bukan Tarif Pajak. Masalahnya Legitimasi Negara.

Negara modern dibangun di atas satu kesepakatan yang disebut social contract.

Filsuf politik Jean-Jacques Rousseau sejak abad ke-18 menjelaskan bahwa warga bersedia menyerahkan sebagian hak, termasuk membayar pajak, karena negara berkewajiban mengembalikannya dalam bentuk pelayanan publik, keamanan, pendidikan, dan kesejahteraan.

Artinya, pajak bukan sekadar kewajiban karena pajak adalah simbol kepercayaan Ketika kepercayaan itu hilang, kepatuhan ikut runtuh. Fenomena ini sudah terjadi dan mereka Tak Lagi Percaya Negara Mengelolanya.

Korupsi Membunuh Moral Pajak

Ekonom perilaku dan pakar kepatuhan pajak dari OECD selama bertahun-tahun menggunakan istilah tax morale, yakni kemauan seseorang membayar pajak secara sukarela karena merasa sistemnya adil. Sebaliknya, korupsi menciptakan persepsi bahwa uang publik hanya berpindah kantong.

Dalam berbagai kajian OECD mengenai kepatuhan pajak, kepercayaan terhadap institusi negara menjadi salah satu faktor utama yang menentukan kemauan warga membayar pajak secara sukarela.

Fenomena yang ditemukan Bank Dunia memperlihatkan tax morale tersebut sedang mengalami erosi.

Suara Para Ahli

Guru Besar Kebijakan Publik Riant Nugroho dalam berbagai kajian mengenai tata kelola pemerintahan menekankan bahwa kepatuhan masyarakat tidak dapat dibangun hanya melalui regulasi.

“Kepercayaan publik merupakan modal utama efektivitas kebijakan.”

Ketika legitimasi pemerintah melemah, masyarakat akan mencari berbagai cara untuk mengurangi interaksi dengan sistem.

Praktisi hukum tata negara Bivitri Susanti berulang kali mengingatkan dalam berbagai diskusi publik bahwa supremasi hukum dan transparansi menjadi syarat utama agar negara memperoleh legitimasi.

Menurutnya, hukum kehilangan wibawa ketika publik melihat penegakannya tidak berjalan secara konsisten.

Sosiolog Musni Umar dalam sejumlah pandangannya mengenai modal sosial menilai bahwa masyarakat akan lebih patuh apabila merasa negara hadir secara adil, bukan sekadar hadir untuk menarik kewajiban.

Kenapa UMKM Lebih Nyaman Tunai?

Uang tunai menawarkan satu hal yang tidak dimiliki transaksi digital yaitu, Tidak meninggalkan jejak. Bagi sebagian pelaku usaha, itu bukan semata strategi menghindari pajak.

Itu adalah bentuk perlindungan diri dari sistem yang dianggap belum memberi rasa aman. Akibatnya muncul paradoks karena Pemerintah ingin mempercepat ekonomi digital tapi Pelaku usaha justru memperlambat digitalisasi.

Yang hilang bukan hanya penerimaan pajak Tetapi juga akses UMKM terhadap kredit perbankan, pembiayaan formal, hingga peluang ekspansi usaha.

Kepercayaan Menjadi Fondasi Digitalisasi

QRIS, Transfer bank, Dompet digita Semuanya hanya alat. Kalau masyarakat tidak percaya pada institusi yang mengelolanya, teknologi secanggih apa pun akan kehilangan fungsi.

Bank Dunia sebenarnya sedang mengingatkan sesuatu yang jauh lebih besar. Indonesia menghadapi tantangan fiskal bukan hanya karena basis pajaknya kecil Tetapi karena modal sosialnya mulai terkikis.

Inti Persoalan

Ini bukan sekadar cerita tentang UMKM yang menghindari pajak tapi ini adalah cerita tentang negara yang mulai kehilangan legitimasi di mata sebagian warganya.

Dan ketika rakyat mulai percaya bahwa uang pajak lebih dekat kepada korupsi daripada pelayanan publik, yang sedang runtuh bukan hanya penerimaan negara.

Yang sedang retak adalah hubungan paling dasar antara pemerintah dan rakyat. Karena pada akhirnya Orang tidak membayar pajak kepada angka tapi Mereka membayar kepada kepercayaan. @teguh

Tags: Bank DuniaEkonomi DigitalIndonesiaKebijakan PublikkorupsiPajak UMKMQRISTrust Crisis

Kamu Melewatkan Ini

Gaji ASN Lewat Kopdes Merah Putih: Ambisi Ekonomi Desa atau Ujian Tata Kelola?

Gaji ASN Lewat Kopdes Merah Putih: Ambisi Ekonomi Desa atau Ujian Tata Kelola?

by teguh
Oktober 17, 2026

Ada satu pertanyaan yang perlu pemerintah jawab sebelum memperluas fungsi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih siapa yang menjamin keamanan gaji ASN...

Gaji ASN Lewat Kopdes Merah Putih pada 2026: DPR Pertanyakan Dasar Hukumnya

Gaji ASN Lewat Kopdes Merah Putih pada 2026: DPR Pertanyakan Dasar Hukumnya

by teguh
Oktober 16, 2026

Rencana pemerintah menyalurkan gaji ASN melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) memunculkan pertanyaan tentang dasar hukum dan mekanisme pelaksanaannya. DPR...

Korupsi Dana Darurat Bencana, Ketika Perlindungan Warga Dipertaruhkan

Korupsi Dana Darurat Bencana, Ketika Perlindungan Warga Dipertaruhkan

by dimas
Oktober 16, 2026

Dugaan korupsi dana darurat BNPB memicu sorotan terhadap perlindungan warga dan hak atas lingkungan sehat. Rieke mendesak pengusutan hingga ke...

Next Post
Transaksi QRIS Bikin Transparan, Tapi Justru Bikin Takut, Ironis Kan?

Transaksi QRIS Bikin Transparan, Tapi Justru Bikin Takut, Ironis Kan?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id