Mas Marco Kartodikromo memilih pena sebagai senjata ketika rakyat bumiputera dipaksa tunduk oleh kolonialisme. Pemerintah Belanda berkali-kali menangkap, memenjarakan, dan akhirnya membuangnya ke Boven Digoel karena tulisan-tulisannya. Ia tidak memimpin pasukan bersenjata, tetapi suaranya dianggap cukup berbahaya.
Tabooo.id – Mas Marco Kartodikromo tidak memimpin pasukan bersenjata. Ia tidak duduk di singgasana politik. Namun, pemerintah kolonial berkali-kali menangkap, memenjarakan, lalu membuangnya jauh ke pedalaman Papua.
Senjatanya hanya pena. Namun, pena itu menulis terlalu jujur tentang rasisme, kemiskinan, feodalisme, dan kekuasaan kolonial.
Lahir di Antara Priyayi dan Rakyat Kecil
Soemarko Kartodikromo lahir di Cepu, Blora, Keresidenan Rembang, sekitar 1890. Beberapa sumber mencatat 1889 sebagai tahun kelahirannya. Ia kemudian lebih dikenal sebagai Mas Marco Kartodikromo.
Marco tumbuh dalam keluarga priyayi rendahan. Ayahnya, Mas Karowikoro, bekerja sebagai kepala desa dan harus menghidupi enam anak.
Posisi sosial itu menempatkan Marco di antara dua dunia. Ia cukup dekat dengan struktur pemerintahan desa. Namun, keluarganya tidak memiliki kemewahan dan akses seperti bangsawan tinggi.
Dari sana, Marco melihat rakyat bukan sebagai angka dalam laporan kolonial. Ia melihat mereka sebagai manusia yang bekerja, membayar pajak, kehilangan tanah, dan hidup di bawah aturan yang tidak mereka buat.
Pada usia enam tahun, Marco tinggal bersama kakaknya di Bojonegoro. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Ongko Loro, sekolah dasar untuk bumiputera.
Setelah itu, ia pindah ke Bagelen, Purworejo. Marco belajar di Schakel School selama lima tahun sambil tinggal bersama pamannya, Raden Mangunkarto.
Bantuan sang paman membuka jalan bagi Marco untuk masuk Ambach School atau sekolah teknik. Sekolah itu didominasi anak-anak Eropa. Bahasa Belanda menjadi bahasa pengantar.
Marco tidak pernah dikenal sebagai penutur bahasa Belanda yang sempurna. Namun, ia menguasainya cukup baik untuk memahami tulisan, peraturan, dan cara berpikir orang-orang yang memerintah bangsanya. Kemampuan itu kelak menjadi senjata penting.
Kekuasaan sering bekerja melalui bahasa yang tidak dipahami rakyat. Marco mempelajari bahasa itu, lalu menggunakannya untuk menyerang balik.
Dari Juru Tulis ke Kesadaran tentang Ketidakadilan
Setelah lulus sekitar 1905, Marco mulai memasuki dunia kerja kolonial.
Pada 1906, ia bekerja sebagai juru tulis di jawatan kehutanan Purworejo. Pekerjaan itu hanya bertahan sekitar delapan bulan.
Ia kemudian pindah ke Semarang dan bekerja di Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS.
Di perusahaan kereta api tersebut, Marco melihat diskriminasi kolonial tanpa penyamaran. Pegawai bumiputera menerima upah lebih rendah daripada pegawai Eropa. Padahal, mereka dapat mengerjakan beban yang sama.
Ketidakadilan itu bukan tanpa sengaja. Sistem kolonial memang membagi manusia berdasarkan ras, keturunan, jabatan, pakaian, dan warna kulit.
Marco akhirnya mengundurkan diri pada 1911. Setelah itu, ia bekerja sebagai operator mesin cetak di perusahaan penerbitan G.C.T. Van Dorp & Co. Namun, beban kerja berat dan upah rendah kembali membuatnya pergi.
Pengalaman tersebut mengubah arah hidupnya.
Marco mulai menyadari bahwa masalah rakyat bukan sekadar kurang rajin atau kurang terdidik. Struktur kolonial memang membutuhkan tenaga murah, masyarakat patuh, dan elite lokal yang bersedia menjaga ketertiban.
Ia juga memahami satu hal penting, bahwa sistem birokrasi kolonial tidak akan membebaskan orang yang keberadaannya justru menopang sistem tersebut.
Marco kemudian memilih media.
Bertemu Tirto Adhi Soerjo dan Menemukan Senjata Baru
Pada 1911, Marco pergi ke Bandung. Di kota itu, ia bertemu Tirto Adhi Soerjo, pendiri Medan Prijaji dan salah satu pelopor pers bumiputera.
Pertemuan tersebut mengubah hidup Marco.
Selama sekitar satu tahun, ia belajar langsung dari Tirto. Marco mempelajari teknik jurnalistik, advokasi hukum, pengelolaan media, dan keberanian membela masyarakat melalui tulisan.
Tirto tidak memandang surat kabar sebagai kumpulan kabar harian. Menurutnya, pers harus berdiri bersama orang yang tidak memiliki akses kepada kekuasaan.
Melalui Tirto, Marco juga mengenal karya-karya Multatuli dan berbagai pemikiran humanis. Ia mulai memahami bahwa tulisan dapat membongkar penindasan yang selama ini disembunyikan oleh bahasa administratif.
Ketika Medan Prijaji bangkrut dan berhenti terbit pada 1912, Marco pindah ke Surakarta.
Ia bergabung dengan Sarekat Islam dan bekerja untuk surat kabar Saro Tomo. Marco juga sempat menulis untuk Darmo-Kondo, media berbahasa Jawa yang dikelola Boedi Oetomo cabang Surakarta.
Namun, Marco bukan tipe penulis yang mudah diarahkan. Ia tidak menulis untuk membuat pengurus organisasi merasa nyaman. Ia menulis untuk menyerang apa yang dianggapnya salah.
Pada November 1913, Marco mengkritik laporan Mindere Welvaart Commissie atau Komisi Kesejahteraan Hindia Belanda. Menurutnya, laporan pemerintah itu menyembunyikan kenyataan ekonomi masyarakat Jawa.
Statistik dapat menunjukkan kemajuan. Namun, rakyat tetap miskin.
Kritik tersebut membuat Dr. D.A. Rinkes, Penasihat Urusan Bumiputera, marah. Rinkes kemudian menekan pimpinan Sarekat Islam agar mengendalikan tulisan Marco.
Kekuasaan mulai mengenal nama Marco. Namun, bukan dikenal sebagai wartawan biasa, melainkan sebagai masalah.
Mendirikan Doenia Bergerak dan Memulai Perang Suara
Marco tidak ingin terus berada di bawah kendali organisasi atau elite politik.
Pada 1914, ia ikut mendirikan Inlandsche Journalisten Bond atau IJB. Organisasi tersebut dikenal sebagai salah satu perkumpulan jurnalis pribumi pertama di Hindia Belanda.
IJB ingin menyatukan pekerja pers bumiputera. Organisasi itu juga membawa gagasan bahwa jurnalisme harus membantu rakyat melawan kebodohan dan ketidakadilan.
Sebagai media IJB, Marco menerbitkan Doenia Bergerak.
Nama itu bukan sekadar hiasan. Dunia memang sedang bergerak. Kesadaran politik tumbuh, organisasi bermunculan, rakyat pun mulai membaca, berkumpul, dan mempertanyakan siapa yang berhak memerintah mereka.
Melalui Doenia Bergerak, Marco menjalankan apa yang ia sebut sebagai “perang suara”.
Sasarannya tidak hanya pejabat Belanda. Marco juga menyerang elite bumiputera yang terlalu dekat dengan pemerintah kolonial.
Ia bahkan mengkritik tokoh besar Sarekat Islam, termasuk O.S. Tjokroaminoto, yang dianggap terlalu kompromistis.
Sikap itu membuat Marco sulit ditempatkan dalam kotak politik sederhana. Ia dapat bekerja bersama sebuah organisasi, lalu mengkritiknya ketika organisasi tersebut dianggap menjauh dari rakyat.
Kesetiaannya bukan kepada jabatan, tetapi pada perlawanan.
Ketika Ikat Kepala Menentukan Kelas Manusia
Pada 1914, Marco mengalami sebuah peristiwa di kereta api dari Solo menuju Semarang.
Ia mengenakan ikat kepala batik tradisional Jawa. Marco duduk di gerbong kelas dua bersama seorang Belanda dan seorang Jawa yang mengenakan pakaian Eropa.
Ketika kondektur datang, hanya Marco yang diperiksa dengan kasar. Ia didenda karena berpindah dari gerbong kelas tiga yang penuh. Sementara itu, dua penumpang lain tidak mengalami perlakuan serupa.
Marco kemudian menulis pengalaman tersebut di Doenia Bergerak. Baginya, persoalan itu bukan sekadar tiket kereta. Pakaian telah menjadi paspor sosial.
Seorang pribumi yang mengenakan pakaian Eropa dapat memperoleh perlakuan berbeda. Sebaliknya, pakaian tradisional menjadi tanda bahwa seseorang layak dicurigai dan ditempatkan lebih rendah.
Kolonialisme tidak hanya menguasai tanah. Akan tetapi, juga mengatur cara orang berpakaian, berbicara, duduk, berjalan, dan memandang dirinya sendiri.
Marco membongkar penghinaan kecil itu karena ia tahu sistem besar sering bersembunyi di balik kejadian yang dianggap sepele.
Tulisan yang Mengantarnya ke Penjara
Marco semakin keras menyerang pemerintah.
Dalam esai “Pro of Contra Dr. Rinkes”, ia menyamakan Rinkes dengan dukun. Ia juga memelesetkan Welvaart Commissie menjadi “WC”.
Satire tersebut terdengar sederhana. Namun, pemerintah kolonial memahami bahayanya.
Kekuasaan dapat bertahan selama rakyat masih menganggapnya agung. Ketika kekuasaan mulai menjadi bahan tertawaan, wibawanya ikut retak.
Pemerintah kemudian menggunakan pasal persdelict dan aturan penebar kebencian untuk membungkamnya.
Pada April 1915, Marco sempat pergi ke Singapura. Namun, ia kembali ke Jawa untuk menghadapi proses hukum. Ia tidak ingin perang pers berhenti karena pelarian.
Marco kemudian menjalani hukuman di Penjara Mlaten, Semarang, pada 1915. Kasus itu berkaitan dengan surat pembaca antipemerintah yang terbit di Doenia Bergerak.
Marco menolak membuka identitas penulisnya. Ia memilih masuk penjara daripada menyerahkan sumber.
Vonis awalnya mencapai tujuh bulan. Namun, tekanan publik membuat masa hukumannya berlangsung lebih singkat.
Di dalam penjara, Marco tidak berhenti bekerja. Ia menyelesaikan tiga jilid novel Mata Gelap.
Penjara seharusnya membungkamnya. Marco justru mengubah sel menjadi ruang redaksi.
Student Hidjo Lahir dari Balik Jeruji
Pada 1917, Marco kembali berhadapan dengan hukum.
Tulisan kritisnya di Pantjaran Warta dianggap menyebarkan kebencian terhadap pemerintah kolonial. Ia kemudian menjalani hukuman di Penjara Glodok, Batavia.
Di balik jeruji itulah Marco menulis Student Hidjo.
Novel tersebut kemudian terbit sebagai cerita bersambung di Sinar Hindia pada 1918. Setahun kemudian, penerbit Masman & Stroink membukukannya.
Student Hidjo berkisah tentang seorang pemuda Jawa dari keluarga saudagar kaya yang belajar ke Belanda. Namun, novel itu bukan sekadar cerita pendidikan dan percintaan.
Marco membalik arah pandangan kolonial. Selama bertahun-tahun, orang Eropa menggambarkan bumiputera sebagai manusia terbelakang. Dalam Student Hidjo, Marco justru menelanjangi kemunafikan, hasrat, dan kepalsuan moral masyarakat Eropa.
Orang kulit putih tidak lagi tampil sebagai pusat peradaban. Mereka tampil sebagai manusia biasa, lengkap dengan kelemahan dan kebusukannya.
Marco juga menggunakan bahasa Melayu Rendah, bukan Melayu Tinggi yang disukai lembaga kolonial.
Pilihan itu membuat tulisannya mudah dibaca rakyat.
Balai Pustaka mungkin menganggapnya kasar. Namun, justru bahasa itulah yang hidup di jalan, pasar, tempat kerja, dan ruang pergerakan.
Kekuasaan ingin bahasa yang tertib. Sedangkan, Marco memilih bahasa yang bergerak.
Sama Rasa dan Sama Rata
Pengalaman penjara juga melahirkan salah satu karya penting Marco, “Sama Rasa dan Sama Rata”.
Puisi tersebut ditulis sekitar 1917 dan kemudian terbit dalam kumpulan Sair Rempah-Rempah pada 1918.
Di dalamnya, Marco menggambarkan penjara sebagai tempat bertemunya pencuri kecil dengan “perampok halus” berpendidikan tinggi.
Pencuri kecil mengambil barang dan masuk sel. Sementara itu, pejabat kolonial dapat mengeruk kekayaan suatu bangsa sambil berbicara tentang peradaban.
Marco menggunakan satire untuk menunjukkan bahwa hukum tidak selalu menghukum kejahatan terbesar. Sering kali, hukum hanya menghukum mereka yang tidak memiliki kuasa untuk mendefinisikan kejahatan.
Gagasan “Sama Rasa dan Sama Rata” tumbuh dari keyakinan bahwa kemerdekaan tidak cukup mengganti penguasa.
Kemerdekaan harus menyentuh kehidupan rakyat. Tanpa keadilan sosial, kemerdekaan mudah berubah menjadi pergantian seragam di atas struktur lama.
Berkali-kali Dipenjara, Berkali-kali Menulis
Pada 1919, Marco kembali masuk penjara akibat “Syair Sentot”. Ia menjalani hukuman sekitar enam bulan di Weltevreden, Batavia.
Setelah bebas, Marco meninggalkan Sinar Hindia. Namun, ia tidak berhenti menulis.
Pada awal 1920-an, pemerintah kembali menghukumnya karena artikel “Rahasia Keraton Terbuka” serta penerbitan novel Matahariah.
Marco menerima hukuman dua tahun penjara.
Matahariah mengangkat kisah agen perempuan Belanda, Mata Hari. Namun, Marco menyelipkan sebuah lakon tentang pejabat pribumi yang membela petani dari penindasan perkebunan tebu.
Sekali lagi, sastra menjadi ruang penyelundupan politik.
Pemerintah dapat menyensor pidato. Namun, cerita dapat bergerak melalui tokoh, percakapan, romansa, dan konflik keluarga.
Karena itu, sastra Marco dianggap berbahaya. Ia tidak memberikan ceramah kepada pembaca. Tetapi, membuat pembaca melihat penindasan melalui kehidupan manusia.
Antara Sarekat Islam, Pan-Islamisme, dan Komunisme
Perjalanan politik Marco tidak bergerak lurus. Ia pernah dekat dengan Sarekat Islam Semarang dan bekerja bersama tokoh seperti Semaoen.
Marco juga berhubungan dengan kelompok sosialis ISDV serta serikat buruh kereta api VSTP.
Namun, ketika Sarekat Islam terpecah menjadi faksi Merah dan Putih, posisinya sempat berubah.
Pada Desember 1920, Marco tinggal di Yogyakarta dan menjabat sebagai wakil sekretaris Central Sarekat Islam.
Bersama Haji Fachrudin, ia menerbitkan brosur Pan Islamisme. Tulisan itu mengkritik langkah kelompok komunis yang dianggap mengancam persatuan gerakan Islam.
Posisi tersebut menunjukkan bahwa Marco bukan pengikut ideologi yang selalu patuh pada garis organisasi. Ia dapat berubah, ragu, kecewa, dan mengambil jarak.
Marco bahkan sempat merasa terisolasi dari dunia pergerakan. Ia pindah ke Salatiga dan berencana menulis sejarah Jawa. Namun, pengunduran itu tidak berlangsung lama.
Pada akhir 1923, ia bergabung dengan PKI dan memimpin Sarekat Rakyat cabang Salatiga. Meski demikian, Marco tidak dikenal sebagai teoritikus Marxis yang kaku.
Nasionalisme radikal dan keberpihakannya kepada kaum kromo menjadi tenaga utama dalam politiknya.
Baginya, Sosialisme menawarkan alat untuk melawan tiga kekuasaan sekaligus, yaitu kolonialisme Belanda, kapitalisme perkebunan, dan feodalisme lokal.
Rasa Merdika dan Pilihan Meninggalkan Kenyamanan
Pada 1924, Marco menerbitkan Rasa Merdika atau Hikayat Sudjanmo.
Novel itu mengisahkan Sujanmo, anak seorang pejabat pamong praja yang memilih meninggalkan kenyamanan keluarga.
Ayahnya mengabdi kepada sistem kolonial. Sujanmo justru mendekati gerakan rakyat.
Perjumpaannya dengan buruh tani membuka pemahaman bahwa penindasan tidak hanya datang dari orang Belanda.
Elite lokal juga dapat menjadi bagian dari mesin tersebut.
Melalui Rasa Merdika, Marco memperlihatkan konflik yang terus berulang dalam sejarah.
Apakah seseorang akan mempertahankan kenyamanan yang diberikan sistem, atau meninggalkannya demi orang-orang yang tidak memperoleh apa pun?
Pertanyaan itu tidak hanya berlaku pada masa kolonial. Namun, masih relevan sampai sekarang.
1926: Pemberontakan Gagal, Represi Dimulai
Pada November 1926, PKI melancarkan pemberontakan di Jawa Barat. Gerakan serupa muncul di Sumatra Barat pada awal 1927.
Pemberontakan itu gagal. Pemerintah kolonial kemudian menjalankan penangkapan besar-besaran.
Marco tidak tercatat sebagai komandan pertempuran. Namun, riwayat tulisannya, aktivitas politiknya, dan kepemimpinannya di Sarekat Rakyat membuat pemerintah menganggapnya berbahaya. Ia ditangkap tanpa proses peradilan normal.
Pemerintah menggunakan kekuasaan luar biasa untuk membuang aktivis ke Boven Digoel, Papua.
Pada 21 Juni 1927, Mas Marco tiba di tanah pengasingan.
Pena yang selama bertahun-tahun melawan kolonialisme akhirnya dibawa ribuan kilometer dari pusat pergerakan.
Kekuasaan tidak hanya ingin memenjarakan Marco. Lebih dari itu, kekuasaan ingin menghapusnya dari peta.
Boven Digoel: Tempat Orang Dibuang untuk Dilupakan
Boven Digoel bukan penjara dengan tembok tinggi.
Alam menjadi temboknya. Hutan lebat, sungai besar, penyakit, keterasingan, dan jarak dari dunia luar menciptakan penjara yang hampir mustahil ditembus.
Marco kemudian ditempatkan di Tanah Tinggi, sekitar 40 kilometer dari kamp utama Tanah Merah.
Pemerintah mengirim tahanan yang dianggap paling keras ke wilayah tersebut.
Di sana, Marco hidup bersama tokoh pergerakan lain seperti Aliarcham, Budisutjitro, dan Thomas Najoan.
Malaria, tuberkulosis, tekanan mental, dan keterasingan menggerogoti para tahanan. Namun, Marco kembali melakukan hal yang selalu ia lakukan. Ia menulis.
Dari Tanah Tinggi, Marco mencatat kehidupan orang-orang buangan. Catatan itu berhasil keluar dari kamp dan terbit dalam 51 bagian di Pewarta Deli pada 1931.
Tulisan tersebut kemudian dikenal sebagai Pergaoelan Orang-Orang Boeangan di Boven Digoel.
Pemerintah kolonial ingin menggambarkan Digoel sebagai tempat pemukiman yang manusiawi. Marco menunjukkan sisi lain. Ia mencatat penderitaan, ketakutan, penyakit, kematian, dan cara pemerintah menghancurkan manusia tanpa harus menembaknya di depan umum.
Digoel memperlihatkan wajah kekuasaan yang paling dingin. Orang tidak selalu dibunuh dengan peluru. Kadang mereka hanya dibuang ke tempat yang membuat hidupnya perlahan kehilangan kemungkinan.
Meninggal Jauh dari Tanah Kelahiran
Kondisi kesehatan Marco terus memburuk. Tuberkulosis melemahkan tubuhnya. Serangan malaria hitam memperparah keadaan.
Pada 18 Maret 1932, Mas Marco Kartodikromo meninggal dunia di Tanah Tinggi, Boven Digoel. Beberapa catatan menyebut tanggal 19 Maret.
Istrinya, Roesminah, berada di sisinya.
Marco meninggal jauh dari Cepu, Solo, Semarang, dan kota-kota tempat ia pernah menerbitkan perlawanan.
Pemerintah kolonial mungkin menganggap masalah telah selesai. Seorang wartawan radikal telah mati di tempat terpencil. Namun, tulisan tidak mengenal pengasingan.
Tokoh yang Tidak Bisa Dijinakkan
Mas Marco sering ditempatkan sebagai wartawan radikal, sastrawan liar, nasionalis, sosialis, atau komunis.
Semua label itu memiliki dasar. Namun, tidak satu pun cukup menjelaskan dirinya.
Marco adalah seorang manusia yang terus bergerak di tengah perubahan politik. Ia pernah bekerja dalam perusahaan kolonial, lalu meninggalkannya.
Ia juga bergabung dengan organisasi, kemudian mengkritiknya.
Marco pernah menentang kelompok komunis, lalu bergabung dengan PKI.
Ia mengalami kekalahan, penjara, keterasingan, dan keraguan.
Tapi, Justru di situlah kekuatan kisahnya.
Marco bukan patung yang sejak lahir sudah mengetahui arah sejarah. Ia belajar dari pengalaman, berubah setelah melihat ketidakadilan. Ia juga mengambil posisi, lalu menanggung akibatnya.
Kebebasan Pers Tidak Pernah Datang Secara Gratis
Kisah Mas Marco bukan hanya cerita tentang wartawan pada zaman kolonial. Ia mengingatkan bahwa kebebasan pers tidak pernah datang sebagai hadiah.
Orang seperti Marco membayar kebebasan itu dengan pekerjaan, kesehatan, keluarga, penjara, dan akhirnya hidupnya sendiri.
Hari ini, siapa pun dapat menulis di media sosial. Namun, kemampuan berbicara tidak otomatis melahirkan keberanian.
Kita dapat memiliki ribuan kanal, tetapi tetap menghindari pertanyaan yang mengganggu kekuasaan. Pun kita bisa mengaku bebas, tetapi hanya menulis apa yang aman untuk algoritma, sponsor, kelompok politik, dan lingkaran sosial.
Mas Marco hidup pada masa ketika pemerintah menyita media dan memenjarakan penulis.
Sekarang, pembungkaman tidak selalu datang melalui polisi. Ia dapat muncul melalui ketakutan kehilangan akses, jabatan, iklan, jaringan, atau penerimaan publik.
Teknologinya berubah. Godaan untuk diam tetap sama.
Ketika Pena Menjadi Bukti Keberanian
Marco tidak memenangkan seluruh pertarungannya.
Media yang ia bangun runtuh. Organisasi yang ia ikuti pecah. Pemberontakan politik gagal. Tubuhnya berakhir di pengasingan.
Namun, kemenangan hidup tidak selalu berbentuk kekuasaan. Kadang kemenangan hadir ketika seseorang menolak dibuat jinak.
Mas Marco menunjukkan bahwa jurnalisme tidak hanya berbicara tentang bagaimana menulis fakta. Jurnalisme juga berbicara tentang kepada siapa keberanian itu diberikan.
Kepada pejabat yang ingin menjaga citra?
Kepada pemilik modal yang ingin menjaga keuntungan?
Atau kepada manusia biasa yang tidak memiliki surat kabar, jabatan, dan ruang untuk menjelaskan penderitaannya?
Mas Marco Kartodikromo telah memberikan jawabannya.
Kekuasaan tahu bahwa sebuah rezim dapat menahan tubuh manusia, tetapi tidak selalu mampu menahan kalimat yang sudah telanjur dibaca rakyat. @tabooo








