Kamis, Juli 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Negara Kehabisan Rasa Aman? Ketika Warga Diajak Menangkap Begal

by teguh
Juli 30, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Rasa aman seharusnya menjadi layanan paling mendasar yang negara berikan kepada setiap warga. Namun ketika pemerintah menawarkan hadiah hingga puluhan juta rupiah bagi siapa saja yang berhasil menangkap begal, publik mulai mempertanyakan arah kebijakan itu.

Tabooo.id – Apakah langkah tersebut sekadar mengajak masyarakat berpartisipasi, atau justru menandakan bahwa negara mulai membagi salah satu fungsi utamanya kepada warga?Perdebatan mengenai sayembara menangkap begal yang digagas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akhirnya melampaui soal setuju atau tidak setuju. Isu ini membuka diskusi yang lebih mendasar tentang hubungan negara, aparat penegak hukum, dan masyarakat dalam menjaga keamanan.

Di tengah polemik tersebut, Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengingatkan adanya batas yang tidak boleh dilanggar.

Saat Candaan Menyentuh Batas Negara Hukum

Pigai berharap masyarakat tidak menganggap sayembara tersebut sebagai kebijakan yang benar-benar akan diterapkan.

“Saya pikir Pak Dedi Mulyadi cuma mungkin guyonan saja. Jangan salah loh, bisa saja guyonan, media anggap serius,” kata Pigai kepada wartawan di Hotel Papandayan, Bandung, Selasa, 28/07/2026.

Namun ia langsung memberi peringatan apabila gagasan itu berubah menjadi kebijakan nyata.

“Kalau serius yang tidak boleh. Tapi kalau guyonan, enggak apa-apa. Saya berharap itu guyonan.”

Menurut Pigai, menangkap pelaku kejahatan bukan pekerjaan yang dapat dilakukan sembarang orang. Aparat menjalani pendidikan, pelatihan, dan prosedur khusus sebelum menjalankan kewenangan tersebut.

Ini Belum Selesai

SD Negeri Tanggirejo Grobogan: Ketika Sekolah Harus Viral Agar Negara Bergerak

Indonesia Punya Direktur AI. Apakah Kita Siap Mengelola Revolusi Teknologi Ini?

“Orang yang menangkap terlatih enggak? Kalau sipil yang tidak terlatih, mukul dong ya darah-darah. Apa diperbolehkan kita bayar orang untuk memukul orang lain di lapangan?”

Bagi Pigai, persoalan utamanya bukan nilai hadiah. Ia justru mengkhawatirkan munculnya tindakan main hakim sendiri yang dapat melahirkan pelanggaran HAM baru.

Korban Juga Memiliki Hak Asasi

Dedi Mulyadi melihat persoalan ini dari sudut yang berbeda. Ia menawarkan hadiah mulai Rp5 juta hingga Rp50 juta bagi warga yang berhasil menangkap begal hidup-hidup dan menyerahkannya kepada kepolisian.

Menurut Dedi, kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam membantu aparat memberantas kejahatan jalanan.

Menanggapi kritik Pigai, Dedi lebih dulu menyampaikan apresiasi.

“Saya menyampaikan terima kasih atas otokritik dari Pak Menteri HAM, Bapak Natalius Pigai, yang mengingatkan saya jangan sampai melanggar HAM pelaku kejahatan dengan main hakim sendiri.”

Namun ia mengingatkan bahwa hak asasi manusia tidak hanya melekat pada pelaku, tetapi juga pada korban.

“Orang yang menjadi korban kejahatan ada pelanggaran HAM pada dirinya. Dia kehilangan keamanannya, dia kehilangan perlindungan dari negaranya, dia kehilangan harta kekayaannya, bahkan banyak yang kehilangan nyawanya.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan dua kepentingan yang sama-sama penting. Negara harus melindungi hak pelaku dari kekerasan, tetapi pada saat yang sama juga wajib menjamin hak korban untuk memperoleh rasa aman.

Perdebatan Sesungguhnya Ada di Balik Sayembara

Perdebatan publik sebenarnya tidak berhenti pada perbedaan pandangan Pigai dan Dedi. Pertanyaan yang jauh lebih penting justru muncul setelahnya. Mengapa masyarakat begitu antusias ketika pemerintah mengajak menangkap begal?

Jawabannya mungkin tidak hanya berkaitan dengan keberanian. Antusiasme itu juga mencerminkan kondisi psikologis masyarakat. Ketika warga merasa negara belum mampu menghadirkan rasa aman secara optimal, sebagian dari mereka terdorong mengambil peran yang seharusnya berada di tangan aparat.

Di sinilah persoalannya. Partisipasi masyarakat memang penting, tetapi negara tidak boleh kehilangan kendali atas proses penegakan hukum.

Ketika Partisipasi Berubah Menjadi Vigilantisme

Dalam kajian hukum pidana, masyarakat memang dapat membantu aparat melalui konsep community policing. Namun model tersebut tetap menempatkan polisi sebagai pengendali utama setiap tindakan hukum.

Berbeda dengan vigilantisme, yakni ketika warga mengambil alih fungsi penegakan hukum secara mandiri tanpa kontrol negara. Praktik seperti ini berpotensi melanggar hak asasi manusia sekaligus mengabaikan asas praduga tak bersalah.

Praktisi hukum pidana Suparji Ahmad berulang kali mengingatkan bahwa penegakan hukum tidak boleh berubah menjadi aksi massa. Kondisi tersebut berisiko memicu salah sasaran, mengaburkan proses hukum, dan meningkatkan kekerasan.

Pakar hukum tata negara Bivitri Susanti juga mengingatkan bahwa negara tidak boleh melepaskan fungsi-fungsi inti yang menjadi amanat konstitusi, termasuk memberikan perlindungan keamanan kepada setiap warga negara.

Mengapa Dukungan Publik Begitu Besar?

Sosiolog Musni Umar menjelaskan bahwa masyarakat cenderung menerima solusi ekstrem ketika kepercayaan terhadap efektivitas institusi mulai menurun. Semakin tinggi kecemasan terhadap kriminalitas, semakin besar pula dukungan terhadap langkah yang dianggap cepat, meskipun langkah tersebut menyimpan berbagai risiko.

Fenomena serupa juga muncul di banyak negara. Ketika rasa aman menurun, sebagian warga mulai membentuk kelompok-kelompok sipil untuk mengambil alih sebagian fungsi negara. Pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa situasi seperti itu sering memunculkan salah tangkap, kekerasan, hingga konflik horizontal.

Retakan yang Mulai Terlihat

Hadiah Rp50 juta sayembara menangkap begal mungkin bukan inti persoalannya. Yang lebih penting adalah pesan yang diterima masyarakat.

Jika publik mulai merasa keamanan menjadi tanggung jawab bersama karena negara belum cukup hadir, maka yang sedang berubah bukan sekadar cara memberantas kejahatan. Persepsi masyarakat terhadap kemampuan negara menjalankan fungsi dasarnya juga ikut berubah.

Kepercayaan publik tidak runtuh dalam semalam. Ia terkikis perlahan setiap kali masyarakat merasa harus mencari rasa aman dengan caranya sendiri.

Ketika Negara Mengajak Warga Menangkap Begal, Siapa Memegang Kendali?

Negara demokratis memang membutuhkan partisipasi masyarakat. Namun partisipasi tidak boleh menggantikan peran negara.

Warga dapat melapor, memberikan informasi, membantu penyelidikan, dan mendukung aparat keamanan. Akan tetapi, ketika negara mulai mendorong warga mengejar pelaku, menangkap mereka, bahkan mempertaruhkan nyawa demi hadiah, batas antara kolaborasi dan pelimpahan tanggung jawab menjadi sangat tipis.

Perdebatan ini pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang begal. Perdebatan ini menyentuh fondasi negara hukum siapa yang berhak menggunakan kewenangan memaksa, dan sampai di mana negara boleh melibatkan masyarakat dalam menjalankan fungsi tersebut.

Karena ketika rasa aman mulai diproduksi melalui sayembara menangkap begal, publik berhak mengajukan satu pertanyaan besar.

Apakah negara sedang memperkuat kolaborasi dengan masyarakat, atau tanpa sadar sedang mengakui bahwa kepercayaan publik terhadap kemampuan negara menjaga keamanan mulai retak?

Titik Buta yang Patut Dipikirkan

Jika keamanan mulai melibatkan warga secara lebih aktif, bagaimana negara menjaga agar partisipasi itu tetap berada dalam koridor hukum, bukan berubah menjadi aksi main hakim sendiri?.@teguh

Tags: Dedi MulyadiHak Asasi ManusiaHAMIndonesiaKeamanan PublikkriminalitasNatalius PigaiNegara HukumSayembara Tangkap BegalVigilantisme

Kamu Melewatkan Ini

Mental Feodal di Balik Seragam Kekuasaan

Mental Feodal di Balik Seragam Kekuasaan

by dimas
Juli 28, 2026

Kasus satpam di Bundaran HI mengungkap mental feodal yang masih mengakar. Saat jabatan mengalahkan martabat, demokrasi menghadapi ujian serius. Tabooo.id...

Sayembara Tangkap Begal, Solusi atau Tanda Negara Kewalahan?

Sayembara Tangkap Begal, Solusi atau Tanda Negara Kewalahan?

by dimas
Juli 28, 2026

Sayembara tangkap begal memicu perdebatan tentang efektivitas penanganan kejahatan. Benarkah ini solusi cepat, atau justru tanda negara mulai kewalahan menjamin...

Negara Hukum atau Massa? Pencuri Ayam dan Matinya Keadilan

Negara Hukum atau Massa? Pencuri Ayam dan Matinya Keadilan

by dimas
Juli 27, 2026

Tragedi tewasnya terduga pencuri ayam di Bali membuka perdebatan tentang negara hukum, praktik main hakim sendiri, dan krisis kepercayaan publik...

Next Post
SD Negeri Tanggirejo Grobogan: Ketika Sekolah Harus Viral Agar Negara Bergerak

SD Negeri Tanggirejo Grobogan: Ketika Sekolah Harus Viral Agar Negara Bergerak

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id