Ratusan mahasiswa HMI menggelar aksi yang sempat ricuh di Balai Kota Yogyakarta untuk memprotes krisis sampah. Massa mendesak Pemkot menghadirkan solusi nyata dan tata kelola yang lebih efektif.
Tabooo.id: Yogyakarta – Krisis sampah kembali menempatkan Pemerintah Kota Yogyakarta di bawah sorotan publik. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menggelar demonstrasi di depan Balai Kota Yogyakarta, Selasa (28/7/2026). Mereka menilai pemerintah gagal mengakhiri persoalan sampah yang terus berulang. Bagi HMI, kondisi itu mencerminkan lemahnya tata kelola kota sekaligus rendahnya efektivitas kepemimpinan pemerintah daerah.
Massa mulai berkumpul sekitar pukul 15.35 WIB di pintu masuk Balai Kota. Mereka membawa poster, membentangkan spanduk, dan menyuarakan kritik terhadap pemerintah yang belum mampu mengakhiri krisis sampah.
Salah seorang orator menegaskan bahwa Yogyakarta menghadapi persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar tumpukan sampah.
“Darurat sampah permanen, gentrifikasi ruang, dan pemiskinan struktural membuktikan bahwa pemerintahan kota telah mengalami kegagalan kategorikal dan kelumpuhan kepemimpinan yang akut,” tegasnya.
Melalui pernyataan itu, HMI tidak hanya mengkritik pengelolaan sampah. Organisasi tersebut juga mempertanyakan arah pembangunan Kota Yogyakarta yang mereka nilai semakin menjauh dari kepentingan masyarakat.
Aksi Memanas Saat Massa Hendak Membakar Ban
Ketegangan muncul ketika sejumlah demonstran berusaha membakar ban di depan pagar Balai Kota sebagai simbol protes.
Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersama aparat kepolisian segera menghentikan upaya tersebut. Mereka langsung memadamkan api menggunakan alat pemadam api ringan (APAR).
Serbuk APAR menyembur ke arah kerumunan demonstran. Kondisi itu memancing emosi massa hingga mereka terlibat aksi saling dorong dengan aparat keamanan.
Kedua pihak akhirnya menahan diri sehingga situasi kembali kondusif dan demonstrasi dapat berlanjut.
Mahasiswa Desak Kejelasan Biaya Pengangkutan Sampah
Sekitar pukul 16.30 WIB, Pemerintah Kota Yogyakarta mengundang perwakilan HMI untuk berdialog di halaman Balai Kota. Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo memimpin langsung pertemuan tersebut.
Dalam dialog itu, mahasiswa mempertanyakan alasan warga masih harus menanggung biaya pengangkutan sampah.
Hasto menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Yogyakarta tidak memungut biaya tersebut. Menurutnya, warga bersama pengurus RT dan RW menentukan besaran iuran melalui musyawarah di lingkungan masing-masing.
“Pak RW rapat dengan warga di lingkungan masing-masing untuk menyelesaikan sampah, agar sampah di rumah-rumah diambil,” ujar Hasto.
Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah kota hanya menyediakan sarana pendukung, seperti gerobak dan perlengkapan pengangkutan.
“Saya bilang kepada lurah jangan mengintervensi dan jangan ada serupiah pun uang yang masuk ke pemerintah. Tetap itu hanya dikelola di tingkat warga masyarakat sesuai keikhlasan dan kerelaan mereka masing-masing,” katanya.
Menurut Hasto, warga sepenuhnya mengelola dana iuran tersebut tanpa campur tangan pemerintah kota.
Krisis Sampah Belum Menemukan Jalan Keluar
Dialog itu memang meredakan ketegangan di depan Balai Kota. Namun, dialog tersebut belum menjawab seluruh kritik yang disampaikan mahasiswa.
Aksi HMI kembali memperlihatkan bahwa Yogyakarta masih menghadapi persoalan mendasar dalam pengelolaan sampah. Publik masih menunggu kepastian mengenai efektivitas tata kelola, pembagian tanggung jawab antara pemerintah dan masyarakat, serta kualitas pelayanan pengangkutan dan pengolahan sampah.
Bagi warga, sampah kini bukan lagi sekadar persoalan kebersihan lingkungan. Persoalan itu mencerminkan kemampuan pemerintah menjaga kualitas pelayanan publik sekaligus membangun kepercayaan masyarakat.
Selama pemerintah belum menghadirkan sistem pengangkutan, pengolahan, dan pembiayaan sampah yang mampu menjawab keluhan warga, kritik akan terus bermunculan. Kota yang nyaman tidak hanya mengandalkan citra pariwisatanya, tetapi juga membuktikan kemampuannya mengelola persoalan paling mendasar yang muncul setiap hari sampah. @dimas







