Aksi Massa bukan buku yang memuja ledakan amarah atau keberanian segelintir orang. Tan Malaka justru membongkar satu kenyataan keras, bahwa perubahan tidak lahir dari aksi nekat, tetapi dari rakyat yang sadar, terorganisasi, dan bergerak bersama.
Tabooo.id – Ada masa ketika kemarahan dianggap cukup untuk mengubah keadaan. Orang berteriak. Kelompok kecil bergerak diam-diam. Seseorang tampil sebagai pahlawan. Lalu, semua berharap kekuasaan runtuh dalam semalam.
Tan Malaka tidak mempercayai khayalan semacam itu.
Melalui Aksi Massa, ia justru membongkar romantisme pemberontakan spontan. Menurutnya, kemerdekaan tidak lahir dari keberanian segelintir orang. Kemerdekaan membutuhkan kesadaran, organisasi, kepentingan bersama, dan rakyat yang benar-benar bergerak.
Buku Ini Bukan Kisah Kepahlawanan
Aksi Massa bukan buku yang mengajak pembaca duduk nyaman sambil mengenang perjuangan nasional.
Tan Malaka menulisnya seperti seseorang yang sedang mengejar waktu. Ia melihat kolonialisme bukan sekadar kekuasaan asing. Baginya, kolonialisme merupakan sistem ekonomi, politik, dan sosial yang mengatur siapa bekerja, siapa menikmati hasil, serta siapa tetap miskin.
Karena itu, buku ini tidak dimulai dengan kisah kepahlawanan. Tan Malaka memulainya dengan struktur kekuasaan.
Ia melihat bankir, industrialis, dan saudagar berada di Belanda. Sementara itu, buruh dan tani hidup di Indonesia. Kekayaan bergerak ke pusat kekuasaan, sedangkan kemelaratan tertinggal di tanah jajahan.
Dari sini, pertanyaannya menjadi lebih tajam.
Bagaimana rakyat bisa merdeka jika alat ekonomi, pendidikan, politik, dan produksi tidak berada di tangan mereka?
Tan Malaka Tidak Melihat Revolusi sebagai Ledakan Emosi
Kata “revolusi” sering membawa gambaran dramatis.
Ada massa di jalan, ada teriakan, lalu terjadi bentrokan. Kemudian, kekuasaan tumbang.
Namun, Tan Malaka memulai dari tempat berbeda. Ia menolak gagasan bahwa revolusi lahir atas perintah seorang manusia luar biasa.
Menurutnya, revolusi tumbuh dari pertentangan dalam masyarakat. Ketimpangan ekonomi, penindasan politik, konflik sosial, dan tekanan psikologis terus menumpuk. Pada titik tertentu, semuanya menciptakan kondisi yang tidak lagi dapat dipertahankan.
Dengan kata lain, revolusi bukan sulap.
Ia tidak muncul karena seorang pemimpin merasa waktunya sudah tepat. Revolusi muncul ketika struktur lama tidak lagi mampu menahan konflik yang diciptakannya sendiri.
Tan Malaka kemudian menulis kalimat paling pendek sekaligus paling besar dalam bagian tersebut:
“Revolusi adalah mencipta!”
Kalimat itu penting. Sebab, ia tidak memandang revolusi hanya sebagai penghancuran. Revolusi harus menghasilkan tatanan baru. Tanpa penciptaan, keruntuhan hanya melahirkan kekosongan.
Penjajahan Tidak Hanya Mengambil Tanah
Salah satu kekuatan Aksi Massa terletak pada cara Tan Malaka membaca imperialisme.
Ia tidak berhenti pada pendudukan wilayah. Ia melihat bagaimana penjajahan mengubah struktur ekonomi sebuah bangsa.
Menurutnya, kapitalisme di Indonesia tidak tumbuh dari kebutuhan masyarakat Indonesia. Sistem itu datang sebagai cangkokan dari Eropa. Ia berkembang untuk kepentingan asing, bukan untuk membangun ekonomi rakyat.
Desa menghasilkan gula, karet, teh, minyak, dan komoditas lain. Namun, keuntungan utama mengalir keluar. Sementara itu, rakyat menghadapi pajak, upah rendah, kehilangan tanah, dan akses pendidikan yang terbatas.
Indonesia menghasilkan kekayaan, tetapi rakyatnya tidak menguasai hasil produksi.
Pola itu membuat kemerdekaan politik tidak bisa dipisahkan dari kemerdekaan ekonomi. Mengganti penguasa tanpa mengubah struktur kepemilikan hanya memindahkan kursi. Sistemnya tetap duduk nyaman.
Jadi, permasalahannya bukan sekadar siapa yang memerintah. Namun, siapa yang tetap menguasai hidup orang banyak setelah bendera berganti.
Ketika Kemiskinan Bukan Kecelakaan
Tan Malaka menulis panjang tentang kemelaratan rakyat.
Ia membahas upah buruh, pajak, pengangguran, kondisi tempat tinggal, pendidikan, serta kerja kontrak. Beberapa angka dalam buku tentu berasal dari situasi 1920-an. Karena itu, pembaca harus melihatnya dalam konteks zamannya.
Namun, cara berpikirnya tetap penting.
Tan Malaka tidak membaca kemiskinan sebagai kegagalan pribadi. Ia melihat kemiskinan sebagai hasil dari susunan ekonomi.
Buruh tidak miskin karena kurang rajin. Petani tidak kehilangan tanah karena kurang pintar. Rakyat tidak tetap bodoh karena malas belajar.
Ada kebijakan yang membuat akses pendidikan sempit. Ada sistem kerja yang menjaga upah tetap rendah. Selain itu, ada kekuasaan yang lebih rajin mencatat pajak daripada kehidupan rakyat.
Di sinilah Aksi Massa terasa lebih dari sekadar pamflet politik.
Buku ini memaksa pembaca melihat bahwa penderitaan sosial sering kali bukan kekacauan. Justru, penderitaan bisa menjadi hasil dari sistem yang bekerja sangat teratur.
Sistem itu tidak gagal.
Ia berhasil menguntungkan pihak yang memang dirancang untuk diuntungkan.
Membongkar Romantisme, Lalu Terjebak Generalisasi
Tan Malaka tidak hanya menyerang kolonialisme Belanda. Ia juga mengkritik sejarah feodal, kerajaan, agama, dan romantisme masa lalu.
Ia menolak kebanggaan kosong terhadap kejayaan kerajaan. Baginya, bangunan megah dan kebesaran raja tidak otomatis membuktikan kemerdekaan rakyat.
Tan Malaka bahkan mempertanyakan apakah rakyat pernah menjadi pemilik politik dalam kerajaan-kerajaan tersebut. Menurutnya, sejarah yang hanya memuja istana akan menghapus kehidupan mereka yang bekerja di bawahnya.
Kritik ini masih relevan. Kita memang sering membaca sejarah melalui nama raja, perang, dan bangunan. Sementara itu, petani, buruh, perempuan, serta masyarakat biasa menghilang dari cerita.
Namun, bagian ini juga menunjukkan titik lemah Tan Malaka.
Ia kerap menarik kesimpulan sangat besar dari bahan sejarah yang terbatas. Ia menilai tradisi, agama, kebatinan, dan kerajaan melalui kerangka materialisme yang keras. Akibatnya, pengalaman budaya yang kompleks terkadang menyusut menjadi alat kelas atau pengaruh asing.
Beberapa penilaiannya tentang masyarakat, etnis, agama, dan kebudayaan juga memakai bahasa yang terasa kasar hari ini. Bahkan, sebagian generalisasinya perlu diuji ulang dengan penelitian sejarah yang lebih mutakhir.
Tan Malaka berani membongkar romantisme. Namun, keberanian membongkar tidak otomatis membuat semua kesimpulannya benar.
Tokoh besar tetap memiliki titik buta.
Parlementer Boleh Dimasuki, tetapi Jangan Disembah
Tan Malaka menunjukkan sikap menarik terhadap lembaga perwakilan kolonial.
Ia tidak sekadar berkata bahwa parlemen harus selalu ditolak. Menurutnya, ruang parlementer dapat dimasuki untuk menyuarakan kepentingan rakyat, memperluas pendidikan politik, dan membuka topeng kekuasaan.
Namun, ia menolak anggapan bahwa kemerdekaan penuh akan diberikan melalui kerja sama manis dengan imperialisme.
Dalam pandangannya, Dewan Rakyat kolonial tidak memiliki kekuasaan sejati. Mereka tidak berdiri di atas mandat rakyat yang bebas. Karena itu, lembaga tersebut tidak bisa menjadi jalan utama menuju pembebasan.
Posisi Tan Malaka cukup jelas.
Gunakan ruang politik yang tersedia. Namun, jangan keliru menganggap ruang yang diberikan penguasa sebagai sumber kedaulatan rakyat.
Hak politik tidak turun seperti hadiah. Melainkan, biasanya lahir karena tekanan dari bawah.
Keberanian Segelintir Orang Tidak Cukup
Bagian paling penting dari buku ini muncul ketika Tan Malaka membedakan aksi massa dari putch.
Putch merujuk pada gerakan sekelompok kecil yang bergerak diam-diam. Mereka menyusun rencana sendiri, menentukan waktu sendiri, lalu bertindak tanpa hubungan kuat dengan rakyat.
Kelompok semacam itu merasa keberaniannya dapat menggantikan kesiapan masyarakat.
Tan Malaka menolaknya.
Menurutnya, kelompok kecil sering membangun gambaran tentang massa di dalam kepala mereka sendiri. Mereka tidak memahami kebutuhan nyata rakyat. Namun, mereka tetap mengira rakyat akan bangkit saat aksi dimulai.
Ketika dukungan tidak muncul, mereka menyalahkan massa.
Padahal, sejak awal mereka tidak pernah membangun hubungan dengan massa.
Tan Malaka menyebut keyakinan bahwa kemerdekaan dapat tercapai melalui putch atau anarkisme sebagai impian orang yang sedang demam. Baginya, tindakan mendadak yang memisahkan diri dari rakyat justru memudahkan lawan menghancurkan gerakan.
Kritik ini menghantam salah satu penyakit politik yang terus berulang: kegemaran memuja tindakan spektakuler.
Keberanian satu orang memang mudah memukau. Kisah rahasia juga selalu terdengar lebih dramatis. Karena itu, kita sering berharap perubahan datang hanya dalam semalam.
Namun, Tan Malaka mengingatkan bahwa sejarah tidak bergerak seperti film laga. Gerakan yang tidak memiliki rakyat hanya memiliki adegan.
Aksi Massa Bukan Amuk Massa
Istilah “aksi massa” bisa terdengar seperti ajakan menuju kekacauan.
Namun, buku ini justru menekankan keteraturan.
Tan Malaka memahami aksi massa sebagai gerakan rakyat yang lahir dari kebutuhan ekonomi dan politik. Bentuknya dapat berupa pemogokan, pemboikotan, demonstrasi, penolakan kerja sama, serta tekanan kolektif lainnya.
Jadi, aksi massa bukan kumpulan orang yang kehilangan kendali.
Ia membutuhkan tuntutan jelas. Selain itu, gerakan harus memiliki organisasi, strategi, disiplin, serta hubungan nyata dengan kehidupan rakyat.
Tan Malaka bahkan menilai demonstrasi tanpa kekerasan dapat memiliki dampak moral dan politik yang sangat besar. Ia membayangkan jutaan buruh menghentikan pekerjaan dan rakyat memenuhi jalan tanpa melempar sebutir kerikil.
Kekuatan mereka bukan berasal dari kerusuhan.
Kekuatan itu lahir karena sistem tidak dapat berjalan tanpa partisipasi mereka.
Mogok menolak penjualan tenaga. Boikot menolak kerja sama ekonomi. Sementara itu, demonstrasi mengumumkan tuntutan kepada ruang publik. Tan Malaka melihat ketiganya sebagai hak dasar yang menopang perjuangan rakyat.
Ini membalik pemahaman umum tentang kekuasaan.
Penguasa terlihat kuat karena memiliki kantor, aparat, hukum, dan senjata. Namun, masyarakatlah yang menjalankan pelabuhan, kereta, perkebunan, pasar, sekolah, dan produksi.
Ketika partisipasi itu berhenti secara serentak, kekuasaan mulai melihat batasnya sendiri.
Gerakan Tidak Cukup Dibangun dari Emosi
Tan Malaka berkali-kali menekankan pentingnya partai dan organisasi.
Namun, organisasi yang ia maksud bukan papan nama, kantor, atau kumpulan elite.
Organisasi harus memiliki hubungan nyata dengan massa. Ia perlu mendidik anggota, membaca keadaan, mengembangkan disiplin, serta menerjemahkan kebutuhan rakyat menjadi tuntutan politik.
Pemimpin juga tidak cukup hanya berani.
Tan Malaka meminta pemimpin yang cerdas, sabar, tangkas, dan mampu membaca perubahan. Pemimpin harus mengetahui kondisi ekonomi, psikologi massa, serta kekuatan yang benar-benar tersedia.
Ia tidak boleh membangun strategi berdasarkan lamunan.
Karena itu, semboyan juga tidak bisa berdiri sendiri. Slogan harus terhubung dengan upah, pajak, tanah, jam kerja, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari.
Rakyat tidak bergerak hanya karena seseorang meneriakkan cita-cita besar.
Mereka bergerak ketika cita-cita itu menyentuh kenyataan yang mereka hadapi.
Sebuah partai revolusioner, menurut Tan Malaka, hanya dapat memimpin jika organisasi internalnya berjalan baik dan hubungannya dengan rakyat tetap hidup. Tanpa hubungan itu, kepemimpinan revolusioner tidak akan terbentuk.
Bebas Berdebat, Wajib Bergerak Bersama
Pemikiran Tan Malaka tentang organisasi menyimpan ketegangan menarik.
Di satu sisi, ia menuntut demokrasi internal. Setiap anggota harus bebas berbicara, mengajukan pendapat, dan mempertahankan keyakinannya.
Namun, setelah organisasi mengambil keputusan, seluruh anggota harus menjalankannya.
Ia bahkan menilai keputusan yang tidak sempurna tetapi dijalankan bersama lebih baik daripada keputusan hebat yang dikhianati separuh anggota.
Gagasan ini menunjukkan bahwa Tan Malaka tidak menyamakan demokrasi dengan kebebasan tanpa batas.
Bagi dia, demokrasi berlangsung ketika organisasi mempertimbangkan keputusan. Setelah itu, disiplin menjaga agar keputusan tidak mati sebagai dokumen.
Tentu saja, model tersebut juga menyimpan risiko.
Disiplin dapat berubah menjadi penyeragaman. Kepemimpinan bisa menjadi otoriter. Sementara itu, klaim tentang kepentingan massa dapat dipakai untuk membungkam perbedaan.
Karena itu, bagian ini tidak boleh dibaca sebagai resep yang otomatis benar.
Namun, Tan Malaka memberi pertanyaan penting: apa gunanya organisasi yang bebas berdebat, tetapi tidak pernah mampu bergerak?
Elite Terdidik Tidak Otomatis Memahami Rakyat
Tan Malaka sangat keras terhadap kaum intelektual.
Menurutnya, kaum terpelajar Indonesia pada masa kolonial berdiri terlalu jauh dari rakyat. Mereka memahami teori, tetapi tidak selalu memahami kehidupan buruh dan tani.
Sebagian menjadikan kemerdekaan sebagai perdebatan akademik. Mereka berbicara tentang bangsa, budaya, dan politik. Namun, rakyat tetap menunggu perubahan nyata.
Tan Malaka tidak menolak kecerdasan.
Ia menolak kecerdasan yang tidak turun dari kamar belajar.
Menurutnya, persetujuan moral tidak cukup. Rakyat membutuhkan tindakan, bukti, organisasi, dan keberpihakan yang nyata.
Kritik tersebut terasa dekat dengan zaman sekarang.
Hari ini, orang bisa membicarakan ketidakadilan dari ruang berpendingin. Mereka membuat seminar, unggahan, utas, podcast, dan pernyataan sikap.
Semua terlihat kritis.
Namun, pertanyaannya tetap sama: apakah pembicaraan itu terhubung dengan mereka yang hidup di dalam masalah?
Atau penderitaan rakyat hanya menjadi bahan agar pembicara terlihat sadar?
Gerakan Tidak Mati karena Kekurangan Konten
Membaca Aksi Massa hari ini membawa kita pada satu kontras besar.
Kita hidup di zaman yang sangat mudah mengumpulkan perhatian. Sebuah tagar dapat menyebar dalam hitungan menit. Video pendek bisa membangkitkan kemarahan jutaan orang.
Namun, perhatian tidak otomatis menjadi kekuatan.
Orang bisa marah bersama tanpa mengenal satu sama lain. Mereka bisa membagikan tuntutan tanpa memiliki organisasi. Setelah isu baru muncul, kemarahan lama menghilang.
Di sinilah peringatan Tan Malaka terasa tajam.
Massa bukan sekadar jumlah penonton. Massa menjadi kekuatan ketika memiliki kepentingan bersama, kesadaran, hubungan, strategi, dan kemampuan untuk bertindak.
Viralitas hanya memberi sorotan.
Organisasi menentukan apakah sorotan itu menghasilkan tekanan atau sekadar panas yang segera padam.
Banyak gerakan hari ini tidak kalah karena kurang dukungan. Mereka kalah karena dukungan tidak pernah diubah menjadi struktur.
Identitas Buku

Judul: Aksi Massa
Penulis: Tan Malaka
Tahun penulisan: 1926
Tempat penulisan: Singapura
Fokus utama: imperialisme, kapitalisme kolonial, revolusi, organisasi politik, dan aksi massa
Kagumi Gagasannya, Uji Kesimpulannya
Aksi Massa memiliki kekuatan besar pada ketegasan analisisnya.
Tan Malaka menghubungkan ekonomi, politik, pendidikan, sejarah, dan organisasi dalam satu bangunan gagasan. Ia menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak bisa berdiri hanya sebagai slogan kebangsaan.
Ia juga menolak kultus pahlawan. Selain itu, ia membedakan gerakan rakyat dari tindakan nekat kelompok kecil.
Namun, pembaca tetap perlu menjaga jarak kritis.
Buku ini lahir dari situasi kolonial 1926. Bahasa, kategori sosial, data, dan prediksi politiknya membawa keterbatasan zaman tersebut.
Tan Malaka juga menggunakan kerangka pertentangan kelas secara sangat dominan. Akibatnya, agama, budaya, identitas, dan pengalaman manusia kadang terlihat hanya sebagai lapisan dari konflik ekonomi.
Beberapa analisis sejarahnya terdengar terlalu pasti. Padahal, sejarah bergerak melalui faktor yang lebih rumit daripada satu garis sebab-akibat.
Selain itu, gagasannya tentang revolusi, kediktatoran kelas, dan penggunaan kekuasaan perlu dibaca secara kritis. Pembebasan dapat berubah menjadi penindasan baru ketika organisasi menganggap dirinya satu-satunya suara rakyat.
Karena itu, membaca Tan Malaka bukan berarti menyetujui seluruh Tan Malaka.
Membaca secara serius justru berarti berani menguji bagian yang paling kita kagumi.
Bukan Hanya Tentang Sejarah
Aksi Massa mengajarkan satu perbedaan yang sering hilang: perbedaan antara merasa peduli dan membangun perubahan.
Kamu bisa menyetujui sebuah isu. Namun, persetujuan belum menjadi tindakan.
Kamu bisa marah pada ketidakadilan. Namun, kemarahan belum menjadi strategi.
Kamu bisa ikut menyebarkan seruan. Namun, seruan belum menjadi organisasi.
Buku ini memaksa kamu bertanya apakah tindakanmu berhubungan dengan kebutuhan nyata. Sudahkah kamu memahami orang yang sedang diperjuangkan? Sejelas apa tuntutan yang dibawa? Lalu, ke mana gerakan itu melangkah setelah perhatian publik menghilang?
Pertanyaan itu berlaku di luar politik. Ia berlaku dalam komunitas, organisasi, tempat kerja, gerakan budaya, bahkan bisnis.
Ide besar tidak kekurangan penggemar. Ide besar sering kekurangan orang yang mau membangun sistem agar ide tersebut dapat bekerja.
Bukan Sekadar Buku tentang Revolusi
Aksi Massa memang berbicara tentang imperialisme, perjuangan kelas, partai, pemogokan, boikot, dan revolusi.
Namun, inti terdalamnya bukan sekadar pergantian kekuasaan.
Buku ini berbicara tentang cara kekuatan kolektif dibangun.
Tan Malaka menolak perubahan yang bergantung pada pahlawan tunggal. Ia juga menolak keberanian yang tidak memiliki pengetahuan dan organisasi.
Baginya, rakyat tidak boleh hanya menjadi latar belakang dalam cerita perjuangan. Rakyat harus menjadi pelaku utama.
Karena itu, judul Aksi Massa tidak berarti massa yang disuruh bergerak oleh elite.
Ia berarti gerakan yang berasal dari kebutuhan massa, dibangun bersama massa, dan dijalankan untuk kepentingan massa.
Penutup Buku Bukan Akhir Perdebatan
Hampir satu abad telah berlalu sejak Tan Malaka menulis buku ini.
Kolonialisme formal telah berakhir. Bendera sudah berubah. Lembaga politik berdiri. Pemilihan berlangsung. Ruang bicara terbuka jauh lebih luas.
Namun, pertanyaan tentang kekuasaan belum selesai.
Siapa yang sebenarnya menguasai ekonomi? Pihak mana yang menentukan arah kebijakan? Lalu, siapa yang merasa berhak berbicara atas nama rakyat? Lalu, seberapa dekat mereka dengan kehidupan rakyat sebenarnya?
Tan Malaka mungkin tidak memberi semua jawaban yang kita butuhkan hari ini. Namun, ia meninggalkan satu peringatan yang sulit diabaikan.
Perubahan tidak lahir hanya karena banyak orang marah. Perubahan lahir ketika kemarahan menemukan pengetahuan, organisasi, disiplin, dan tujuan bersama.
Tanpa itu, massa hanya menjadi penonton. Dan elite akan kembali menulis akhir ceritanya. @tabooo







