Rabu, Juli 29, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mental Feodal di Balik Seragam Kekuasaan

by dimas
Juli 28, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Kasus satpam di Bundaran HI mengungkap mental feodal yang masih mengakar. Saat jabatan mengalahkan martabat, demokrasi menghadapi ujian serius.

Tabooo.id – Jakarta tidak sedang menyaksikan pertengkaran biasa pada siang itu. Di tengah hiruk-pikuk Bundaran Hotel Indonesia, seorang petugas keamanan yang sedang menjalankan tugas justru kehilangan martabatnya di ruang publik.

Kesalahannya sederhana. Ia menegur sebuah mobil mewah yang menerobos lampu merah.

Alih-alih menghormati teguran tersebut, penumpang mobil justru memaksanya melakukan push up. Mereka kemudian menyuruhnya berbaring sambil mengangkat kedua kaki seperti sedang mengayuh sepeda. Semua berlangsung di depan banyak orang, seolah harga diri seseorang dapat dijadikan tontonan.

Polisi kemudian mengungkap bahwa tiga penumpang mobil tersebut merupakan anggota Kepolisian Daerah Jawa Barat.

Proses mediasi memang telah berlangsung. Para pihak juga telah menyampaikan permintaan maaf, sementara pemeriksaan etik masih berjalan.

Ini Belum Selesai

Kota Wisata, Tapi Sampah Masih Jadi Musuh Utama

Makan Bergizi Gratis, Tapi Higienisnya Belum Gratis dari Masalah

Meski demikian, persoalan yang muncul jauh melampaui penyelesaian administratif.

Mengapa masih ada orang yang merasa berhak merendahkan orang lain hanya karena menganggap dirinya lebih berkuasa?

Pertanyaan itu membawa kita pada satu penyakit lama yang belum benar-benar sembuh feodalisme.

Kerajaan Memang Runtuh, Mental Kerajaannya Tidak

Indonesia sudah lama meninggalkan sistem kerajaan sebagai fondasi politik negara. Konstitusi bahkan menegaskan bahwa seluruh warga memiliki kedudukan yang sama di depan hukum.

Sayangnya, perubahan sistem tidak otomatis mengubah cara berpikir.

Feodalisme memang kehilangan bentuk resminya sebagai sistem pemerintahan. Akan tetapi, budaya yang menopangnya tetap bertahan.

Jika dahulu masyarakat menghormati seseorang karena darah biru, kini penghormatan sering muncul karena pangkat, jabatan, kekayaan, akses, atau kendaraan yang dimiliki.

Mahkota berubah menjadi seragam.

Singgasana berganti kursi birokrasi.

Benteng kerajaan menjelma pagar institusi.

Sementara itu, rakyat tetap dituntut tahu diri.

Ironisnya, demokrasi sering hanya mengganti dekorasi, bukan mengubah isi panggung.

Privilege Adalah Nama Baru Feodalisme

Istilah privilege terdengar modern.

Namun maknanya tidak selalu baru.

Dalam banyak kasus di Indonesia, privilege hanya menjadi wajah baru feodalisme yang menyesuaikan diri dengan zaman.

Mentalitas itu tidak lagi membutuhkan gelar bangsawan.

Seseorang cukup memiliki jabatan.

Relasi.

Akses.

Atau simbol kekuasaan.

Dari sanalah lahir keyakinan bahwa aturan berlaku bagi semua orang, kecuali dirinya sendiri.

Cara berpikir seperti inilah yang mengubah pelanggaran lalu lintas menjadi pertunjukan superioritas.

Yang dipamerkan bukan sekadar siapa yang benar atau salah.

Melainkan siapa yang merasa paling berhak menentukan siapa yang harus tunduk.

Padahal, negara hukum menempatkan aturan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, bukan ego individu.

Demokrasi Kita Masih Terjebak dalam Budaya Tuan dan Hamba

Indonesia sesungguhnya tidak lagi kekurangan institusi demokrasi.

Pemilu berlangsung secara berkala.

DPR menjalankan fungsi legislasi.

Mahkamah Konstitusi berdiri.

Pengadilan bekerja.

Lembaga pengawas juga tersedia.

Akan tetapi, demokrasi tidak hidup hanya karena keberadaan lembaga negara.

Demokrasi tumbuh melalui budaya yang menghargai kesetaraan.

Persoalannya, masyarakat masih mewarisi budaya hierarki.

Persoalannya, masyarakat masih mewarisi budaya hierarkis yang memelihara rasa sungkan, menormalisasi ketakutan, mengagungkan jabatan, dan merawat mentalitas “asal bapak senang” sebagai cara paling aman bertahan di dekat kekuasaan.

Akibatnya, banyak orang membangun relasi berdasarkan posisi sosial, bukan berdasarkan martabat yang setara.

Mereka lebih dulu melihat siapa yang berpangkat.

Siapa yang kaya.

Siapa yang dekat dengan kekuasaan.

Dalam situasi seperti itu, kritik mudah dianggap pembangkangan.

Teguran berubah menjadi penghinaan.

Ketaatan kepada hukum pun bergeser menjadi kepatuhan kepada orang yang lebih kuat.

Yang Berbahaya Bukan Pelanggaran, Tetapi Normalisasinya

Kasus satpam Bundaran HI mungkin selesai hanya dalam hitungan hari.

Sayangnya, pola seperti ini terus muncul dari waktu ke waktu.

Publik berulang kali menyaksikan pejabat bersikap arogan.

Konvoi kendaraan memaksa pengguna jalan lain menepi.

Pengawalan berlangsung secara berlebihan.

Penegak hukum memperlakukan pelanggar secara berbeda.

Petugas pelayanan mendadak ramah ketika berhadapan dengan pemilik mobil mewah.

Sebaliknya, mereka bersikap dingin kepada warga biasa.

Rangkaian peristiwa itu mengirim pesan yang berbahaya.

Hukum seolah masih mengenal kelas sosial.

Kesetaraan tampak indah di buku Pendidikan Kewarganegaraan, tetapi tidak selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika masyarakat terus-menerus menyaksikan pola yang sama, mereka perlahan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.

Di titik itulah feodalisme berubah menjadi budaya.

Habitus Dominasi yang Tidak Pernah Putus

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu memperkenalkan konsep habitus, yakni pola pikir dan perilaku yang terus diwariskan melalui lingkungan sosial.

Indonesia memiliki sejarah panjang kerajaan, kolonialisme, dan birokrasi yang sangat hierarkis.

Republik memang lahir, tetapi warisan budaya tersebut tidak ikut menghilang.

Ia hanya menemukan bentuk baru.

Jika dahulu rakyat membungkuk kepada raja, kini banyak orang membungkuk kepada jabatan.

Kalau dulu garis keturunan menentukan penghormatan, sekarang akses terhadap kekuasaan sering memainkan peran yang sama.

Perubahan sistem politik ternyata belum mampu mengubah alam bawah sadar masyarakat.

Ketika Aparat Ikut Terjangkit Mental Feodal

Kasus ini terasa lebih serius karena melibatkan aparat negara.

Polisi tidak hanya menjalankan fungsi penegakan hukum.

Mereka juga mewakili wajah negara di hadapan masyarakat.

Karena itu, ketika aparat menunjukkan sikap superior kepada warga sipil, yang dipertaruhkan bukan sekadar citra institusi.

Legitimasi negara ikut berada dalam sorotan.

Masyarakat pun akan bertanya:

Apakah hukum benar-benar berdiri untuk semua?

Ataukah hukum hanya tampak tegas ketika berhadapan dengan mereka yang tidak memiliki kuasa?

Kepercayaan publik tidak runtuh karena satu peristiwa.

Ia runtuh ketika pola yang sama terus berulang tanpa pembelajaran.

Yang Perlu Direformasi Bukan Hanya Institusi, Tetapi Mentalitas Kekuasaan

Selama ini reformasi lebih banyak berfokus pada regulasi.

Undang-undang terus diperbarui.

Struktur kelembagaan dibenahi.

Mekanisme pengawasan diperkuat.

Semua langkah tersebut memang penting.

Namun pengalaman menunjukkan bahwa aturan sehebat apa pun tidak akan bekerja apabila para pelaksananya masih menempatkan diri di atas hukum.

Demokrasi bukan sekadar memilih pemimpin setiap lima tahun.

Demokrasi menuntut kesediaan mengakui bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama.

Satpam.

Pedagang kaki lima.

Menteri.

Jenderal.

Mahasiswa.

Presiden.

Di hadapan hukum, semuanya tetap warga negara.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Ini Bukan Sekadar Kasus Satpam. Ini Alarm Demokrasi

Peristiwa di Bundaran HI bukan hanya kisah tentang seorang satpam yang kehilangan martabat.

Kasus tersebut memperlihatkan bahwa republik ini masih menyimpan sisa-sisa feodalisme di ruang-ruang yang seharusnya sudah dibersihkan sejak lama.

Selama masyarakat memandang jabatan sebagai hak untuk dihormati, bukan amanah untuk melayani, demokrasi hanya akan berhenti sebagai prosedur administratif.

Ia tidak pernah tumbuh menjadi kebudayaan.

Mentalitas “raja kecil” akan terus hidup selama seseorang merasa seragam, pangkat, atau kendaraan mewah memberinya hak untuk memperlakukan orang lain secara semena-mena.

Kerajaan memang telah bubar.

Namun mental para bangsawannya masih berkeliaran di jalan raya. @dimas

Tags: DemokrasiFeodalismekekuasaanMental FeodalNegara Hukum

Kamu Melewatkan Ini

Londo Ireng: Ketika Sejarah Menjadi Senjata Politik

Londo Ireng: Ketika Sejarah Menjadi Senjata Politik

by eko
Juli 28, 2026

Istilah Londo Ireng kembali viral setelah disebut Presiden Prabowo Subianto. Di balik polemiknya, tersimpan sejarah panjang tentang tentara Afrika di...

Londo Ireng dan Demokrasi: Saat Kritik Mulai Dipandang sebagai Ancaman

Londo Ireng dan Demokrasi: Saat Kritik Mulai Dipandang sebagai Ancaman

by eko
Juli 28, 2026

Ucapan Presiden Prabowo yang menyebut wartawan "Londo Ireng" memicu aksi protes jurnalis di Solo. Peristiwa ini memunculkan perdebatan tentang kebebasan...

‘Jurnalis Bukan Londo Ireng’, Insan Pers Solo Gelar Aksi Bela Kebebasan Pers

“Jurnalis Bukan Londo Ireng”, Insan Pers Solo Gelar Aksi Bela Kebebasan Pers

by jeje
Juli 28, 2026

Puluhan jurnalis dari berbagai organisasi profesi di Solo Raya turun ke jalan, Selasa (28/7/2026). Mereka menuntut Presiden Prabowo Subianto meminta...

Next Post
Nelayan Kecil Kehilangan Solar, Kapal Besar Dapat BBM Murah

Nelayan Kecil Kehilangan Solar, Kapal Besar Dapat BBM Murah

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id