Ketika Gelap Memadamkan Lampu, Harapan Warga Meratus Ikut Meredup. Bukan karena warga Desa Juhu memilih beristirahat lebih awal, melainkan karena gelap kembali menguasai desa setelah Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) rusak diterjang banjir.
Tabooo.id – Senja di Desa Juhu, Kecamatan Batang Alai Timur, bukan lagi penanda hari yang tenang. Begitu matahari menghilang di balik Pegunungan Meratus, kehidupan warga ikut berhenti. Bukan karena mereka ingin beristirahat lebih awal, tetapi karena listrik yang dulu menerangi kampung telah padam setelah Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) rusak diterjang banjir.
Ketika Senja Berarti Hari Harus Berakhir
Di sebuah rumah sederhana, Mulyadi memotret ibunya yang menyalakan lampu templok berbahan bakar minyak tanah. Cahaya kecil itu kini menjadi satu-satunya penerangan keluarga mereka.
“Ya guringan ay (tidur saja) lagi kami kalau sudah malam bang,” katanya.
Bagi warga Desa Juhu, malam bukan lagi waktu untuk berkegiatan. Anak-anak berhenti belajar lebih cepat, sementara orang dewasa memilih beristirahat karena gelap membatasi hampir semua aktivitas.
Malam yang Dulu Penuh Tawa, Kini Tinggal Sunyi
Rahmi Lawati mengenang masa ketika listrik masih menyala. Seusai bekerja di huma dan ladang, para perempuan biasa berkumpul untuk menganyam, memasak, berbagi cerita, hingga mendampingi anak-anak belajar.
“Kalau siang tidak terlalu masalah karena ibu-ibu biasanya sibuk di huma atau ladang. Malam, baru bisa berkumpul,” ujarnya.
Menurut sosiolog Emile Durkheim dalam The Division of Labour in Society (1893), interaksi sehari-hari membangun solidaritas sosial sebuah komunitas. Ketika ruang berkumpul hilang, hubungan sosial perlahan ikut melemah. Apa yang terjadi di Desa Juhu menunjukkan bahwa kehilangan listrik tidak hanya memadamkan lampu, tetapi juga meredupkan kehidupan bersama.
Kini, kebiasaan itu perlahan menghilang. Lampu minyak semakin langka, sedangkan cahayanya tidak cukup terang untuk menopang aktivitas malam. Akibatnya, ruang kebersamaan yang dulu mengikat warga ikut memudar. Seperti dikemukakan sosiolog Emile Durkheim, kehidupan sosial tumbuh melalui interaksi sehari-hari. Ketika ruang pertemuan hilang, solidaritas masyarakat ikut melemah.

Merawat Orang Sakit di Tengah Ketakutan
Gelap juga menyulitkan pelayanan kesehatan. Daliyati, tenaga kesehatan di Puskesdes Juhu, tetap melayani pasien meski hanya mengandalkan lampu minyak atau senter.
“Kami merasa takut jika tidak ada lampu. Karena ini pelayanan, tetap diusahakan meski tanpa penerangan,” katanya.
Baginya, listrik bukan sekadar penerangan, melainkan bagian penting dari keselamatan pasien dan tenaga medis.
Yang Padam Bukan Sekadar Lampu
Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalimantan Selatan, Rubi, mengingat bahwa Desa Juhu sebenarnya pernah mandiri dalam memenuhi kebutuhan energinya. Mereka pernah mandiri melalui PLTMH yang dibangun secara gotong royong. Kini, pembangkit itu telah berulang kali rusak, sementara keterbatasan anggaran membuat perbaikannya terus tertunda.
Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalimantan Selatan, Rubi, mengingat bahwa masyarakat Desa Juhu sebenarnya pernah mandiri dalam memenuhi kebutuhan energinya.
“Masyarakat adat dulu punya pembangkit listrik tenaga air. Komunitas masyarakat dan Pemerintah Desa Juhu pernah berdaulat atas pangan dan energi,” katanya.
Livelihood Specialist Yayasan Cakrawala Hijau Indonesia (YCHI), Rudy Redhani, menegaskan bahwa listrik merupakan hak dasar masyarakat, bukan sekadar fasilitas pembangunan.
Di Desa Juhu, gelap tidak hanya memadamkan lampu. Gelap mengurangi waktu belajar anak-anak, membatasi pelayanan kesehatan, mengganggu tradisi masyarakat adat, dan menghilangkan ruang berkumpul yang selama ini menjaga kehidupan sosial warga. Selama cahaya belum kembali, malam akan terus datang terlalu cepat, mengingatkan bahwa masih ada sudut Indonesia yang menunggu negara hadir melalui kebutuhan paling mendasaryaitu, listrik. @teguh







