Dokumenter Pena & Kuas, Bermuara di Canting mengisahkan perjalanan Ida merawat Tembo Batik serta melestarikan seni dan budaya Winongo.
Tabooo.id – Bunyi canting yang menyentuh kain berpadu dengan sapuan kuas di atas kanvas. Di sebuah rumah sederhana di Kelurahan Winongo, Kota Madiun, dua dunia itu tumbuh berdampingan. Batik dan lukisan tidak berdiri sebagai karya yang terpisah, melainkan menjadi bagian dari perjalanan hidup Francisca Erida Irawati, atau Ida, seorang seniman yang memilih mengabdikan hidupnya untuk berkarya.
Bagi Ida, seni tidak sekadar menghadirkan keindahan. Seni menjadi cara menjaga ingatan, merawat budaya, sekaligus menyampaikan cerita kepada generasi berikutnya.
Semangat itulah yang kemudian menggerakkan Kelompok tiga TABOOO Cinema Lab memilih Tembo Batik sebagai fokus dokumenter mereka. Kelompok yang beranggotakan Ayla Nur Ramadhani, Hariatin Anik Suhandhini, Rr. Dyah Retno Kusumawardhani, M. Yazeed Shinhab, dan Marchel Ari Pratama menghadirkan film dokumenter Pena & Kuas, Bermuara di Canting sebagai potret perjalanan seorang seniman yang tetap berkarya meski harus melewati berbagai ujian kehidupan.
Ketika Seni Menjadi Jalan Hidup
Perjalanan Ida tidak pernah berhenti pada satu bidang seni.
Ia melukis, membatik, dan menulis puisi sebagai bagian dari proses kreatif yang saling melengkapi. Dari tangan yang sama lahir sapuan kuas, goresan canting, hingga rangkaian kata yang merekam pengalaman hidupnya.
Karena itu, Tembo Batik tidak hanya menjadi tempat memproduksi batik. Ruang tersebut juga menjadi rumah bagi berbagai gagasan, tempat Ida menjaga nilai budaya sekaligus mengembangkan kreativitas yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari.
Melalui setiap motif batik dan karya seni yang ia hasilkan, Ida memperlihatkan bahwa budaya tidak hanya diwariskan melalui cerita, tetapi juga melalui karya yang lahir dari ketekunan dan konsistensi.
Bertahan Ketika Kehidupan Menghadirkan Ujian
Perjalanan berkesenian Ida tidak selalu berjalan mulus.
Pandemi COVID-19 sempat mempersempit ruang gerak pelaku seni dan memperlambat aktivitas ekonomi. Di sisi lain, cuaca yang tidak menentu sering menghambat proses membatik maupun melukis.
Namun, tantangan terbesar justru datang dari kehidupan pribadi.
Di tengah kondisi ayahnya yang sakit, Ida tetap menyelesaikan proses melukis dan terus menghasilkan karya. Ia tidak menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk berhenti. Sebaliknya, ia mengubah setiap ujian menjadi bagian dari perjalanan kreatif yang membentuk dirinya sebagai seniman.
Pilihan itulah yang kemudian membentuk kekuatan utama dokumenter Pena & Kuas, Bermuara di Canting. Film ini tidak mengandalkan dramatisasi. Sebaliknya, dokumenter ini membiarkan kehidupan sehari-hari berbicara melalui karya dan proses yang dijalani Ida.
Kamera Mengikuti Proses, Bukan Sekadar Hasil
Kelompok tiga membangun dokumenter ini dengan pendekatan observasional.
Kamera mengikuti aktivitas Ida sejak membatik, melukis, membuka kumpulan puisinya, hingga memperlihatkan dokumentasi perjalanan berkesenian yang telah ia lalui. Setiap adegan menghubungkan canting, kuas, dan pena sebagai simbol bahwa seluruh karya tersebut lahir dari semangat yang sama.
Pendekatan itu membuat dokumenter terasa dekat dengan kehidupan masyarakat.
Alih-alih menampilkan sosok seniman yang jauh dari keseharian, dokumenter ini memperlihatkan Ida sebagai pribadi yang terus bekerja, belajar, dan berkarya dari ruang sederhana. Melalui pilihan visual tersebut, Ayla Nur Ramadhani, Hariatin Anik Suhandhini, Rr. Dyah Retno Kusumawardhani, M. Yazeed Shinhab, dan Marchel Ari Pratama mengajak penonton memahami bahwa karya besar sering lahir dari ketekunan yang berlangsung setiap hari.
Tembo Batik Menjaga Kearifan Lokal
Bagi Ida, Tembo Batik tidak sekadar menghasilkan kain bermotif.
Ia menjadikan setiap karya sebagai media untuk memperkenalkan kearifan lokal Winongo kepada masyarakat yang lebih luas. Setiap motif menyimpan cerita tentang lingkungan, budaya, dan pengalaman hidup yang ia temui selama berkarya.
Karena itu, aktivitas membatik selalu berjalan seiring dengan upaya melestarikan budaya daerah.
Selain terus berkarya, Ida juga ingin membagikan pengetahuan kepada anak-anak, masyarakat sekitar, dan generasi muda. Ia percaya bahwa budaya hanya akan bertahan apabila semakin banyak orang bersedia mempelajarinya dan meneruskannya.
Dokumenter yang Merawat Ingatan
Pada bagian akhir film, kamera memperlihatkan berbagai karya Tembo Batik yang telah selesai serta perjalanan panjang yang telah Ida lalui sebagai seniman. Setelah itu, Ida menyampaikan harapannya agar seni dan batik tetap hidup melalui tangan-tangan generasi muda yang bersedia belajar, berkarya, dan menjaga warisan budaya Indonesia.
Harapan tersebut menjadi penutup yang sederhana, tetapi menyimpan makna yang mendalam.
Melalui Pena & Kuas, Bermuara di Canting, Kelompok tiga TABOOO Cinema Lab tidak hanya menghasilkan sebuah film dokumenter. Mereka juga merekam semangat seorang seniman yang terus memilih berkarya ketika kehidupan menghadirkan berbagai tantangan.
Pada akhirnya, dokumenter ini mengingatkan bahwa seni tidak pernah lahir hanya dari bakat. Di balik setiap motif batik, sapuan kuas, dan bait puisi, terdapat ketekunan, keberanian, serta keyakinan untuk menjaga budaya agar tetap hidup. Selama masih ada orang-orang seperti Ida yang terus berkarya dan generasi muda yang bersedia meneruskan semangat itu, Tembo Batik akan tetap menjadi bagian dari identitas budaya Winongo sekaligus warisan yang tidak akan mudah dilupakan. @dimas







