Film dokumenter Kilau Sampah mengisahkan perjuangan Siyam membangun Bank Sampah Matahari dan menggerakkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan melalui aksi nyata.
Tabooo.id – Pagi belum sepenuhnya terang ketika Siyam menyusuri gang-gang di Kelurahan Winongo, Kota Madiun. Di tangannya, karung dan wadah penampung menemani langkah dari satu rumah ke rumah lain. Ia mengumpulkan botol plastik, kardus, dan berbagai sampah yang sering dianggap tak bernilai. Bagi banyak orang, benda-benda itu hanyalah limbah. Namun, Siyam melihat peluang untuk mengubahnya menjadi harapan bagi lingkungan.
Rutinitas itu bukan sekadar pekerjaan.
Setiap hari, Siyam mengajak warga mengubah cara pandang terhadap sampah. Ia percaya perubahan lahir dari kebiasaan kecil yang terus dijaga, bukan dari program besar yang hanya berlangsung sesaat.
Semangat itulah yang mendorong kelompok empat TABOOO Cinema Lab mengangkat kisah Siyam melalui film dokumenter Kilau Sampah. Kelompok empat yang terdiri atas Yogo Presetyo, Vinca Selvia Y., Citra Ayu Salsabilla, Choirunnisa Apriliyanti, dan Yudi Indra S. memilih persoalan lingkungan sebagai fokus cerita. Mereka menyoroti perjalanan Siyam yang mengubah kepedulian sederhana menjadi gerakan sosial yang terus menginspirasi masyarakat.
Mengubah Cara Pandang terhadap Sampah
Sebagian orang menganggap sampah sebagai barang buangan yang tidak lagi berguna.
Siyam memilih pandangan yang berbeda. Ia melihat setiap limbah sebagai sumber daya yang masih memiliki manfaat. Keyakinan itu mendorongnya mendirikan Bank Sampah Matahari sekaligus mengajak warga memilah sampah sejak dari rumah.
Melalui gerakan tersebut, Siyam mengurangi timbunan sampah sekaligus menumbuhkan budaya peduli lingkungan. Ia membuktikan bahwa perubahan selalu berawal dari tindakan sederhana yang terus dilakukan setiap hari.
Bagi Siyam, menjaga lingkungan bukan sekadar membersihkan sampah. Ia ingin membangun kebiasaan baru agar masyarakat memahami bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan tempat tinggalnya.
Diremehkan, tetapi Tidak Pernah Menyerah
Perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus.
Pada awal perjuangannya, Siyam menghadapi penolakan dari sebagian masyarakat. Banyak warga meremehkan gagasan mengelola sampah karena mereka belum melihat manfaatnya. Dukungan dari berbagai pihak juga belum banyak mengalir.
Namun, Siyam tidak mengurangi langkahnya.
Ia terus mendatangi warga, menggelar sosialisasi, dan mengajak masyarakat memilah sampah sejak dari rumah. Kesabaran dan ketekunannya perlahan mengubah keraguan menjadi kepercayaan.
Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil. Kini, Siyam membina 245 bank sampah yang tersebar di berbagai wilayah. Pencapaian itu menunjukkan bahwa konsistensi mampu menggerakkan masyarakat sekaligus melahirkan perubahan nyata.
Kamera Mengikuti Perjalanan Tanpa Henti
Kelompok empat memilih pendekatan observasional agar cerita mengalir secara alami.
Mereka mengikuti aktivitas Siyam sejak keluar rumah untuk mengambil sampah milik warga, memilah limbah, memperlihatkan berbagai hasil karya daur ulang, hingga mendokumentasikan area Bank Sampah Matahari.
Alih-alih mengejar drama, para pembuat film membiarkan tindakan Siyam membangun cerita. Cara tersebut mengajak penonton menyaksikan secara langsung bagaimana satu orang mampu menggerakkan banyak orang melalui aksi yang terus berlangsung setiap hari.
Melalui dokumenter ini, Yogo Presetyo, Vinca Selvia Y., Citra Ayu Salsabilla, Choirunnisa Apriliyanti, dan Yudi Indra S. tidak hanya merekam aktivitas pengelolaan sampah. Mereka juga mengajak penonton memahami bahwa kepedulian terhadap lingkungan selalu berawal dari keluarga dan tumbuh melalui kebiasaan sederhana.
Gerakan Kecil yang Menggerakkan Banyak Orang
Siyam meyakini persoalan sampah tidak akan selesai jika masyarakat hanya menunggu kebijakan pemerintah.
Karena itu, ia memilih bergerak bersama warga. Ia mengajak setiap keluarga memilah sampah, memanfaatkan kembali barang yang masih berguna, dan menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Gerakan tersebut tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan. Siyam juga membuka ruang pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan sampah. Dari sana, warga menghasilkan berbagai karya daur ulang, memperoleh nilai ekonomi, sekaligus belajar membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Pesan itulah yang menjadi inti Kilau Sampah. Film ini mengingatkan bahwa perubahan lingkungan selalu berawal dari keberanian seseorang mengambil langkah pertama.
Menyalakan Harapan dari Tumpukan Sampah
Pada adegan terakhir, kamera kembali mengikuti langkah Siyam ketika ia berjalan mengambil sampah milik warga. Adegan sederhana itu menegaskan satu pesan penting: perjuangan menjaga lingkungan tidak mengenal garis akhir. Selalu ada sampah yang harus dikelola dan selalu ada kesadaran yang perlu dibangun.
Siyam berharap masyarakat semakin peduli terhadap sampah di sekitarnya dan saling mengingatkan untuk menjaga lingkungan. Kelak, ketika ia tidak lagi menjalankan aktivitas itu, ia ingin masyarakat mengenangnya sebagai “Ratu Sampah”. Julukan tersebut bukan lahir karena banyaknya sampah yang ia kumpulkan, melainkan karena semangat yang terus ia tularkan kepada orang-orang di sekitarnya.
Melalui Kilau Sampah, kelompok empat TABOOO Cinema Lab tidak sekadar menghasilkan sebuah film dokumenter. Mereka menghadirkan kisah tentang keberanian memulai, ketekunan menjaga komitmen, dan keyakinan bahwa tindakan sederhana mampu menggerakkan perubahan besar. Dokumenter ini menjadi pengingat bahwa setiap orang dapat mengambil peran dalam menjaga lingkungan. Langkah kecil yang dilakukan hari ini dapat melahirkan perubahan besar bagi generasi yang akan datang. @dimas






