Rabu, Juli 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Enam Tahun Diabaikan, SDN Tanjungrasa Menanti Perbaikan

by dimas
Juli 22, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
SDN Tanjungrasa di Subang rusak selama enam tahun. Siswa tetap belajar di bangunan nyaris ambruk, sementara janji pemerataan pendidikan belum terwujud.

Tabooo.id – Bel sekolah berbunyi setiap pagi di SD Negeri Tanjungrasa, Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang. Puluhan siswa berlari menuju ruang kelas sambil membawa buku dan harapan. Mereka ingin belajar dengan tenang. Namun, sekolah justru menyambut mereka dengan atap bocor, plafon rapuh, dinding retak, serta jendela yang lapuk.

Pemandangan itu bukan cerita baru. Selama hampir enam tahun, guru dan siswa menjalani proses belajar di bangunan yang terus kehilangan kekuatannya. Air hujan sering menetes ke dalam kelas. Angin mengguncang bagian atap yang sudah rapuh. Setiap suara kayu yang berderit memunculkan kecemasan baru bagi guru, siswa, dan orang tua.

Guru Mengajar, Siswa Menahan Cemas

Saat hujan turun, guru segera menghentikan pelajaran. Mereka mengajak siswa berpindah ke ruang lain agar proses belajar tetap berlangsung. Guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran. Mereka juga mengawasi setiap sudut ruangan untuk memastikan seluruh siswa tetap aman.

Siswa pun berusaha menyesuaikan diri. Mereka memindahkan meja ketika air hujan menetes dari atap. Mereka menggeser kursi ketika plafon mulai rapuh. Anak-anak itu akhirnya menganggap kondisi berbahaya sebagai bagian dari kehidupan sekolah.

Kerusakan juga merambah fasilitas belajar. Siswa memakai meja dan kursi yang sudah rapuh setiap hari. Sekolah terus memanfaatkan peralatan lama karena belum memiliki fasilitas pengganti.

Ini Belum Selesai

Ketika Negara Padam: Desa Juhu Menunggu Cahaya yang Tak Pernah Datang

Hari Anak Nasional: Ribuan Anak Masih Jadi Korban Kekerasan

Sekolah Terus Mendesak, Pemerintah Belum Bertindak

Ketua Komite SD Negeri Tanjungrasa, Abdulah, mengatakan pihak sekolah terus mengirim usulan rehabilitasi kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Subang. Guru, komite sekolah, dan warga berharap pemerintah segera memperbaiki bangunan yang semakin membahayakan.

“Kami sudah beberapa kali mengusulkan perbaikan, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Kami hanya ingin anak-anak belajar di tempat yang aman,” katanya.

Orang tua juga terus menyampaikan kegelisahan. Mereka meminta pemerintah mempercepat perbaikan sebelum musibah benar-benar terjadi. Mereka tidak ingin anak-anak mempertaruhkan keselamatan hanya untuk mengikuti pelajaran.

Sampai sekarang, Dinas Pendidikan Kabupaten Subang belum memberikan penjelasan mengenai kelanjutan usulan rehabilitasi tersebut.

Janji Pendidikan Berhadapan dengan Kenyataan

Pemerintah terus berbicara tentang pembangunan sumber daya manusia. Para pejabat rutin menyampaikan pentingnya pendidikan berkualitas. Negara juga mengalokasikan anggaran pendidikan dalam jumlah besar setiap tahun.

Namun, kenyataan di SD Negeri Tanjungrasa menghadirkan ironi yang sulit dibantah. Anak-anak masih memindahkan kursi ketika hujan turun. Guru masih menghentikan pelajaran demi menghindari bahaya. Orang tua masih mengantar anak mereka ke sekolah sambil menyimpan rasa khawatir.

Pendidikan tidak hanya membutuhkan kurikulum yang baik. Pendidikan juga membutuhkan ruang belajar yang aman. Negara tidak cukup menyusun kebijakan dari balik meja. Negara harus memastikan setiap sekolah memiliki bangunan yang layak untuk mendukung proses belajar.

Retakan yang Menguji Komitmen Negara

SD Negeri Tanjungrasa menyimpan lebih dari sekadar dinding retak dan atap bocor. Sekolah itu memperlihatkan jurang yang lebar antara janji pemerintah dan kenyataan yang dirasakan masyarakat.

Setiap pagi, guru membuka pelajaran dengan harapan sederhana. Mereka ingin seluruh siswa pulang dalam keadaan selamat. Orang tua juga mengirim anak-anak mereka dengan doa yang sama. Mereka tidak meminta gedung megah atau fasilitas mewah. Mereka hanya menginginkan ruang belajar yang aman.

Retakan pada dinding sekolah akhirnya memunculkan pertanyaan yang jauh lebih besar. Seberapa serius negara menjaga hak anak untuk memperoleh pendidikan yang layak? Selama pemerintah belum memperbaiki sekolah itu, setiap tetes air hujan yang jatuh ke ruang kelas akan terus mengingatkan publik bahwa pemerataan pendidikan masih menyisakan pekerjaan besar. @dimas

Tags: Infrastruktur SekolahPemerataan PendidikanSDN TanjungrasaSekolah RusakSubang

Kamu Melewatkan Ini

Kalau Polisi Harus Membangun Sekolah, Negara Sedang Sibuk Membangun Apa?

Kalau Polisi Harus Membangun Sekolah, Negara Sedang Sibuk Membangun Apa?

by teguh
Juli 17, 2026

Pagi di pelosok Sukabumi selalu datang dengan cara yang sederhana. Kabut turun perlahan, jalanan tanah mulai dipenuhi langkah anak-anak yang...

Zonasi Pendidikan, Kualitas Jauh Berbeda: Benarkah Zonasi Sudah Adil?

Zonasi Pendidikan, Kualitas Jauh Berbeda: Benarkah Zonasi Sudah Adil?

by teguh
Mei 18, 2026

Setiap tahun PPDB datang dengan sistem Zonasi Pendidikan, banyak rumah berubah jadi ruang rapat darurat. Orang tua membuka portal sekolah,...

Next Post
Proyek Rp260 Miliar Bocor Dua Kali: Infrastruktur Gagal Menjaga Ketahanan Pangan

Proyek Rp260 Miliar Bocor Dua Kali: Infrastruktur Gagal Menjaga Ketahanan Pangan

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id