SDN Tanjungrasa di Subang rusak selama enam tahun. Siswa tetap belajar di bangunan nyaris ambruk, sementara janji pemerataan pendidikan belum terwujud.
Tabooo.id – Bel sekolah berbunyi setiap pagi di SD Negeri Tanjungrasa, Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang. Puluhan siswa berlari menuju ruang kelas sambil membawa buku dan harapan. Mereka ingin belajar dengan tenang. Namun, sekolah justru menyambut mereka dengan atap bocor, plafon rapuh, dinding retak, serta jendela yang lapuk.
Pemandangan itu bukan cerita baru. Selama hampir enam tahun, guru dan siswa menjalani proses belajar di bangunan yang terus kehilangan kekuatannya. Air hujan sering menetes ke dalam kelas. Angin mengguncang bagian atap yang sudah rapuh. Setiap suara kayu yang berderit memunculkan kecemasan baru bagi guru, siswa, dan orang tua.
Guru Mengajar, Siswa Menahan Cemas
Saat hujan turun, guru segera menghentikan pelajaran. Mereka mengajak siswa berpindah ke ruang lain agar proses belajar tetap berlangsung. Guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran. Mereka juga mengawasi setiap sudut ruangan untuk memastikan seluruh siswa tetap aman.
Siswa pun berusaha menyesuaikan diri. Mereka memindahkan meja ketika air hujan menetes dari atap. Mereka menggeser kursi ketika plafon mulai rapuh. Anak-anak itu akhirnya menganggap kondisi berbahaya sebagai bagian dari kehidupan sekolah.
Kerusakan juga merambah fasilitas belajar. Siswa memakai meja dan kursi yang sudah rapuh setiap hari. Sekolah terus memanfaatkan peralatan lama karena belum memiliki fasilitas pengganti.
Sekolah Terus Mendesak, Pemerintah Belum Bertindak
Ketua Komite SD Negeri Tanjungrasa, Abdulah, mengatakan pihak sekolah terus mengirim usulan rehabilitasi kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Subang. Guru, komite sekolah, dan warga berharap pemerintah segera memperbaiki bangunan yang semakin membahayakan.
“Kami sudah beberapa kali mengusulkan perbaikan, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Kami hanya ingin anak-anak belajar di tempat yang aman,” katanya.
Orang tua juga terus menyampaikan kegelisahan. Mereka meminta pemerintah mempercepat perbaikan sebelum musibah benar-benar terjadi. Mereka tidak ingin anak-anak mempertaruhkan keselamatan hanya untuk mengikuti pelajaran.
Sampai sekarang, Dinas Pendidikan Kabupaten Subang belum memberikan penjelasan mengenai kelanjutan usulan rehabilitasi tersebut.
Janji Pendidikan Berhadapan dengan Kenyataan
Pemerintah terus berbicara tentang pembangunan sumber daya manusia. Para pejabat rutin menyampaikan pentingnya pendidikan berkualitas. Negara juga mengalokasikan anggaran pendidikan dalam jumlah besar setiap tahun.
Namun, kenyataan di SD Negeri Tanjungrasa menghadirkan ironi yang sulit dibantah. Anak-anak masih memindahkan kursi ketika hujan turun. Guru masih menghentikan pelajaran demi menghindari bahaya. Orang tua masih mengantar anak mereka ke sekolah sambil menyimpan rasa khawatir.
Pendidikan tidak hanya membutuhkan kurikulum yang baik. Pendidikan juga membutuhkan ruang belajar yang aman. Negara tidak cukup menyusun kebijakan dari balik meja. Negara harus memastikan setiap sekolah memiliki bangunan yang layak untuk mendukung proses belajar.
Retakan yang Menguji Komitmen Negara
SD Negeri Tanjungrasa menyimpan lebih dari sekadar dinding retak dan atap bocor. Sekolah itu memperlihatkan jurang yang lebar antara janji pemerintah dan kenyataan yang dirasakan masyarakat.
Setiap pagi, guru membuka pelajaran dengan harapan sederhana. Mereka ingin seluruh siswa pulang dalam keadaan selamat. Orang tua juga mengirim anak-anak mereka dengan doa yang sama. Mereka tidak meminta gedung megah atau fasilitas mewah. Mereka hanya menginginkan ruang belajar yang aman.
Retakan pada dinding sekolah akhirnya memunculkan pertanyaan yang jauh lebih besar. Seberapa serius negara menjaga hak anak untuk memperoleh pendidikan yang layak? Selama pemerintah belum memperbaiki sekolah itu, setiap tetes air hujan yang jatuh ke ruang kelas akan terus mengingatkan publik bahwa pemerataan pendidikan masih menyisakan pekerjaan besar. @dimas






