Lima film dokumenter TABOOO Cinema Lab merekam kisah batik, UMKM, lingkungan, dan kuliner tradisional yang menjadi denyut kehidupan masyarakat Winongo.
Tabooo.id – Sebuah kampung selalu menyimpan cerita. Cerita itu lahir dari tangan para pembatik, pelaku UMKM, pegiat lingkungan, hingga pengusaha kecil yang setia menjaga tradisi.
TABOOO Cinema Lab menangkap kisah-kisah tersebut melalui lima kelompok peserta. Setiap kelompok melahirkan satu film dokumenter dengan sudut pandang yang berbeda. Seluruh karya itu menjadi bagian dari rangkaian TABOOO Cultural Production bertema From Reality to Narrative di Kelurahan Winongo, Kota Madiun.
Kamera memang merekam gambar. Namun, dokumenter yang baik selalu berangkat dari manusia.
Lima Cerita, Lima Wajah Winongo
Seluruh peserta memulai produksi dengan mendekati masyarakat. Mereka berbincang, mengamati, dan memahami kehidupan para narasumber sebelum menyalakan kamera.
Pendekatan itu melahirkan lima dokumenter. Masing-masing merekam sisi berbeda dari Kelurahan Winongo. Ada kisah tentang budaya, ekonomi, lingkungan, hingga tradisi keluarga.
Setiap film menunjukkan bahwa cerita besar sering tumbuh dari kehidupan yang tampak sederhana.
Canting Kuning, Keteguhan Lilik Widyawati Menjaga Batik WMH
Kelompok satu yang beranggotakan Yudha Satria Wicaksono, Bernat Novi Ardani, Farizky Al Fath, Diandra Putri Indraprastya, dan Abriana Senja Rashifa memproduksi film dokumenter Canting Kuning.
Film ini mengikuti perjalanan Lilik Widyawati, pemilik Batik WMH. Kelompok tersebut merekam proses membatik sekaligus perjuangan Lilik mempertahankan batik tulis di tengah maraknya batik printing.
Mereka menunjukkan bahwa setiap motif lahir melalui ketelitian, kesabaran, dan pengalaman panjang.
Film ini tidak hanya berbicara tentang kain. Dokumenter tersebut juga mengisahkan seorang perempuan yang terus menjaga warisan budaya agar tetap hidup.
Seni dalam Kain, Perjalanan Batik Athanissa
Kelompok dua yang terdiri atas Nila Krisnawati, Jack Manuel T, Diah Nur Syifa, Rajendra Yafik A, dan Lailatul Fitrianingrum menghadirkan film dokumenter Seni dalam Kain.
Film ini mengangkat kisah Joko, pemilik Batik Athanissa.
Para peserta mengikuti aktivitas Joko saat mengembangkan usahanya. Mereka menunjukkan bahwa kualitas batik lahir dari konsistensi, keterampilan, dan kecintaan terhadap pekerjaan.
Melalui dokumenter itu, mereka menegaskan bahwa UMKM tidak sekadar mencari keuntungan. UMKM juga menjaga identitas budaya daerah.
Pena & Kuas Bermuara di Canting, Mimpi Besar dari Batik Tembo
Kelompok tiga yang beranggotakan Ayla Nur Ramadhani, Hariatin Anik Suhandhini, Rr. Dyah Retno Kusumawardhani, M. Yazeed Shinhab, dan Marchel Ari Pratama memilih Batik Tembo sebagai fokus dokumenter.
Mereka memberi judul filmnya Pena & Kuas Bermuara di Canting.
Film ini mengikuti perjalanan Ida membangun usaha batik dari nol. Ida menghadapi berbagai tantangan. Namun, ia tetap mempertahankan keyakinannya terhadap karya lokal.
Kelompok ini menunjukkan bahwa setiap lembar batik menyimpan perjuangan yang sering luput dari perhatian pembeli.
Kilau Sampah, Ketika Kepedulian Mengubah Lingkungan
Kelompok empat yang terdiri atas Yogo Presetyo, Vinca Selvia Y., Citra Ayu Salsabilla, Choirunnisa Apriliyanti, dan Yudi Indra S. memilih isu lingkungan sebagai tema dokumenter.
Mereka memproduksi film Kilau Sampah.
Film ini mengikuti perjalanan Siyam, penggerak Bank Sampah di Kelurahan Winongo.
Kelompok tersebut merekam aktivitas Sitam saat mengajak warga memilah sampah dan membangun kesadaran lingkungan. Mereka menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu berawal dari program besar.
Sebaliknya, perubahan sering tumbuh dari orang-orang yang bekerja dengan konsisten setiap hari.
Tempe Daun: Benteng Terakhir Usaha Turun-Temurun
Kelompok lima yang beranggotakan Rio Galih Al Amin, Ahmad Bagus, Laila Cahyani, Siti Naharul Maslikah, dan M. Alfian menutup rangkaian karya melalui film Tempe Daun: Benteng Terakhir Usaha Turun-Temurun.
Film ini mengikuti perjalanan Ani, produsen tempe yang tetap membungkus produknya menggunakan daun.
Ani memilih mempertahankan cara tradisional ketika banyak produsen beralih ke kemasan modern. Keputusan itu menjaga cita rasa sekaligus mempertahankan identitas usaha keluarganya.
Kelompok ini menunjukkan bahwa tradisi bukan penghambat kemajuan. Justru tradisi menjadi nilai yang membedakan sebuah produk.
Film sebagai Arsip Kehidupan
Lima dokumenter tersebut menghadirkan potret Winongo dari sudut yang berbeda. Batik, tempe daun, bank sampah, dan UMKM berubah menjadi kisah tentang ketekunan, keberanian, serta harapan.
Setiap dokumenter membuktikan satu hal. Cerita terbaik tidak selalu lahir dari peristiwa besar. Cerita itu tumbuh di kampung, hidup bersama masyarakat, lalu menunggu seseorang untuk mendengar dan merekamnya.
Melalui lima karya tersebut, TABOOO Cinema Lab tidak hanya menghasilkan film dokumenter. Program ini juga meninggalkan arsip sosial yang merekam denyut kehidupan Kelurahan Winongo untuk generasi mendatang. @dimas







