Bagaimana jika selama ini kita salah mengenal asal-usul pecel? Madiun memang sukses membangun reputasi nasi pecel sebagai identitas daerah. Namun, jejak sejarah dalam Babad Tanah Jawi menunjukkan bahwa akar kuliner itu justru tumbuh di wilayah Yogyakarta.
Tabooo.id – Selama bertahun-tahun, masyarakat mengenal Madiun sebagai kota asal pecel. Nama “Nasi Pecel Madiun” bahkan sudah melekat kuat sebagai salah satu ikon kuliner Indonesia. Namun, jejak sejarah justru mengarahkan kita ke tempat lain. Babad Tanah Jawi mencatat bahwa konsep pecel telah hidup lebih dulu di wilayah Yogyakarta.
Temuan ini tidak bermaksud merebut identitas kuliner Madiun. Sebaliknya, sejarah menunjukkan bagaimana sebuah makanan lahir di satu tempat, lalu berkembang dan mencapai puncak popularitas di tempat lain.
Babad Tanah Jawi Mencatat Jejak Awal Pecel
Ahli gastronomi Universitas Gadjah Mada, Murdijati Gardjito, merujuk Babad Tanah Jawi sebagai salah satu catatan tertua mengenai pecel. Naskah itu menjelaskan bahwa masyarakat Jawa telah mengenal istilah “pecel” sejak era Mataram.
Dalam kisah tersebut, Sunan Kalijaga menyuguhi Ki Gede Pamanahan hidangan berupa sayuran rebus. Setelah menikmati hidangan itu, Ki Gede Pamanahan menyebutnya sebagai “ron ingkang dipun pecel”, atau dedaunan yang direbus lalu diperas airnya.
Dari kisah itu, terlihat bahwa masyarakat Jawa mula-mula menggunakan kata pecel untuk menggambarkan cara mengolah sayuran, bukan sebagai nama hidangan nasi lengkap dengan sambal kacang seperti sekarang.
Makna tersebut memperkuat dugaan bahwa akar budaya pecel tumbuh dari tradisi kuliner masyarakat Mataram di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Madiun Mengubah Pecel Menjadi Identitas
Meski sejarah mengarah ke Yogyakarta, Madiun berhasil mengangkat pecel menjadi identitas daerah yang dikenal hampir di seluruh Indonesia.
Keberhasilan itu lahir dari konsistensi masyarakat Madiun dalam mengembangkan resep. Mereka menciptakan sambal pecel dengan cita rasa khas melalui tambahan perasan jeruk purut, lalu memadukannya dengan beragam sayuran lokal seperti bunga turi.
Masyarakat Madiun juga memanfaatkan posisi kotanya sebagai jalur perdagangan dan pusat transportasi pada masa kolonial. Para pedagang menjajakan nasi pecel di sekitar stasiun kereta sehingga banyak pelancong mengenal hidangan tersebut.
Sejak saat itu, nama Nasi Pecel Madiun menyebar ke berbagai daerah dan perlahan menjadi identitas kuliner yang melekat hingga sekarang.
Di sisi lain, melimpahnya hasil kacang tanah mendorong tumbuhnya industri sambal pecel rumahan. Banyak keluarga mempertahankan usaha itu secara turun-temurun sehingga ekosistem kuliner pecel terus berkembang.
Sejarah Tidak Selalu Sama dengan Popularitas
Banyak orang menyamakan daerah yang populer dengan daerah asal sebuah makanan. Padahal, sejarah sering menunjukkan cerita yang berbeda.
Literatur Jawa kuno menempatkan Yogyakarta sebagai wilayah yang pertama kali mencatat istilah pecel. Sementara itu, Madiun mengembangkan resep, membangun identitas, dan memperkenalkan nasi pecel kepada masyarakat luas hingga menjadi ikon kuliner nasional.
Kedua fakta tersebut tidak saling bertentangan. Justru keduanya melengkapi perjalanan panjang sebuah warisan budaya.
Karena itu, perdebatan mengenai asal-usul pecel seharusnya tidak berhenti pada klaim daerah. Yang lebih penting, masyarakat memahami bahwa kuliner juga mengalami proses evolusi. Sebuah tradisi bisa lahir di satu tempat, berkembang di tempat lain, lalu menjadi milik bersama.
Ironisnya, publik lebih mudah mengingat siapa yang berhasil mempopulerkan sebuah warisan daripada siapa yang pertama kali mencatat sejarahnya. @jeje







