Bika Ambon membuktikan bahwa sebuah nama tidak selalu mampu menjelaskan asal-usul. Kue yang identik dengan Kota Medan ini justru menyimpan sejarah panjang tentang perjumpaan budaya, perpindahan manusia, dan cara sebuah kota membangun identitasnya sendiri. Di balik setiap potongnya, ada cerita yang jauh lebih kaya daripada sekadar rasa.
Tabooo.id — Pernahkah kamu membeli Bika Ambon sebagai oleh-oleh dari Medan, lalu bertanya dalam hati, “Kalau namanya Ambon, kenapa justru terkenal di Medan?” Pertanyaan sederhana itu ternyata membuka kisah yang jauh lebih rumit daripada sekadar resep tepung, santan, dan gula.
Ironisnya, jutaan orang mengenal nama Bika Ambon, tetapi hanya sedikit yang memahami perjalanan sejarahnya.
Selama bertahun-tahun, nama “Ambon” menutupi fakta geografis. Banyak orang mengira kue ini berasal dari Maluku. Sebaliknya, masyarakat Medan mengangkat Bika Ambon menjadi ikon kota, simbol kuliner, dan oleh-oleh wajib bagi para wisatawan.
Lalu, siapa sebenarnya yang berhak mengklaim Bika Ambon?
Jawabannya tidak pernah benar-benar tunggal. Justru karena itulah kisahnya layak ditelusuri.
Nama yang Salah, Tapi Semua Orang Percaya
Dalam dunia kuliner, sebuah makanan biasanya mengikuti tempat asalnya. Gudeg identik dengan Yogyakarta. Pempek melekat pada Palembang. Rendang selalu mengingatkan orang pada Minangkabau.
Namun, Bika Ambon justru menabrak pola itu.
Namanya mengarah ke Ambon, sementara identitasnya tumbuh di Medan. Sekilas terdengar seperti kesalahan. Paradoks itulah yang justru membuat orang semakin mudah mengingatnya.
Sejarah menunjukkan bahwa akar Bika Ambon berasal dari keluarga besar kue bingka atau bika yang telah lama hidup dalam tradisi masyarakat Melayu. Ketika bangsa Portugis datang ke Nusantara pada abad ke-16, mereka membawa teknik memanggang sekaligus berbagai resep penganan Eropa. Selanjutnya, masyarakat lokal memadukan teknik tersebut dengan santan, tepung beras, gula, pandan, dan rempah setempat.
Dari proses itulah lahir sebuah rasa yang melampaui batas geografis.
Bika Ambon akhirnya tidak hanya hadir sebagai makanan. Kue ini berubah menjadi hasil pertemuan berbagai peradaban.
Kolonialisme Ternyata Masih Ada di Meja Makan
Saat mendengar kata kolonialisme, kebanyakan orang langsung membayangkan benteng, perkebunan, atau eksploitasi sumber daya alam.
Padahal, kolonialisme juga ikut membentuk apa yang kita makan hari ini.
Resep berpindah bersama kapal dagang. Para pelaut membawa rempah ke berbagai pelabuhan. Sementara itu, teknik memanggang ikut menyebar dari Eropa ke Nusantara. Lambat laun, semuanya melebur dengan bahan-bahan lokal hingga melahirkan cita rasa yang sama sekali baru.
Bika Ambon lahir dari perjalanan panjang tersebut.
Karena itu, setiap potong Bika Ambon sebenarnya menyimpan jejak perdagangan global, migrasi manusia, dan perebutan rempah yang pernah mengubah sejarah dunia.
Kita sering menganggap makanan hanya urusan dapur. Padahal, banyak makanan justru lahir dari ruang politik, perdagangan, dan perjumpaan budaya.
Bagaimana Sebuah Kue Berpindah Kota, Lalu Mengganti Identitas
Fakta lain yang jarang diketahui, Bika Ambon lebih dahulu populer di Batavia pada akhir abad ke-19. Kala itu, para produsen keturunan Tionghoa menjualnya sebagai penganan premium. Bahkan, sejumlah surat kabar kolonial mencatat keberadaan Bika Ambon dalam iklan dagang maupun laporan peristiwa.
Namun, sejarah terus bergerak.
Perang, perpindahan penduduk, dan perubahan jalur perdagangan perlahan membawa resep tersebut ke Tanah Deli. Sesampainya di Medan, Bika Ambon menemukan rumah baru.
Komunitas Tionghoa mengembangkan resepnya. Berbagai kelompok pekerja dari latar belakang etnis yang berbeda ikut menyempurnakan teknik pembuatannya. Pada saat yang sama, masyarakat Medan menerima kue ini sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sejak itulah Bika Ambon berhenti menjadi sekadar makanan.
Medan kemudian membesarkannya menjadi identitas kota.
Yang Dijual Bukan Lagi Kue, Tapi Identitas
Tidak semua identitas lahir dari sejarah. Sebagian justru tumbuh karena ekonomi.
Pada dekade 1980-an, para pelaku usaha di Medan melihat peluang yang jauh lebih besar. Mereka mengubah Bika Ambon dari kue rumahan menjadi produk oleh-oleh yang siap dipasarkan secara luas.
Kemasan mulai dibuat lebih rapi, resep distandarkan, dan kapasitas produksi terus ditingkatkan. Perlahan, Bika Ambon tidak lagi hadir sebagai sajian keluarga, tetapi menjelma menjadi komoditas yang membentuk wajah kuliner Medan.
Akhirnya, Jalan Majapahit berkembang menjadi pusat industri Bika Ambon yang dikenal hingga sekarang.
Di titik inilah makanan berubah menjadi mesin ekonomi. Setiap wisatawan yang pulang dari Medan seolah membawa pesan yang sama: perjalanan belum lengkap tanpa sekotak Bika Ambon. Menariknya, nama yang membingungkan justru menjadi strategi pemasaran paling ampuh. Semakin banyak orang bertanya, semakin besar rasa penasaran mereka.
Lubang-Lubang Itu Bukan Kebetulan
Hal pertama yang memikat banyak orang bukan hanya rasanya.
Teksturnya juga memiliki daya tarik yang sulit ditiru. Rongga-rongga menyerupai sarang lebah muncul melalui proses fermentasi yang panjang. Proses itu menuntut kesabaran, ketelitian, dan pengalaman. Sedikit saja komposisi bergeser, pori-porinya gagal terbentuk.
Begitu pula ketika suhu berubah, teksturnya ikut berubah.
Bika Ambon mengajarkan satu hal sederhana. Hal-hal yang tampak sederhana sering kali lahir dari proses yang sangat rumit.
Siapa Sebenarnya Pemilik Sebuah Rasa?
Di sinilah perdebatan itu bermula.
Apakah tempat kelahiran menentukan kepemilikan sebuah makanan?
Ataukah kota yang merawat dan membesarkannya justru lebih berhak menyandang identitas tersebut?
Haruskah sejarah menjadi satu-satunya penentu?
Atau justru ingatan kolektif masyarakat yang membentuk maknanya?
Hingga hari ini, tidak ada jawaban yang benar-benar final.
Meski demikian, mungkin persoalan utamanya bukan terletak pada siapa yang paling berhak mengklaim. Sebab makanan selalu bergerak mengikuti manusia. Makanan ikut bermigrasi. Makanan terus beradaptasi.
Kemudian, makanan menemukan rumah barunya.
Identitas Ternyata Bisa Diproduksi
Bika Ambon membuktikan bahwa identitas tidak selalu lahir dari tempat asal. Sebaliknya, identitas sering tumbuh dari tangan-tangan yang merawat, memperkenalkan, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. Hari ini, orang lebih sibuk memperdebatkan siapa yang berhak mengklaim budaya daripada memastikan budaya itu tetap hidup.
Padahal, sejarah menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Tidak ada budaya yang benar-benar berdiri sendiri.
Setiap makanan lahir dari perjumpaan. Tiap resep tumbuh melalui proses negosiasi. Setiap rasa menyimpan arsip panjang tentang manusia yang saling bertemu.
Karena itu, Bika Ambon bukan sekadar kue khas Medan.
Kue ini menjadi bukti bahwa identitas dapat terbentuk melalui perjalanan panjang yang melibatkan migrasi, perdagangan, kolonialisme, dan kreativitas masyarakat. Mungkin itulah alasan Bika Ambon mampu bertahan melintasi zaman.
Bukan karena namanya sepenuhnya benar. Melainkan karena rasanya berhasil menyatukan sejarah yang tidak pernah benar-benar selesai.
Pada akhirnya, Bika Ambon mengingatkan kita bahwa yang paling melekat dalam ingatan bukan selalu tempat sebuah cerita dimulai, melainkan tempat yang memilih menjaga cerita itu tetap hidup. @anisa







