Aksi mahasiswa di Jalan MH Thamrin memanas setelah pembakaran ban memicu benturan dengan aparat. Di balik kericuhan, 11 tuntutan besar menggugat kebijakan ekonomi, pendidikan, dan pemerintahan.
Tabooo.id: Jakarta – Asap hitam membelah langit Jakarta saat sore mulai meredup. Di Jalan MH Thamrin, Senin (15/6/2026), ratusan mahasiswa meneriakkan tuntutan mereka di tengah kepungan aparat keamanan. Ketegangan memuncak ketika massa membakar ban di tengah jalan, lalu menjadikan titik itu sebagai simbol perlawanan terhadap kebijakan yang mereka nilai semakin menjauh dari rakyat.
Sekitar pukul 17.45 WIB, kobaran api mulai membesar di lokasi aksi. Aparat kepolisian segera bergerak menuju sumber api sambil membawa alat pemadam api ringan (APAR). Petugas kemudian menyemprotkan isi tabung untuk memadamkan ban yang terbakar.
Langkah itu memicu ketegangan baru. Sejumlah mahasiswa berusaha mempertahankan titik aksi, sementara aparat terus mendorong maju untuk mengendalikan situasi. Kedua pihak terlibat aksi saling dorong selama beberapa saat.
Meski suasana memanas, aparat tetap menjaga barisan pengamanan. Di sisi lain, massa aksi memilih bertahan dan kembali menyusun barisan demonstrasi. Polisi juga menempatkan personel di sejumlah titik sekitar lokasi guna mengantisipasi gangguan keamanan.
Thamrin Jadi Panggung Kemarahan Mahasiswa
Aliansi Persatuan Rakyat Indonesia Anti Imperialis memimpin aksi tersebut. Aliansi itu menghimpun berbagai organisasi mahasiswa dan gerakan rakyat, termasuk Front Mahasiswa Nasional (FMN), GMNI, serta sejumlah organisasi lainnya.
Mereka awalnya berencana menyampaikan aspirasi di kawasan Bundaran HI. Namun aparat menghentikan pergerakan massa di Jalan MH Thamrin. Karena itu, mahasiswa akhirnya menyampaikan tuntutan mereka di lokasi tersebut.
Pada waktu yang hampir bersamaan, mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) juga menggelar aksi di lokasi berbeda dengan membawa agenda yang serupa.
Sebelas Tuntutan, Satu Pesan Besar
Mahasiswa datang bukan hanya untuk berorasi. Mereka membawa sebelas tuntutan yang menyasar berbagai sektor strategis, mulai dari ekonomi, pendidikan, ketenagakerjaan, hingga tata kelola pemerintahan.
Mereka mendesak pemerintah menghentikan kenaikan harga BBM dan bahan pokok, mereka juga meminta pemerintah segera memperkuat nilai tukar rupiah yang terus menghadapi tekanan.
Selain itu, massa menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan koperasi desa merah putih yang mereka anggap rawan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Mereka juga meminta pemerintah menghentikan gelombang PHK yang terus mengancam kesejahteraan buruh.
Dalam bidang keamanan, mahasiswa mendesak pemerintah mencabut UU Polri dan menghentikan pembangunan batalion teritorial TNI. Mereka menilai kebijakan tersebut berpotensi memperluas kontrol negara terhadap ruang sipil.
Di sektor pendidikan, massa menolak program sekolah rakyat. Mereka meminta pemerintah menjalankan amanat konstitusi dengan mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20 persen secara merata, terutama untuk wilayah 3T.
Massa juga mendesak pemerintah membuka secara transparan mekanisme pengelolaan BPI Danantara. Di sisi lain, mereka meminta Presiden mengevaluasi bahkan mencopot Menteri Keuangan, Menteri Koordinator Perekonomian, dan Menteri ESDM karena dianggap gagal menjaga stabilitas sektor masing-masing.
Bukan Sekadar Kericuhan
Banyak orang mungkin hanya melihat asap hitam, ban terbakar, dan aksi saling dorong di Jalan MH Thamrin. Namun pemandangan itu hanya permukaan dari persoalan yang jauh lebih besar.
Mahasiswa sesungguhnya membawa keresahan yang saat ini juga dirasakan banyak masyarakat. Harga kebutuhan pokok terus menjadi tekanan. Ancaman PHK menghantui pekerja. Nilai rupiah menghadapi tantangan. Sementara itu, publik terus mempertanyakan efektivitas sejumlah program pemerintah.
Karena itu, demonstrasi ini bukan sekadar peristiwa jalanan. Aksi tersebut mencerminkan ketegangan sosial yang semakin terasa di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
Ketika Jalanan Menjadi Ruang Koreksi
Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa mahasiswa sering menjadi kelompok pertama yang menyuarakan kegelisahan publik. Ketika ruang diskusi terasa sempit dan kritik sulit menemukan tempat, jalanan kerap berubah menjadi panggung koreksi.
Api yang menyala di atas ban akhirnya padam. Aparat berhasil mengendalikan situasi. Namun sebelas tuntutan yang menggema di Jalan MH Thamrin masih menunggu jawaban.
Sebab yang terbakar sore itu bukan hanya ban bekas.
Yang ikut menyala adalah akumulasi kegelisahan tentang ekonomi, pekerjaan, pendidikan, dan masa depan yang ingin diperjuangkan generasi muda. @dimas







