Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Purbaya Dinobatkan, Mangkubumi Masih Mengklaim

by sigit
November 17, 2025
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Di tanah Jawa yang pernah melahirkan dinasti-dinasti besar, kita kembali dihadapkan pada satu pertanyaan yang tak lekang digerus zaman: apa arti sebuah takhta ketika keluarga sendiri terpecah oleh hasrat akan kuasa? Keraton Surakarta, tempat ribuan ritual sakral dijaga turun-temurun, kini memantulkan bayangan getir tentang perebutan legitimasi yang tak kunjung padam. Di balik alunan gamelan dan aroma kemenyan, ada bara kecil yang terus menyala bara yang menunjukkan bahwa bahkan tradisi paling tua pun rapuh di tangan manusia modern yang masih mencintai simbol kekuasaan lebih dari maknanya.


Sabtu (15/11) menjadi penanda babak baru drama panjang suksesi.
KGPAA Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram atau Gusti Purbaya resmi naik takhta sebagai SISKS Pakubowono XIV dalam Jumenengan Dalem Nata Binayangkare di Bangsal Manguntur Tangkil. Di hadapan sentana dan abdi dalem, ia mengucap sabda pertama, lengkap dengan nama gelar sepanjang riwayat yang mengandung sejarah, doa, dan legitimasi.

Dalam titahnya, sang raja baru mengikat diri pada tiga janji:

  1. Memimpin berdasarkan syariat Islam serta paugeran adat.
  2. Mendukung NKRI lahir batin.
  3. Melestarikan budaya Jawa peninggalan dinasti Mataram.

Tiga janji yang indah di atas kertas dan mulia dalam tradisi. Namun, seperti yang sering terjadi di keraton mana pun baik fisik maupun metaforis kekuatan sebuah janji selalu ditentukan oleh siapa yang mengaku memiliki kebenaran.

Sebab di luar tembok keraton, dualisme kekuasaan semakin tebal.
Sang kakak, KGPH Hangabehi (Mangkubumi), tetap bersikukuh sebagai pewaris sah. Ia bahkan telah lebih dulu menyandang titel tandingan: SISKS Pakubuwana XIV. Maka, dua raja kini berdiri di atas satu takhta. Dan seperti sejarah telah malang-melintang mengajarkan: kerajaan hanya butuh satu raja, tetapi selalu melahirkan lebih dari satu ambisi.

Ini Belum Selesai

Berani Speak Up di Depan Juri: Sikap Kritis atau Tanda Mental Anak Makin Sehat?

Perempuan Pembela HAM: Antara Keberanian Melawan dan Risiko Kehilangan Hidup

Keraton Surakarta berada di persimpangan: antara legitimasi adat, loyalitas trah, dan tarik-menarik pengaruh yang tak pernah sepenuhnya terlihat. Purbaya memang sudah dinobatkan. Tetapi masa depan? Masih berlapis kabut.


Tabooo melihat situasi ini bukan sekadar konflik internal kerabat keraton. Ini adalah cermin telanjang dari persoalan yang lebih besar dalam kebudayaan kita: kita begitu mencintai simbol, bahkan ketika maknanya mulai mengabur.
Jika takhta hanya dijadikan arena gengsi, apa gunanya paugeran? Jika tradisi dipakai sebagai tameng legitimasi, apa kabar nilai luhur yang katanya dijaga?

Keraton bukan hanya rumah raja dan darah biru. Keraton adalah rumah memori kolektif Jawa. Dan ketika memori itu direcoki perebutan status, siapa sebenarnya yang sedang kita selamatkan? Raja? Keluarga? Atau hanya ego yang berlomba menguasai narasi?

Redaksi Tabooo percaya:
Tradisi hanya hidup ketika nilai yang dikandungnya lebih penting daripada siapa yang memakai mahkotanya.


Dua raja, satu takhta, dan rakyat yang hanya bisa menonton dari luar tembok. Maka pertanyaannya kini sederhana tapi mengusik:
Apakah Keraton Surakarta sedang menjaga warisan, atau justru sedang kehilangan dirinya sendiri pelan-pelan?

Waktu yang akan menjawab. Tapi sejarah selalu punya satu kebiasaan buruk:
ia tak pernah memihak mereka yang lupa pada makna. (sig)

Tags: KGPAA HamangkunagorokratonKraton SoloPB XIIIPB XIVRaja BaruSurakartatahta

Kamu Melewatkan Ini

Becak Tidak Mati. Mereka Hanya Disembunyikan.

Becak Tidak Mati: Mereka Hanya Disembunyikan

by jeje
Mei 6, 2026

Pagi belum benar-benar terang ketika Slamet mengayuh becaknya pelan di sudut kota. Roda tuanya berderit kecil. Tangannya kasar. Punggungnya sedikit...

Bukan Skill, Tapi Kepatuhan: Cara Baru Sistem Memilih Manusia

Bukan Skill, Tapi Kepatuhan: Cara Baru Sistem Memilih Manusia

by jeje
Mei 1, 2026

Kita selalu percaya pengalaman adalah kunci. Tapi di sini, tidak ada yang bertanya kamu sudah sejauh apa belajar. Sistem hanya...

Ikuti Aturan atau Ikut Ego: Kamu di Kubu Mana?

Ikuti Aturan atau Ikut Ego: Kamu di Kubu Mana?

by jeje
Mei 1, 2026

Kita sering bilang dunia kerja butuh orang pintar. Tapi kalau kamu diminta diam tanpa alasan, kamu masih mau ikut? Atau...

Next Post
Purbaya di Watu Gilang: Keberanian Seorang Raja Baru

Purbaya di Watu Gilang: Keberanian Seorang Raja Baru

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id