Dadan Hindayana dicopot dari jabatan Kepala BGN setelah berbagai persoalan membayangi Program Makan Bergizi Gratis yang melayani jutaan siswa.
Tabooo.id: Reality – Presiden Prabowo Subianto merombak pucuk pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN). Ia memberhentikan Dadan Hindayana dari jabatan Kepala BGN dan menunjuk Nanik Sudaryati Deyang sebagai penggantinya pada Selasa (2/6/2026) malam.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengumumkan keputusan itu langsung dari Istana Negara. Presiden juga mengganti dua wakil kepala BGN dalam perombakan yang sama.
Pergantian tersebut datang di tengah sorotan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu proyek sosial terbesar sekaligus program unggulan pemerintahan Prabowo.
Bagi publik, pergantian ini bukan sekadar kabar birokrasi. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah ingin merespons persoalan yang terus membayangi pelaksanaan MBG selama satu tahun terakhir.
Program Besar, Masalah Besar
Saat Prabowo memperkenalkan MBG dalam kampanye Pilpres 2024, publik melihat program ini sebagai investasi besar untuk masa depan anak Indonesia.
Pemerintah menjanjikan perbaikan kualitas gizi, peningkatan kesehatan siswa, dan penguatan sumber daya manusia jangka panjang.
Namun realitas di lapangan tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Sejumlah kasus keracunan makanan muncul di berbagai daerah. Korbannya sebagian besar merupakan siswa penerima manfaat MBG. Setiap kejadian memunculkan pertanyaan yang sama apakah sistem pengawasan program ini benar-benar siap melayani puluhan juta orang setiap hari?
BGN kemudian menghentikan operasional sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terindikasi bermasalah dalam proses produksi maupun distribusi makanan.
Data hingga 29 Mei 2026 menunjukkan skala persoalan yang cukup serius. Dari 27.208 SPPG yang beroperasi di seluruh Indonesia, sebanyak 8.182 unit pernah mengalami suspend.
Artinya, hampir satu dari tiga dapur pelaksana MBG pernah menghadapi persoalan yang cukup serius hingga memerlukan intervensi langsung.
Ketika Skala Menjadi Tantangan
Program MBG kini melayani lebih dari 61 juta penerima manfaat. Dari jumlah tersebut, sekitar 49 juta merupakan siswa sekolah.
Angka itu menunjukkan bahwa MBG telah berubah dari janji kampanye menjadi infrastruktur sosial nasional.
Masalahnya, semakin besar sebuah program, semakin kecil ruang untuk melakukan kesalahan.
Satu dapur yang gagal menjaga standar keamanan pangan bisa berdampak pada ratusan anak. Satu kesalahan distribusi dapat mengganggu kepercayaan masyarakat terhadap keseluruhan program.
Karena itu, tantangan utama MBG bukan lagi soal memperluas jangkauan. Tantangan terbesarnya justru menjaga kualitas dan keamanan dalam skala yang sangat besar.
Nanik Mewarisi Pekerjaan Rumah yang Tidak Ringan
Nanik Sudaryati Deyang bukan orang baru di lingkungan BGN. Sebelum menjabat kepala lembaga, ia memimpin bidang Komunikasi Publik dan Investigasi.
Posisi itu membuatnya memahami berbagai persoalan yang muncul selama implementasi MBG.
Namun pemahaman saja tidak cukup.
Nanik kini harus memperkuat sistem pengawasan ribuan dapur MBG, meningkatkan standar keamanan pangan, serta memulihkan kepercayaan publik yang mulai tergerus akibat berbagai insiden.
Ia juga harus memastikan bahwa pertumbuhan program tidak mengorbankan kualitas layanan.
Tugas tersebut tidak sederhana. Sebab publik tidak menilai program dari jumlah anggaran atau banyaknya penerima manfaat. Publik menilai program dari pengalaman nyata yang mereka rasakan setiap hari.
Ini Bukan Sekadar Pergantian Kepala BGN
Pergantian Dadan Hindayana menyampaikan pesan yang lebih besar daripada sekadar pergantian pejabat.
Pemerintah tampaknya ingin menunjukkan bahwa keberhasilan MBG tidak boleh hanya diukur dari jumlah porsi makanan yang dibagikan. Pemerintah juga harus menjamin keamanan, kualitas, dan akuntabilitas setiap porsi yang sampai ke tangan anak-anak Indonesia.
Di sinilah persoalan sebenarnya muncul.
Selama ini perdebatan tentang MBG lebih banyak berfokus pada anggaran, target penerima, dan perluasan jaringan. Padahal akar tantangannya berada pada tata kelola.
Program sebesar apa pun akan kehilangan legitimasi jika kualitas pengawasannya tertinggal dari kecepatan ekspansinya.
Karena itu, pencopotan Dadan bukan sekadar pergantian nama di struktur organisasi.
Ini adalah upaya memperbaiki mesin yang sedang berjalan.
Dan bagi jutaan keluarga Indonesia, pertanyaannya tetap sederhana: ketika anak mereka menerima makanan dari negara, apakah negara mampu menjamin makanan itu aman, sehat, dan layak dikonsumsi?
Itulah ujian sesungguhnya yang kini berada di tangan Nanik Sudaryati Deyang. @dimas







