Dugaan keracunan massal kembali mencuat setelah ratusan pelajar dan guru di sebuah sekolah menengah pertama di Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Insiden ini memunculkan kembali pertanyaan serius tentang pengawasan keamanan pangan dalam program gizi nasional yang menyasar anak sekolah.
Tabooo.id: Regional – Ratusan siswa dan guru di Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (28/4/2026). Sebanyak 189 orang melaporkan gejala mual, muntah, sakit perut, pusing, hingga diare. Pemerintah daerah langsung menutup dapur penyedia makanan, SPPG Sorogaten, selama tiga hari untuk evaluasi, sementara petugas kesehatan memeriksa sampel makanan di laboratorium kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta guna memastikan penyebab kejadian tersebut.
Dinas Kesehatan Klaten mencatat 189 siswa dan guru mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu MBG. Para siswa mulai merasakan gejala beberapa waktu setelah makan. Sebagian dari mereka kemudian mendatangi puskesmas dan rumah sakit untuk memeriksakan diri.
Kepala Dinas Kesehatan Klaten, Anggit Budiarto, menyatakan tenaga kesehatan terus memantau kondisi para korban.
“Yang mengeluhkan gejala keracunan ada 189 orang. Hingga hari ini sembilan orang menjalani perawatan di puskesmas dan dua orang dirawat di rumah sakit,” kata Anggit, Rabu (29/4/2026).
Petugas kesehatan menelusuri riwayat makanan yang dikonsumsi para siswa sebelum gejala muncul. Hasil penelusuran menunjukkan seluruh korban memakan menu MBG yang sama. Pada hari kejadian, dapur penyedia makanan menyajikan telur puyuh, gelantin, dan sup timlo.
Untuk memastikan sumber masalah, petugas mengambil sampel makanan MBG dan mengirimkannya ke laboratorium kesehatan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tim laboratorium memperkirakan hasil pengujian keluar dalam lima hingga tujuh hari.
SPPG Ditutup Sementara
Pemerintah Kabupaten Klaten kemudian memeriksa dapur penyedia makanan program tersebut, yaitu SPPG Sorogaten. Tim inspeksi menemukan beberapa masalah dalam penerapan standar operasional.
Bupati Kabupaten Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, menjelaskan sejumlah fasilitas penting tidak berfungsi optimal.
“Fasilitas pendingin atau cool storage tidak bekerja maksimal. Gudang penyimpanan bahan kering juga tidak memiliki pendingin ruangan. Selain itu, instalasi pengolahan air limbah belum memenuhi ketentuan,” ujarnya.
Pemerintah daerah kemudian mengusulkan kepada Badan Gizi Nasional untuk menghentikan sementara operasional SPPG Sorogaten selama tiga hari. Pengelola dapur diminta memperbaiki fasilitas dan memperketat penerapan standar operasional.
Hamenang menegaskan seluruh pengelola SPPG harus menjalankan SOP secara disiplin agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Program ini bertujuan mendukung anak-anak menjadi sehat, kuat, dan cerdas. Karena itu pengelola harus menjalankannya secara maksimal tanpa menimbulkan masalah,” katanya.
Pemerintah daerah juga memastikan tenaga medis terus menangani siswa dan guru yang terdampak melalui layanan puskesmas dan rumah sakit sambil menunggu hasil uji laboratorium.
Kasus Serupa Terjadi di Demak
Kasus dugaan keracunan setelah menyantap menu MBG sebelumnya juga muncul di Kabupaten Demak pada 18 April 2026. Saat itu 187 orang mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi menu program tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Demak, Ali Maimun, menyatakan hasil pemeriksaan laboratorium menemukan kontaminasi bakteri Escherichia coli pada beberapa menu makanan.
Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya pengawasan ketat terhadap keamanan pangan dalam program MBG. Tanpa pengelolaan yang disiplin dan higienis, program yang bertujuan meningkatkan gizi anak sekolah justru berpotensi memicu masalah kesehatan baru. @dimas





