Reformasi jilid dua kembali digelorakan saat anak muda mulai mempertanyakan kegagalan reformasi 1998 dan memilih perubahan damai dibanding revolusi total.
Tabooo.id – Di banyak sudut kota, terutama di jalanan yang dipenuhi poster dan pengeras suara, satu kalimat mulai terdengar lagi reformasi jilid dua.
Kalimat itu terasa akrab, tetapi sekaligus menyimpan ironi besar. Generasi muda justru menghidupkan kembali istilah yang dianggap gagal oleh sejarah.
Mereka tahu reformasi 1998 tidak benar-benar mematikan korupsi, kolusi, dan nepotisme, mereka tumbuh di tengah demokrasi yang mengaku bebas, tetapi kritik masih sering dibungkam dan mereka juga melihat pejabat terus berganti, sementara pola kekuasaan tetap berputar di lingkar yang sama.
Karena itu, muncul pertanyaan besar kalau reformasi dulu gagal, kenapa anak muda sekarang tetap memilih reformasi, bukan revolusi?
Reformasi 1998 Mengganti Rezim, Bukan Sistem
Reformasi 1998 lahir dari kemarahan publik terhadap Orde Baru. Krisis ekonomi, ketidakadilan politik, dan praktik korupsi mendorong mahasiswa serta masyarakat sipil turun ke jalan.
Saat itu, rakyat berhasil menjatuhkan Soeharto. Indonesia memasuki era demokrasi baru. Pers menjadi lebih bebas. Pemilu berlangsung lebih terbuka. Ruang kritik mulai tumbuh.
Namun, reformasi ternyata tidak sepenuhnya membongkar sistem lama.
Korupsi tetap hidup. Dinasti politik muncul di banyak daerah. Oligarki berubah wajah menjadi lebih modern dan lebih rapi. Politik akhirnya terlihat seperti lingkar elite yang terus berputar di nama-nama yang sama.
Ironisnya, rakyat kembali mendengar istilah yang dulu paling dibenci: nepotisme.
Hari ini praktik itu hadir dengan jas demokrasi dan bahasa pembangunan. Karena itu, banyak anak muda mulai melihat reformasi 1998 sebagai perubahan yang berhenti di tengah jalan.
Kenapa Anak Muda Tidak Memilih Revolusi?
Di tengah kekecewaan itu, muncul pertanyaan yang lebih tajam kenapa tidak revolusi sekalian?
Secara sederhana, revolusi berarti perubahan total terhadap sistem lama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, revolusi identik dengan perubahan ketatanegaraan atau sistem sosial yang berlangsung drastis dan sering memakai kekerasan.
Filsuf Yunani Aristoteles menjelaskan revolusi sebagai perubahan menyeluruh dari satu sistem menuju sistem yang benar-benar berbeda.
Karena itu, revolusi sering melahirkan penggulingan besar terhadap kekuasaan.
Namun, sejarah juga memperlihatkan sisi gelap revolusi.
Banyak negara runtuh setelah revolusi karena konflik berkepanjangan, perang saudara, dan perebutan kekuasaan baru. Revolusi memang mampu melahirkan perubahan cepat, tetapi perubahan itu sering meninggalkan luka sosial yang jauh lebih besar.
Anak muda hari ini tampaknya memahami risiko tersebut.
Mereka marah pada negara, tetapi belum tentu ingin menghancurkan negara sepenuhnya. Mereka menginginkan perubahan besar, namun masih percaya sistem dapat diperbaiki tanpa perang dan pertumpahan darah.
Karena itulah reformasi jilid dua terasa seperti jalan tengah: cukup keras untuk melawan, tetapi belum sampai meruntuhkan seluruh fondasi negara.
Reformasi Jilid Dua Dinilai Berisiko Mengulang Kegagalan
Meski begitu, kritik terhadap reformasi jilid dua terus bermunculan.
Sebagian orang menilai reformasi hanya menjadi siklus kemarahan yang berulang. Rakyat kecewa, mahasiswa turun ke jalan, pemerintah berjanji berubah, lalu sistem kembali berjalan seperti biasa.
Pola itu terasa sangat familiar.
Elite lama pergi, kemudian elite baru muncul dengan wajah lebih muda dan slogan lebih modern. Namun, ketimpangan tetap hidup. Korupsi terus tumbuh. Rakyat kecil tetap berada di posisi paling bawah.
Situasi itu membuat banyak orang pesimistis terhadap reformasi jilid dua.
Mereka khawatir gerakan tersebut hanya menghasilkan pergantian tokoh tanpa perubahan sistem. Masalah terbesar reformasi Indonesia sejak awal memang terlihat jelas: negara terlalu sibuk mengganti pemain, tetapi enggan membongkar panggung kekuasaan.
Anak Muda Tidak Sedang Bernostalgia
Walau begitu, reformasi jilid dua tidak lahir dari nostalgia semata.
Generasi muda sekarang hidup di zaman berbeda. Mereka tumbuh di era digital dan menyaksikan ketimpangan lewat layar telepon genggam setiap hari. Mereka melihat kritik bisa viral dalam hitungan menit, tetapi juga cepat tenggelam oleh buzzer, intimidasi, dan polarisasi politik.
Karena itu, reformasi jilid dua lebih terasa sebagai simbol kemarahan generasi muda terhadap demokrasi yang kehilangan arah.
Mereka tidak hanya menuntut pergantian presiden atau menteri. Mereka mulai mempertanyakan siapa yang sebenarnya mengendalikan negara.
Kenapa kebijakan sering terasa jauh dari rakyat?
Kenapa kekayaan hanya berputar di lingkar elite?
Dan kenapa suara publik baru dianggap penting ketika jalanan mulai penuh?
Reformasi atau Revolusi, Rakyat Tetap Mengejar Keadilan
Pada akhirnya, perdebatan reformasi dan revolusi berangkat dari kegelisahan yang sama: rakyat ingin hidup lebih adil.
Sebagian orang percaya perubahan harus berjalan damai lewat reformasi. Sebagian lain mulai merasa sistem terlalu rusak untuk diperbaiki secara perlahan.
Namun, satu hal terlihat jelas: generasi muda mulai kehilangan kesabaran terhadap demokrasi yang terlalu sering menjual harapan tanpa perubahan nyata.
Karena itu, reformasi jilid dua bukan sekadar slogan jalanan.
Istilah itu menjadi tanda bahwa kemarahan terus tumbuh, terutama dari anak muda yang merasa masa depannya semakin sempit.
Pertanyaannya sekarang bukan hanya apakah reformasi jilid dua akan berhasil.
Pertanyaannya: apakah negara masih mau mendengar sebelum kemarahan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih besar daripada reformasi? @dimas





