Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Yovie: AI Bisa Bikin Lagu, Tapi Tak Punya Hati

by eko
Mei 22, 2026
in Reality
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter
AI bisa bikin lagu, tapi tak punya hati. Kalimat itu menjadi kegelisahan utama Yovie Widianto saat berbicara dalam sesi Music Talks di Jogja Financial Festival 2026. Di tengah ledakan teknologi generatif, Yovie mengingatkan bahwa musik sejatinya lahir dari pengalaman manusia dari luka, cinta, kehilangan, hingga perjalanan emosional yang tidak bisa diprogram mesin.

Tabooo.id: Yogyakarta – Di tengah derasnya musik buatan mesin, Yovie mengingatkan satu hal yang mulai langka: hati manusia. Menurutnya, AI memang mampu menghasilkan musik dalam hitungan menit. Namun kreativitas sejati tetap lahir dari pengalaman, emosi, dan perjalanan batin yang tidak bisa diprogram.

Jogja dan Kreativitas yang Tidak Akan Habis

Dalam sesi Music Talks JFF 2026, Yovie melontarkan kalimat yang langsung menyentuh keresahan banyak pekerja kreatif.

“AI bisa presisi, tapi tidak punya hati. Maka dari hati, kita perlu berjuang.” ungkapnya.

Ucapan itu terdengar sederhana. Namun di tengah industri kreatif yang mulai dibanjiri teknologi generatif, kalimat tersebut terasa seperti peringatan.

Yovie menilai Jogja memiliki kekuatan besar di sektor kreativitas. Baginya, sumber daya alam bisa habis. Akan tetapi, ide dan karya manusia tidak akan pernah benar-benar hilang.

“Jogja gudang musik. Semangat kerja keras. Sumber daya alam habis. Tapi karya dan pemikiran kreatif tidak akan habis,” ujarnya.

Menurut Yovie, kota seperti Jogja hidup dari energi kreatif anak mudanya. Musik, seni, dan gagasan baru terus tumbuh karena lahir dari pengalaman manusia yang nyata.

Ini Belum Selesai

Tragedi Sibolangit: Empat Nyawa Melayang di Jalur Medan-Berastagi

Vivo T5 Lite Resmi Meluncur, Bawa Baterai 6.500 mAh dan Fast Charging 44W

Ketika Mesin Mulai Meniru Manusia

Dunia musik kini sedang menghadapi perubahan besar. AI sudah mampu membuat lagu, lirik, bahkan aransemen hanya dalam sekali klik. Proses yang dulu membutuhkan waktu panjang kini bisa selesai dalam hitungan menit.

Namun bagi Yovie, musik bukan sekadar hasil akhir.

Di balik sebuah lagu, ada rasa kecewa, kehilangan, patah hati, dan perjuangan hidup. Semua itu membentuk karakter sebuah karya. Mesin mungkin bisa meniru pola nada. Tetapi mesin tidak pernah benar-benar memahami rasa ditinggalkan atau gagal sebagai manusia.

Karena itu, banyak pekerja kreatif mulai merasa cemas. Mereka mempertanyakan apakah proses panjang dalam berkarya masih memiliki nilai ketika teknologi mampu menghasilkan sesuatu yang terlihat serupa dalam waktu singkat.

AI Bukan Musuh, Tapi Tidak Bisa Menggantikan Jiwa

Meski demikian, Yovie tidak melihat AI sebagai musuh. Ia percaya manusia dan teknologi seharusnya berjalan berdampingan.

Menurutnya, AI bisa membantu mempercepat proses produksi. Namun inti kreativitas tetap berada di tangan manusia. Sebab karya bukan hanya soal presisi, melainkan juga tentang rasa yang hidup di dalamnya.

Di titik ini, pembicaraan tentang AI sebenarnya bukan sekadar soal teknologi. Ini tentang identitas manusia di era serba instan.

Karena mungkin suatu hari mesin bisa membuat jutaan lagu.

Tetapi tidak semua lagu bisa lahir dari luka yang nyata. @eko

Tags: AIJogja Financial Festivalmusik indonesiaYogyakarta

Kamu Melewatkan Ini

Pecel Bukan Lahir di Madiun? Jejak Sejarahnya Justru Berawal dari Tanah Mataram

Pecel Bukan Lahir di Madiun? Jejak Sejarahnya Justru Berawal dari Tanah Mataram

by jeje
Juli 16, 2026

Bagaimana jika selama ini kita salah mengenal asal-usul pecel? Madiun memang sukses membangun reputasi nasi pecel sebagai identitas daerah. Namun,...

AI Makin Canggih, Mengapa Digital Indonesia Kian Rentan?

AI Makin Canggih, Mengapa Digital Indonesia Kian Rentan?

by dimas
Juli 16, 2026

AI makin canggih, tetapi ruang digital Indonesia justru kian rentan. Ancaman siber, deepfake, dan krisis kepercayaan menjadi alarm baru. Tabooo.id...

Kantata Takwa, Bento, Bongkar: Ketika Kritik Lama Bertemu Elite Masa Kini

Kantata Takwa, Bento, Bongkar: Ketika Kritik Lama Bertemu Elite Masa Kini

by teguh
Juni 21, 2026

Malam itu, Stadion Utama Gelora Bung Karno tidak hanya menjadi lokasi konser Kantata Takwa. Lebih dari seratus ribu orang memenuhi...

Next Post
Negeri yang Ribut Bicara, Tapi Malas Berpikir

Negeri yang Ribut Bicara, Tapi Malas Berpikir

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id