Data ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen, tetapi publik tetap merasa hidup semakin berat. Purbaya menilai media sosial ikut membentuk keresahan ekonomi masyarakat.
Tabooo.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadhewa melontarkan pengakuan yang terdengar jujur sekaligus menggelitik saat tampil di Jogja Financial Festival (JFF) 2026 di Jogja Expo Center, Jumat (22/5/2026).
Ia mengaku bingung.
Bagaimana mungkin inflasi tetap rendah, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen, dan konsumsi masyarakat meningkat, tetapi publik justru merasa hidup semakin berat?
Mengapa banyak orang mengeluh harga kebutuhan naik, lapangan kerja sulit, dan pemutusan hubungan kerja terus muncul, sementara data resmi negara menunjukkan ekonomi masih tumbuh?
Di tengah diskusi bersama Founder CT Corp Chairul Tanjung, Purbaya akhirnya melontarkan kesimpulan yang langsung memancing perhatian publik.
“Setelah saya analisa lebih lanjut, ternyata itu kebanyakan adalah analisa ekonom di TikTok,” katanya.
Ruangan langsung dipenuhi tawa kecil. Namun di balik kalimat itu, muncul persoalan yang jauh lebih besar dibanding candaan soal media sosial.
Indonesia hari ini menghadapi pertarungan baru: pertarungan antara data resmi negara dan realitas emosional yang hidup di timeline publik.
Ketika Statistik Kehilangan Pengaruh
Diskusi itu bermula saat Chairul Tanjung mempertanyakan jarak yang semakin terasa antara statistik pemerintah dan pengalaman hidup masyarakat sehari-hari.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen. Inflasi terkendali. Tingkat pengangguran terbuka turun. Angka kemiskinan ikut menurun.
Namun di luar ruang statistik, keresahan publik justru terus membesar.
Sebagian masyarakat merasa harga kebutuhan hidup semakin mahal. Banyak anak muda mengaku sulit mencari pekerjaan. Gelombang PHK juga terus menghantui sejumlah sektor industri.
Media sosial kemudian memperkuat keresahan itu lewat video pendek, potongan grafik, dan narasi pesimistis tentang ekonomi Indonesia.
Chairul Tanjung lalu mengajukan pertanyaan penting: apakah ada jurang antara data statistik dan kenyataan yang dirasakan masyarakat?
Pertanyaan itu terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar.
Saat publik mulai meragukan data negara, yang runtuh bukan cuma angka statistik. Rasa percaya terhadap keadaan ikut melemah.
Di era digital, rasa percaya sering kalah cepat dibanding algoritma.
TikTok dan Produksi Ketakutan Ekonomi
Purbaya kemudian menjelaskan bahwa dirinya mengecek ulang sejumlah indikator ekonomi. Ia menemukan penjualan mobil meningkat. Penjualan motor naik. Konsumsi listrik tumbuh. Penjualan semen bergerak positif. Penggunaan bahan bakar minyak juga terus naik.
Menurutnya, data itu menunjukkan daya beli masyarakat masih cukup kuat.
“Konsumsi masyarakat trennya masih naik kencang. Artinya kelihatannya daya beli masyarakat nggak sejelek yang dikatakan oleh ekonom-ekonom di TikTok,” ujar Purbaya.
Kalimat itu terdengar satir. Namun justru di situlah inti persoalannya.
Hari ini, media sosial bukan lagi sekadar ruang hiburan. TikTok berubah menjadi ruang produksi opini ekonomi massal.
Masalahnya, algoritma bekerja berdasarkan emosi, bukan akurasi.
Konten yang menakutkan biasanya lebih cepat viral dibanding penjelasan ekonomi yang rumit. Video bertema “Indonesia mau krisis”, “ekonomi hancur”, atau “masa depan generasi muda suram” jauh lebih mudah menarik perhatian dibanding laporan statistik resmi.
Akibatnya, banyak orang mulai membangun persepsi ekonomi berdasarkan potongan video pendek, bukan pemahaman utuh.
Publik akhirnya tidak hanya hidup berdasarkan kondisi ekonomi nyata.
Mereka juga hidup berdasarkan rasa cemas yang terus muncul setiap hari.
Negara Bicara Angka, Publik Bicara Pengalaman
Tetapi persoalannya tidak sesederhana “TikTok salah” atau “masyarakat terlalu pesimis”.
Pengalaman hidup masyarakat tetap nyata.
Banyak keluarga memang merasa pengeluaran semakin besar. Banyak pekerja muda merasakan persaingan kerja semakin keras. Sebagian kelas menengah mulai menghadapi tekanan ekonomi yang terus meningkat.
Di titik itu, konflik besar mulai terlihat.
Negara berbicara lewat angka.
Publik berbicara lewat pengalaman hidup.
Dan pengalaman sehari-hari sering terasa lebih kuat dibanding statistik nasional.
Seseorang mungkin tidak membaca laporan inflasi. Tetapi ia sadar harga makan siang langganannya naik. Ia mungkin tidak memahami data pertumbuhan ekonomi. Namun ia merasakan biaya hidup semakin berat setiap bulan.
Karena itu, perdebatan ekonomi hari ini bukan lagi sekadar soal data benar atau salah.
Persoalannya berubah menjadi soal kepercayaan.
Siapa yang lebih dipercaya publik: data resmi negara atau keresahan kolektif yang muncul di media sosial?
Algoritma Pesimisme dan Industri Konten Krisis
Di era digital, ketakutan berubah menjadi komoditas.
Konten pesimistis sering mendapat perhatian lebih besar karena manusia secara alami lebih responsif terhadap ancaman dibanding kabar baik. Algoritma media sosial memahami pola itu dengan sangat baik.
Semakin menakutkan isi konten, semakin lama orang menonton.
Semakin emosional narasinya, semakin tinggi interaksinya.
Dari situ muncul fenomena baru: industri pesimisme digital.
Siapa pun kini bisa tampil sebagai “ekonom TikTok” hanya dengan kamera ponsel, potongan data, dan narasi krisis. Banyak kreator membungkus konten ekonomi dengan gaya dramatis dan emosional meski sering kehilangan konteks utuh.
Lama-kelamaan, publik mulai memandang ekonomi melalui rasa takut, bukan analisis menyeluruh.
Ironisnya, rasa takut itu ikut memengaruhi ekonomi nyata.
Ketika masyarakat terlalu takut belanja, konsumsi melambat.
Ketika publik terus merasa pesimis, kepercayaan ekonomi ikut turun.
Padahal ekonomi sangat bergantung pada keyakinan masyarakat terhadap masa depan.
Ini Bukan Sekadar Debat Statistik
Purbaya juga menjawab kritik yang menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya bergantung pada belanja pemerintah. Menurutnya, Presiden mendorong distribusi belanja negara lebih merata sejak awal tahun sehingga pertumbuhan belanja pemerintah mencapai 21,8 persen.
Namun dari total pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen, konsumsi rumah tangga justru menyumbang 2,94 persen dan investasi mencapai 1,79 persen.
“Di sini kelihatan sekali bahwa belanja masyarakat kita masih kuat,” kata Purbaya.
Tetapi angka tetap tidak selalu mampu menghapus kecemasan publik.
Di tengah dunia digital hari ini, manusia tidak hanya mengonsumsi barang.
Mereka juga mengonsumsi ketakutan.
Dan mungkin, di situlah inti persoalan ekonomi modern sekarang.
Ini bukan sekadar pertarungan antara data negara dan ekonom TikTok.
Ini pertarungan antara realitas statistik dan emosi publik yang terus dibentuk algoritma setiap hari.
Lalu pertanyaannya menjadi semakin rumit: ketika masyarakat lebih percaya timeline dibanding data resmi, siapa sebenarnya yang sedang mengendalikan cara kita melihat keadaan? @dimas




