Marhaenisme bukan sekadar slogan rakyat miskin dalam pidato politik Soekarno. Ia lahir sebagai bahasa untuk membaca rakyat kecil yang bekerja keras, punya alat hidup, tapi tetap kalah oleh struktur ekonomi. Dari sana, Soekarno mencoba membangun teori politik yang tidak melayang di langit ideologi, melainkan tumbuh dari tanah Indonesia.

Tabooo.id – Marhaenisme Soekarno lahir dari kegelisahan sederhana: politik terlalu sering membicarakan rakyat kecil, tapi jarang menjadikannya pusat berpikir. Soekarno tidak ingin rakyat hanya menjadi simbol dalam pidato. Ia mencoba memberi nama, bahasa, dan posisi politik bagi manusia yang hidupnya hanya menjadi bahan pemerasan sejarah.
Tidak Cukup Hanya dengan Menyebut Mereka “Rakyat”
Politik suka sekali memakai kata rakyat.
Rakyat kecil. Suara rakyat. Kehendak rakyat. Penderitaan rakyat. Semua terdengar mulia, hampir suci.
Tapi sering kali, rakyat hanya muncul sebagai latar belakang. Mereka hadir di baliho, pidato, kampanye, dan janji manis menjelang pemilu. Setelah itu, mereka kembali ke tempat semula: antre minyak, menghitung harga beras, menunda beli obat, dan berharap anaknya bisa sekolah tanpa membuat dapur ikut panik.
Soekarno melihat problem itu jauh sebelum politik modern menjadi seberisik sekarang.
Ia tidak puas dengan kata “rakyat” yang terlalu umum. Ia butuh sosok yang lebih konkret. Ia butuh sosok yang lebih konkret. Bukan massa abstrak, bukan angka statistik, apalagi objek belas kasihan. Soekarno mencari wajah manusia yang benar-benar hidup dalam tekanan ekonomi sehari-hari.
Lalu muncullah Marhaen.
Marhaen Bukan Orang Miskin Biasa
Banyak orang buru-buru menyamakan Marhaen dengan rakyat miskin.
Padahal, pengertian itu terlalu sempit.
Ia bekerja, tapi tetap rentan.
Ia punya sesuatu, tapi tidak punya kuasa besar atas nasibnya.
Ia hidup dari tenaganya sendiri, tetapi struktur ekonomi tetap membuatnya mudah kalah.
Di sinilah Marhaenisme menjadi menarik. Soekarno tidak hanya berbicara tentang kemiskinan. Soekarno berbicara tentang rakyat yang terus bekerja, tetapi hasil hidupnya selalu jauh lebih kecil daripada tenaga yang ia keluarkan.
Kamu mungkin pernah melihat wajah itu di pasar pagi. Orang membuka lapak sebelum matahari tinggi, lalu pulang saat badan sudah habis. Uangnya ada. Tapi besok tetap cemas.
Teori Politik yang Tumbuh dari Tanah Sendiri
Soekarno menyerap banyak gagasan besar dari dunia: nasionalisme, sosialisme, Marxisme, anti-kolonialisme, dan perjuangan kelas. Namun, ia tidak ingin menyalinnya mentah-mentah.
Ia tahu Indonesia punya kondisi berbeda.
Di Eropa, pembacaan kelas sering bertumpu pada buruh industri yang berhadapan langsung dengan kapital besar.
Pada masa kolonial, Indonesia lebih banyak berisi petani kecil, buruh tani, pedagang kecil, tukang, nelayan, dan pekerja informal. Mereka menghadapi tekanan ganda: kuasa kolonial dari atas dan ekonomi lokal yang ikut menekan dari dekat.
Karena itu, Soekarno mencari bahasa politik yang lebih cocok.
Marhaenisme menjadi upaya menerjemahkan ide pembebasan ke dalam kenyataan Indonesia. Bukan teori yang turun dari ruang kuliah. Ia juga bukan jargon asing untuk membuat politik terdengar pintar.
Ia lahir dari tanah, keringat, dan kehidupan orang kecil.
Masalahnya, politik kita sering lebih suka memakai istilah besar daripada menatap manusia yang menanggung akibatnya. Teori terdengar gagah. Tapi di pasar, di sawah, dan di kontrakan sempit, hidup tetap harus dibayar tunai.
Ketika Rakyat Hanya Jadi Bahasa Politik
Konflik utama Marhaenisme masih terasa sampai hari ini.
Politik sering memuja rakyat, tapi jarang menaruh hidup mereka di pusat kebijakan. Elite menyebut mereka pemilik kedaulatan, lalu mengubah penderitaan mereka menjadi bahan presentasi. Di layar, semuanya tampak peduli. Di dapur, harga tetap naik.
Harga naik, elite meminta rakyat bersabar. Upah kecil, perusahaan menuntut mereka makin produktif. Bantuan telat, pejabat menjadikan prosedur sebagai alasan yang harus rakyat pahami.
Namun, saat musim kampanye tiba, semua orang tiba-tiba fasih bicara tentang penderitaan mereka.
Aneh memang. Katanya rakyat itu penting, tapi keputusan besar sering lahir jauh dari meja makan mereka.
Marhaenisme menggugat kebiasaan itu. Ia memaksa politik bertanya lebih jujur: apakah rakyat benar-benar menjadi subjek, atau hanya properti moral kekuasaan?
Kolonialisme Tidak Cuma Datang dari Luar
Soekarno hidup dalam konteks penjajahan. Karena itu, Marhaenisme punya akar anti-kolonial yang kuat.
Namun, gagasan ini tidak berhenti pada musuh asing.
Penindasan bisa berganti wajah. Dulu ia datang lewat perusahaan kolonial, tanah partikelir, pajak, kerja paksa, dan struktur ekonomi yang menguntungkan penjajah. Setelah kemerdekaan, risiko lain muncul: elite lokal bisa mengulang cara lama dengan bahasa baru.
Ini bagian yang sering tidak nyaman.
Sebab kemerdekaan politik tidak otomatis membebaskan rakyat kecil dari tekanan ekonomi. Bendera bisa berubah, kantor bisa berganti nama, pejabat bisa memakai bahasa nasional. Tapi kalau tanah, modal, harga, dan akses tetap menjadi milik segelintir orang, Marhaen tetap hidup dalam ruang sempit.
Bedanya, kali ini elite bisa meminta rakyat bersyukur karena orang yang menekan mereka berbicara dengan bahasa yang sama. Nyentil, tapi perlu.
Marhaenisme dan Kritik terhadap Politik Simbol
Marhaenisme membuat kita curiga pada politik yang terlalu sibuk menjual simbol.
Sebab rakyat kecil sering tidak butuh simbol tambahan. Mereka butuh harga yang masuk akal, akses tanah, pekerjaan yang layak, pendidikan yang tidak memiskinkan, kesehatan yang tidak membuat keluarga menjual barang, dan kebijakan yang tidak hanya ramah kepada pemilik modal.
Tapi politik kerap memilih jalan yang lebih mudah.
Buat slogan. Pasang foto dengan warga. Kunjungi pasar. Pegang cangkul. Makan di warung kecil. Lalu kamera menyala.
Setelah itu, realitas tetap berjalan seperti biasa.
Marhaenisme tidak menolak simbol sepenuhnya. Simbol bisa menggerakkan imajinasi politik. Namun, simbol menjadi kosong ketika tidak menyentuh struktur hidup rakyat.
Kalau elite hanya memeluk rakyat di depan kamera, itu bukan keberpihakan. Itu pose politik yang menunggu tepuk tangan.
Kemiskinan Bukan Selalu Nasib
Marhaenisme penting karena ia melihat kemiskinan bukan hanya sebagai nasib personal.
Banyak orang miskin bukan karena malas. Mereka miskin karena aksesnya sempit, posisinya lemah, dan daya tawarnya kecil. Mereka bisa bekerja keras setiap hari, tetapi hasilnya tetap habis untuk bertahan hidup.
Petani kecil bisa punya tanah, tapi harga hasil panen tidak ia tentukan.
Pedagang kecil bisa punya lapak, tapi sewa tempat dan arus pasar menekannya.
Ojek, kurir, buruh lepas, pekerja harian, dan pelaku usaha mikro bisa terlihat “mandiri”, padahal hidupnya bergantung pada sistem yang mudah menggeser mereka kapan saja.
Di titik ini, Marhaenisme terasa sangat modern.
Nama zamannya berubah. Tekanannya tidak benar-benar hilang.
Dulu cangkul dan tanah sempit. Sekarang motor kredit, aplikasi, kontrak pendek, cicilan, dan algoritma.
Rakyat Kecil Bukan Sekadar Slogan
Marhaenisme mengganggu karena ia menolak politik yang terlalu nyaman dengan kata “rakyat”.
Rakyat butuh bukti. Bukan tepuk tangan, slogan, atau kutipan Soekarno di spanduk peringatan nasional. Kalau hidup rakyat kecil tetap tidak berubah, semua penghormatan itu cuma dekorasi politik.
Kalau sebuah kebijakan mengaku membela rakyat, Marhaenisme bertanya, rakyat yang mana?
Petani kecil atau korporasi pangan?
Buruh harian atau pemilik industri?
Pedagang pasar atau jaringan ritel besar?
Nelayan kecil atau proyek besar yang mengubah laut menjadi peta investasi?
Banyak yang tidak menyukai pertanyaan ini Terutama mereka yang ingin semua terlihat baik-baik saja.
Namun, tanpa pertanyaan itu, semua pihak akan terus menjadikan kata “rakyat: sebagai alasan dan landasan kepentingannya, Siapa pun yang butuh legitimasi bisa mengklaimnya. Setelah itu, rakyat kembali menanggung hidupnya sendiri.
Marhaenisme di Masa Sekarang
Marhaenisme bukan sekadar urusan masa lalu.
Ia menyentuh hidupmu hari ini saat harga kebutuhan naik lebih cepat dari pendapatan. Ia muncul saat kerja keras tidak menjamin rasa aman. Marhaenisme terasa ketika elite meminta orang kecil terus adaptif, sementara aturan main lebih sering menguntungkan pihak yang sudah besar.
Kalau kamu pekerja muda dengan gaji pas-pasan, kamu mengenal logika itu.
Jika kamu pelaku usaha kecil yang kalah oleh biaya platform, pajak, sewa, dan distribusi, kamu juga paham.
Bahkan kalau kamu merasa kelas menengah, tekanan Marhaen tidak jauh dari hidupmu. Cicilan, biaya sekolah, harga rumah, ongkos kesehatan, dan ketidakpastian kerja bisa mendorong siapa saja turun kelas.
Marhaenisme mengingatkan satu hal pahit: orang bisa terlihat bebas, tapi tetap hidup dalam tekanan yang mengatur hampir semua pilihan.
Saat Rakyat Kecil Menjadi Bahasa Kekuasaan
Ada ironi yang terus berulang.
Semua kekuatan politik mengaku membela rakyat kecil. Tapi negara sering meminta rakyat kecil membuktikan dulu penderitaannya sebelum menganggapnya layak mendapatkan bantuan.
Mereka harus antre. Mengisi formulir. Menunggu validasi. Datang ke kantor. Membawa fotokopi. Kadang masih disuruh kembali besok.
Di sisi lain, kepentingan besar sering bergerak lebih cepat. Rapatnya tertutup. Bahasanya teknis. Keputusannya rapi. Dampaknya luas.
Rakyat kecil baru tahu ketika harga berubah, tanah bergeser, pekerjaan hilang, atau ruang hidup mengecil.
Marhaenisme membaca ketimpangan seperti itu sebagai masalah politik, bukan sekadar masalah administrasi.
Karena rakyat tidak cukup diberi bantuan. Mereka perlu punya posisi dalam arah ekonomi dan keputusan publik.
Saat Perbedaan Menjadi Jarak
Marhaenisme juga punya hubungan erat dengan gagasan persatuan anti-kolonial Soekarno.
Ia tidak ingin rakyat kecil tercerai-berai oleh identitas, agama, suku, atau perbedaan ideologi. Sebab selama mereka saling curiga, kekuatan yang lebih besar bisa terus bekerja dengan tenang.
Ini bukan berarti semua perbedaan harus dihapus.
Justru sebaliknya, perbedaan perlu dibaca dengan jernih agar tidak mudah dipakai untuk memecah tenaga rakyat.
Hari ini, kita sering melihat pola serupa.
Masalah ekonomi berubah menjadi perang identitas. Kritik kebijakan diseret menjadi isu loyalitas. Pertanyaan soal ketimpangan dipelintir menjadi kebencian terhadap orang sukses.
Akhirnya, rakyat kecil bertengkar dengan sesama rakyat kecil.
Yang besar tetap besar.
Yang lelah tetap lelah.
Marhaenisme Bukan Romantisme Kemiskinan
Ada satu hal yang perlu dijaga.
Marhaenisme tidak boleh berubah menjadi romantisme kemiskinan. Rakyat kecil tidak perlu dimuliakan hanya karena mereka menderita. Penderitaan bukan dekorasi moral.
Membela Marhaen bukan berarti memuja hidup susah.
Justru sebaliknya, Marhaenisme harus mendorong keadaan di mana rakyat kecil tidak lagi dipaksa hidup kecil.
Marhaenisme harus bicara tentang akses. Ia harus bicara tentang kepemilikan, pendidikan, dan arah ekonomi yang lebih adil. Bukan hanya mengejar angka pertumbuhan, tapi juga memperluas kuasa hidup orang biasa. Sebab pertumbuhan yang tidak sampai ke meja makan rakyat hanya terdengar indah di laporan.
Kalau Marhaenisme hanya menjadi slogan di mimbar politik, ia kehilangan taring.
Ia berubah menjadi nostalgia yang aman.
Dan Soekarno mungkin akan muak melihat namanya dipakai untuk merayakan rakyat kecil, tanpa sungguh-sungguh mengubah hidup mereka.
Rakyat Tidak Butuh Dikasihani
Marhaenisme Soekarno mengajarkan bahwa rakyat kecil tidak cukup dikasihani.
Mereka harus dipahami sebagai pusat politik.
Rakyat kecil bukan objek bantuan, hiasan kampanye, angka survei, atau wajah yang dipakai kekuasaan agar terlihat peduli. Mereka adalah manusia yang hidupnya harus menjadi pusat keputusan politik. Kalau tidak, keberpihakan hanya berhenti sebagai pose.
Mereka adalah alasan politik seharusnya ada.
Namun, bagian paling sulit memang ada di situ. Sebab menjadikan rakyat sebagai pusat berarti mengganggu kenyamanan banyak pihak. Kebijakan harus berubah. Arah ekonomi harus dipertanyakan. Kekuasaan tidak bisa lagi hanya berbicara atas nama rakyat sambil menjaga jarak dari hidup mereka.
Pada akhirnya, Marhaenisme bukan cuma tentang Soekarno.
Ia tentang sebuah pertanyaan, apakah politik benar-benar membela rakyat kecil, atau hanya pintar memakai penderitaan mereka sebagai bahasa kekuasaan? @tabooo





