Minggu, Mei 17, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Pattern
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Negara Bilang Ekonomi Aman, Kenapa Belanja Mingguan Makin Menyeramkan?

by dimas
Mei 17, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Pemerintah bilang ekonomi aman. Namun, rakyat merasakan harga kebutuhan pokok terus naik akibat rupiah melemah dan biaya hidup membengkak.

Tabooo.id – Pemerintah terus meyakinkan publik bahwa ekonomi Indonesia masih aman. Inflasi disebut terkendali. Pertumbuhan ekonomi masih bergerak. Cadangan devisa juga tetap tebal.

Namun, suasana di pasar terasa berbeda.

Harga cabai naik. Ongkos transportasi ikut merangkak. Uang Rp100 ribu yang dulu cukup untuk beberapa hari belanja kini terasa habis dalam sekali mampir ke warung.

Di titik itu, publik mulai bertanya: kalau ekonomi benar-benar aman, kenapa hidup terasa makin mahal?

Statistik Pemerintah dan Realita Warung Mulai Bertabrakan

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengatakan pelemahan rupiah tidak terlalu berdampak bagi masyarakat desa karena rakyat tidak memakai dollar AS dalam transaksi sehari-hari. Akan tetapi, ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, justru menilai pernyataan itu keliru.

Ini Belum Selesai

Zonasi Pendidikan: Pemerataan atau Pembatasan Mimpi?

Demokrasi Kita Masih Hidup atau Tinggal Upacara Kenegaraan?

Menurut Huda, pelemahan rupiah tetap menghantam rakyat lewat imported inflation atau inflasi impor. Ketika dollar naik, harga barang impor ikut naik. Biaya distribusi BBM meningkat. Akibatnya, harga kebutuhan pokok ikut terdorong naik.

Masalahnya, dampak itu tidak langsung muncul di layar televisi. Dampaknya muncul di meja makan.

Petani mulai mengeluh harga pupuk naik. Pedagang kecil mulai mengurangi stok barang. Ibu rumah tangga mulai memangkas daftar belanja mingguan.

Sementara itu, rakyat kecil tidak punya banyak pilihan selain bertahan.

Rupiah Melemah, Biaya Hidup Ikut Bergerak

Data Bank Indonesia menunjukkan rupiah sempat menyentuh kisaran Rp17.600 per dollar AS pada Mei 2026. Kondisi itu membuat biaya impor bahan baku, energi, dan distribusi semakin mahal.

Huda menjelaskan Indonesia masih bergantung pada impor untuk berbagai kebutuhan industri, termasuk plastik, komponen elektronik, hingga bahan baku pupuk. Ketika rupiah melemah, harga barang-barang itu ikut terdorong naik.

Artinya, dampaknya tidak berhenti di pasar valuta asing.

Harga plastik naik.
Harga elektronik ikut terdorong.
Biaya logistik bergerak.
Harga pupuk mulai menekan petani.

Lalu, semua biaya itu perlahan diteruskan ke konsumen.

Ironisnya, masyarakat desa yang disebut tidak memakai dollar justru tetap ikut membayar dampaknya.

Yang Paling Takut Bukan Investor, Tapi Kepala Keluarga

Pasar saham mungkin bisa pulih. Investor bisa memindahkan aset. Namun, rakyat kecil tidak punya tombol darurat untuk memindahkan hidup mereka.

Ketika harga naik, mereka hanya bisa mengurangi belanja.

Sebagian keluarga mulai mengurangi lauk. Sebagian lainnya menunda membeli kebutuhan rumah tangga. Bahkan, ada yang mulai khawatir dengan ancaman pemutusan hubungan kerja atau PHK akibat perlambatan ekonomi.

Di situlah jarak antara statistik dan kenyataan terasa semakin lebar.

Negara melihat angka pertumbuhan.
Rakyat melihat harga minyak goreng.

Negara bicara inflasi terkendali.
Warung bicara harga terus naik.

Dan biasanya, rakyat lebih percaya warung.

Ini Bukan Sekadar Rupiah Melemah, Tapi Fondasi yang Rapuh

Persoalan sebenarnya bukan hanya kurs dollar. Masalah yang lebih besar adalah ketergantungan Indonesia terhadap impor dan distribusi yang mahal.

Ketika rupiah jatuh, ekonomi domestik langsung ikut goyah. Harga kebutuhan hidup bergerak lebih cepat daripada kenaikan pendapatan masyarakat.

Karena itu, keresahan publik bukan sekadar soal panik ekonomi. Ini soal rasa lelah menghadapi biaya hidup yang terus naik sementara penghasilan terasa jalan di tempat.

Kalimat “ekonomi aman” akhirnya terdengar semakin jauh dari realita dapur rakyat.

Sebab, bagi masyarakat kecil, ukuran ekonomi bukan cadangan devisa atau pidato optimistis.

Ukuran ekonomi itu sederhana belanja mingguan masih cukup, harga beras masih masuk akal dan uang belanja tidak habis sebelum akhir bulan.

Kalau itu saja mulai terasa sulit, wajar kalau rakyat bertanya, ekonomi aman menurut siapa?

“Negara menghitung pertumbuhan ekonomi, rakyat menghitung sisa uang belanja.” @dimas

Tags: biaya hidupEkonomi RakyatInflasi IndonesiaRupiah MelemahTekanan Ekonomi

Kamu Melewatkan Ini

Dollar Tidak Masuk Dompet Rakyat Desa, Tapi Masuk ke Harga Beras dan Solar

Dollar Tidak Masuk Dompet Rakyat Desa, Tapi Masuk ke Harga Beras dan Solar

by dimas
Mei 17, 2026

Rakyat desa memang tidak memakai dollar. Namun, pelemahan rupiah tetap masuk ke dapur rakyat lewat harga BBM, pupuk, dan kebutuhan...

Rupiah Melemah, Harga Naik: Masih Yakin Ekonomi Baik-Baik Saja?

Rupiah Melemah, Harga Naik: Masih Yakin Ekonomi Baik-Baik Saja?

by dimas
Mei 13, 2026

Rupiah menyentuh rekor pelemahan baru saat harga kebutuhan pokok terus naik. Di tengah klaim ekonomi tumbuh, publik mulai mempertanyakan realita...

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

by dimas
Mei 12, 2026

Rupiah anjlok menyentuh angka Rp 17.500 per dolar AS. Tekanan global dan turunnya kepercayaan investor disebut jadi penyebab utama. Di...

Next Post
Demokrasi Kita Masih Hidup, atau Tinggal Upacara Kenegaraan?

Demokrasi Kita Masih Hidup atau Tinggal Upacara Kenegaraan?

Pilihan Tabooo

Film Pesta Babi: Kita Sedang Diedukasi, atau Sedang Digiring?

Film Pesta Babi: Kita Sedang Diedukasi, atau Sedang Digiring?

Mei 15, 2026

Realita Hari Ini

Festival Balon Udara Solo: Langit Meriah, Jalanan Lumpuh dan Ambisi Kota Bengawan

Festival Balon Udara Solo: Langit Meriah, Jalanan Lumpuh dan Ambisi Kota Bengawan

Mei 17, 2026

KPK Usut Dugaan Izin Macet Tanpa Dana CSR

Mei 16, 2026

Museum Marsinah Diresmikan, Namun Keadilan untuknya Masih Hilang

Mei 16, 2026

Dana Ada, Gaji Tak Cair: Mengapa Ribuan Guru Honorer di Jawa Barat Belum Digaji?

April 24, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id