Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Negara Bilang Ekonomi Aman, Kenapa Belanja Mingguan Makin Menyeramkan?

by dimas
Mei 17, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Pemerintah bilang ekonomi aman. Namun, rakyat merasakan harga kebutuhan pokok terus naik akibat rupiah melemah dan biaya hidup membengkak.

Tabooo.id – Pemerintah terus meyakinkan publik bahwa ekonomi Indonesia masih aman. Inflasi disebut terkendali. Pertumbuhan ekonomi masih bergerak. Cadangan devisa juga tetap tebal.

Namun, suasana di pasar terasa berbeda.

Harga cabai naik. Ongkos transportasi ikut merangkak. Uang Rp100 ribu yang dulu cukup untuk beberapa hari belanja kini terasa habis dalam sekali mampir ke warung.

Di titik itu, publik mulai bertanya: kalau ekonomi benar-benar aman, kenapa hidup terasa makin mahal?

Statistik Pemerintah dan Realita Warung Mulai Bertabrakan

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengatakan pelemahan rupiah tidak terlalu berdampak bagi masyarakat desa karena rakyat tidak memakai dollar AS dalam transaksi sehari-hari. Akan tetapi, ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, justru menilai pernyataan itu keliru.

Ini Belum Selesai

Kompetensi atau Koneksi? Jalan Menuju Indonesia Emas

Masihkah Pemimpin Indonesia Percaya Laku Sebelum Bertahta?

Menurut Huda, pelemahan rupiah tetap menghantam rakyat lewat imported inflation atau inflasi impor. Ketika dollar naik, harga barang impor ikut naik. Biaya distribusi BBM meningkat. Akibatnya, harga kebutuhan pokok ikut terdorong naik.

Masalahnya, dampak itu tidak langsung muncul di layar televisi. Dampaknya muncul di meja makan.

Petani mulai mengeluh harga pupuk naik. Pedagang kecil mulai mengurangi stok barang. Ibu rumah tangga mulai memangkas daftar belanja mingguan.

Sementara itu, rakyat kecil tidak punya banyak pilihan selain bertahan.

Rupiah Melemah, Biaya Hidup Ikut Bergerak

Data Bank Indonesia menunjukkan rupiah sempat menyentuh kisaran Rp17.600 per dollar AS pada Mei 2026. Kondisi itu membuat biaya impor bahan baku, energi, dan distribusi semakin mahal.

Huda menjelaskan Indonesia masih bergantung pada impor untuk berbagai kebutuhan industri, termasuk plastik, komponen elektronik, hingga bahan baku pupuk. Ketika rupiah melemah, harga barang-barang itu ikut terdorong naik.

Artinya, dampaknya tidak berhenti di pasar valuta asing.

Harga plastik naik.
Harga elektronik ikut terdorong.
Biaya logistik bergerak.
Harga pupuk mulai menekan petani.

Lalu, semua biaya itu perlahan diteruskan ke konsumen.

Ironisnya, masyarakat desa yang disebut tidak memakai dollar justru tetap ikut membayar dampaknya.

Yang Paling Takut Bukan Investor, Tapi Kepala Keluarga

Pasar saham mungkin bisa pulih. Investor bisa memindahkan aset. Namun, rakyat kecil tidak punya tombol darurat untuk memindahkan hidup mereka.

Ketika harga naik, mereka hanya bisa mengurangi belanja.

Sebagian keluarga mulai mengurangi lauk. Sebagian lainnya menunda membeli kebutuhan rumah tangga. Bahkan, ada yang mulai khawatir dengan ancaman pemutusan hubungan kerja atau PHK akibat perlambatan ekonomi.

Di situlah jarak antara statistik dan kenyataan terasa semakin lebar.

Negara melihat angka pertumbuhan.
Rakyat melihat harga minyak goreng.

Negara bicara inflasi terkendali.
Warung bicara harga terus naik.

Dan biasanya, rakyat lebih percaya warung.

Ini Bukan Sekadar Rupiah Melemah, Tapi Fondasi yang Rapuh

Persoalan sebenarnya bukan hanya kurs dollar. Masalah yang lebih besar adalah ketergantungan Indonesia terhadap impor dan distribusi yang mahal.

Ketika rupiah jatuh, ekonomi domestik langsung ikut goyah. Harga kebutuhan hidup bergerak lebih cepat daripada kenaikan pendapatan masyarakat.

Karena itu, keresahan publik bukan sekadar soal panik ekonomi. Ini soal rasa lelah menghadapi biaya hidup yang terus naik sementara penghasilan terasa jalan di tempat.

Kalimat “ekonomi aman” akhirnya terdengar semakin jauh dari realita dapur rakyat.

Sebab, bagi masyarakat kecil, ukuran ekonomi bukan cadangan devisa atau pidato optimistis.

Ukuran ekonomi itu sederhana belanja mingguan masih cukup, harga beras masih masuk akal dan uang belanja tidak habis sebelum akhir bulan.

Kalau itu saja mulai terasa sulit, wajar kalau rakyat bertanya, ekonomi aman menurut siapa?

“Negara menghitung pertumbuhan ekonomi, rakyat menghitung sisa uang belanja.” @dimas

Tags: biaya hidupEkonomi RakyatInflasi IndonesiaRupiah MelemahTekanan Ekonomi

Kamu Melewatkan Ini

Krisis Iklim yang Diam-Diam Menguras Dompet

Krisis Iklim yang Diam-Diam Menguras Dompet

by dimas
Juli 17, 2026

Krisis iklim tak hanya menaikkan suhu, tetapi juga menggerus pendapatan, kesehatan, dan biaya hidup jutaan masyarakat. Panas ekstrem kini menjadi...

Fragmentasi Mahasiswa dan Bayang-Bayang Reformasi Jilid II

Fragmentasi Mahasiswa dan Bayang-Bayang Reformasi Jilid II

by dimas
Juni 14, 2026

Fragmentasi gerakan mahasiswa kian terlihat di tengah krisis ekonomi dan tekanan demokrasi. Mampukah perlawanan yang terpecah melahirkan Reformasi Jilid II?...

Di Balik Seruan “Indonesia Bangkrut”, Ada Krisis yang Tak Terlihat

Di Balik Seruan “Indonesia Bangkrut”, Ada Krisis yang Tak Terlihat

by dimas
Juni 13, 2026

Di balik seruan "Indonesia Bangkrut", mahasiswa menyoroti biaya hidup, APBN, dan krisis kepercayaan terhadap arah negara. Tabooo.id - Di tengah...

Next Post
Demokrasi Kita Masih Hidup, atau Tinggal Upacara Kenegaraan?

Demokrasi Kita Masih Hidup atau Tinggal Upacara Kenegaraan?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id