Sabtu, Mei 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Negara Hilang Saat Api Menyala: Mei 1998 dan Luka yang Tak Pernah Diadili

by dimas
Mei 16, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Negara Hilang Saat Api Menyala: Mei 1998 dan Luka yang Tak Pernah Diadili. Tragedi kemanusiaan yang meninggalkan trauma, kekerasan, dan utang keadilan hingga hari ini.

Tabooo.id – Jakarta pernah terbakar. Namun yang paling hangus bukan gedung atau kendaraan, melainkan rasa aman warganya sendiri.

Pada Mei 1998, asap hitam membumbung dari pusat-pusat perbelanjaan, toko, dan jalanan ibu kota. Orang-orang berlarian sambil menyelamatkan diri. Teriakan bercampur dengan suara kaca pecah dan kobaran api. Di tengah kekacauan itu, ada satu hal yang terasa paling mengerikan: negara seperti menghilang.

Banyak orang mengingat Mei 1998 sebagai momen runtuhnya Orde Baru. Namun bagi para penyintas, terutama perempuan korban kekerasan seksual, Mei bukan sekadar catatan politik. Bulan itu berubah menjadi trauma panjang yang terus hidup di tubuh dan ingatan mereka.

Ironisnya, setelah 28 tahun berlalu, negara masih belum benar-benar berani membawa tragedi itu ke pengadilan HAM.

Ketika Kota Lumpuh dan Negara Menghilang

Kerusuhan pecah beberapa hari setelah penembakan mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei 1998. Setelah itu, Jakarta berubah menjadi ruang chaos yang brutal. Massa bergerak liar. Api menyebar ke berbagai titik. Penjarahan terjadi hampir tanpa kendali.

Ini Belum Selesai

Sindrom Fukuyama: Saat Elite Takut Rapor Barat daripada Perut Rakyat

NIK Kamu Sudah Dijual, Negara Baru Sibuk di Hilir

Namun, berbagai kesaksian menunjukkan pola yang janggal.

Saat pusat-pusat kota terbakar, aparat keamanan justru nyaris tidak terlihat. Negara gagal hadir ketika warga membutuhkan perlindungan paling mendesak. Kekosongan itulah yang kemudian membuka ruang bagi kekerasan yang lebih gelap penyerangan terhadap warga etnis Tionghoa dan pemerkosaan massal terhadap perempuan.

Karena itu, tragedi ini sulit dianggap sebagai ledakan spontan semata.

Terlalu banyak kesaksian yang menunjukkan pola teror terstruktur. Targetnya jelas. Korbannya spesifik. Bahkan metode kekerasannya terasa terlalu sistematis untuk disebut sekadar amuk massa.

Tubuh Perempuan Dijadikan Medan Teror

Bagi Ita Fatia Nadia, Mei 1998 bukan angka statistik atau arsip laporan. Ia melihat langsung kehancuran itu dari jarak dekat.

Sejak 13 Mei sore hingga subuh keesokan harinya, Ita bersama Tim Relawan untuk Kemanusiaan terus menerima panggilan darurat dari berbagai sudut Jakarta dan sekitarnya. Mereka bergerak tanpa henti untuk menyelamatkan korban.

Kenyataan di lapangan jauh melampaui batas nalar manusia.

Perempuan ditelanjangi di depan publik. Massa menyiksa korban secara brutal. Bahkan anak-anak perempuan ikut menjadi sasaran. Salah satu kisah yang paling membekas datang dari Fransisca, bocah 11 tahun di Tangerang yang mengalami kekerasan seksual hingga meninggal akibat pendarahan hebat.

Lalu muncul detail yang membuat tragedi itu terasa jauh lebih dingin.

“Hampir semua korban tidak diperkosa oleh alat kelamin laki-laki. Pemerkosaan menggunakan alat atau benda tumpul, ada gagang sapu, ada botol, ada kayu,” kata Ita.

Kalimat itu terasa seperti tamparan keras bagi bangsa yang selama bertahun-tahun mencoba mengubur tragedi Mei di balik istilah “kerusuhan”.

Padahal, peristiwa itu bukan sekadar kekerasan seksual. Para pelaku menjalankan penyiksaan sistematis untuk menghancurkan martabat manusia.

Teror Berlanjut Setelah Api Padam

Kekerasan tidak berhenti setelah kerusuhan mereda.

Relawan kemanusiaan justru menghadapi ancaman baru. Seseorang mengirim granat nanas ke kantor Romo Sandyawan. Selain itu, Ita Fatia Nadia menerima telepon ancaman penculikan terhadap anak bungsunya.

Akibat tekanan itu, banyak korban memilih bungkam.

Sebagian menyembunyikan identitas. Sebagian lain pindah ke luar negeri demi melanjutkan hidup. Sementara itu, banyak penyintas terpaksa memendam trauma sendirian selama puluhan tahun.

Ancaman bahkan menghantui mereka yang mencoba bersuara.

Ita Martadinata, siswi 17 tahun yang bersedia memberi kesaksian, ditemukan tewas mengenaskan pada Oktober 1998. Seseorang menggorok lehernya di rumahnya sendiri.

Di titik itu, tragedi Mei berubah menjadi simbol impunitas yang menakutkan.

Negara Mengakui Luka, Tapi Tak Menuntaskan

Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah, menegaskan bahwa lembaganya sejak lama menyimpulkan peristiwa Mei 1998 sebagai pelanggaran HAM berat. Investigasi Komnas HAM menemukan fakta pembunuhan, penghilangan orang, perkosaan, dan penjarahan.

Namun hingga hari ini, proses hukum besar yang dijanjikan negara masih berjalan di tempat.

“Kami mendorong pemerintah segera menuntaskan penyelesaian peristiwa Mei 98 melalui mekanisme yudisial,” ujar Anis.

Sayangnya, bangsa ini tampak lebih nyaman memperingati daripada mengadili.

Setiap Mei, orang membuat seminar, mengunggah nostalgia reformasi, dan mengenang runtuhnya Orde Baru. Akan tetapi, banyak yang lupa bahwa reformasi berdiri di atas tubuh korban yang hingga kini belum memperoleh keadilan.

Reformasi Menang, Keadilan Tertinggal

Indonesia sering membanggakan Reformasi sebagai kemenangan demokrasi. Namun pertanyaan paling penting justru belum terjawab:

Apa arti reformasi jika negara masih takut membuka seluruh kebenaran masa lalunya sendiri?

Sebab sampai sekarang, tragedi Mei 1998 tetap hidup sebagai luka nasional yang setengah diakui. Publik mengetahui adanya kekerasan. Publik juga mengetahui adanya korban. Akan tetapi, negara terus bergerak lambat ketika pembicaraan masuk ke pengadilan HAM.

Masalahnya bukan hanya soal masa lalu.

Peristiwa ini juga menentukan pesan apa yang diwariskan negara kepada masa depan. Ketika pelanggaran besar tidak pernah diadili secara serius, publik belajar bahwa kekuasaan bisa lolos dari tanggung jawab.

Karena itulah luka Mei tidak pernah benar-benar selesai.

Api di jalan memang sudah padam sejak lama. Namun rasa takut, trauma, dan pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab masih terus hidup di kepala banyak orang.

Selama negara belum berdiri tegak di depan sejarahnya sendiri, Mei akan selalu kembali sebagai suara yang belum selesai.

Bangsa yang gagal mengadili masa lalunya biasanya sedang menyiapkan luka baru untuk masa depannya. @dimas

Tags: Kekerasan SeksualPelanggaran HAM BeratReformasi IndonesiaTragedi Mei 1998

Kamu Melewatkan Ini

Sum Kuning dan Orde Baru: Saat Keadilan Dibungkam oleh Nama Besar

Sum Kuning dan Orde Baru: Saat Keadilan Dibungkam oleh Nama Besar

by dimas
Mei 16, 2026

Kasus Sum Kuning mengguncang Yogyakarta pada 1970 dan menjadi simbol bagaimana kekuasaan membelokkan hukum demi melindungi elite. Tabooo.id - September...

Fransisca: Anak 11 Tahun yang Tubuhnya Dihancurkan Kerusuhan

Fransisca: Anak 11 Tahun yang Tubuhnya Dihancurkan Kerusuhan

by dimas
Mei 16, 2026

Fransisca seorang anak 11 tahun yang tubuhnya dihancurkan kerusuhan Mei 1998 menjadi simbol luka kemanusiaan, kekerasan seksual massal, dan trauma...

Dulu Teriak Keadilan, Sekarang Diam di Balik Kekuasaan

Dulu Teriak Keadilan, Sekarang Diam di Balik Kekuasaan

by dimas
Mei 16, 2026

Dulu Teriak Keadilan, Sekarang Diam di Balik Kekuasaan. Dulu melawan ketidakadilan di jalanan, sekarang menikmati kenyamanan kekuasaan. Ketika mantan aktivis...

Next Post
Gowok: Pelajaran Pernikahan yang Kini Dianggap Dosa

Gowok: Pelajaran Pernikahan yang Kini Dianggap Dosa

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Guru Honorer Menunggu Negara: Reformasi Birokrasi atau Krisis Pendidikan Baru?

Guru Honorer Menunggu Negara: Reformasi Birokrasi atau Krisis Pendidikan Baru?

Mei 16, 2026

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Mei 15, 2026

Jika Fakta Sejarah Disangkal, Apa Arti Keadilan bagi Korban Mei 1998?

April 23, 2026

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id