Ironi. Dulu, kerja dianggap tiket menuju hidup mapan. Sekarang, banyak orang kerja keras cuma supaya tidak terlambat bayar cicilan. Di era kapitalisme fleksibel, manusia diperlakukan seperti aplikasi versi trial: dipakai selama berguna, lalu dibuang saat sistem menemukan versi yang lebih murah.
Tabooo.id: Dulu, orang bekerja untuk membangun masa depan. Sekarang, banyak orang bekerja cuma supaya masa depan itu tidak runtuh lebih cepat.
Gaji datang, lalu langsung habis untuk cicilan, kos, transportasi, dan kebutuhan dasar yang makin mahal. LinkedIn penuh motivasi. Tips produktivitas memenuhi timeline. Tapi di balik semua itu, banyak anak muda hidup dalam kecemasan permanen.
Dan mungkin inilah ironi terbesar dunia modern:
manusia bekerja lebih keras dari generasi sebelumnya, tapi merasa jauh lebih tidak aman.
Ketika Stabilitas Berubah Jadi Barang Mewah
Dulu, kerja dianggap jalan menuju hidup stabil. Orang tua kita tumbuh dengan mimpi sederhana: punya pekerjaan tetap, gaji bulanan, rumah kecil, lalu pensiun dengan tenang.
Sekarang?
Banyak orang bahkan tidak tahu bulan depan masih bisa bayar kos atau tidak.
Di tengah dunia kerja yang makin “fleksibel”, lahirlah satu istilah yang terasa terlalu akurat untuk diabaikan: prekariat. Guy Standing mempopulerkan istilah ini setelah membaca masa depan manusia modern terlalu cepat.
Menurut Standing, dunia sedang melahirkan kelas sosial baru: orang-orang yang terus bekerja, tapi hidupnya tetap rapuh.
Mereka bukan pengangguran.
Masalahnya, mereka juga tidak benar-benar aman.
Freelancer, driver ojol, pekerja kontrak, content creator, admin online shop, pekerja startup, sampai fresh graduate yang hidup dari proyek ke proyek, semuanya masuk ke dalam ekosistem yang sama: kerja tanpa kepastian.
Kapitalisme Jual Kebebasan. Sistem Jual Kecemasan.
Kapitalisme modern menjual ini sebagai kebebasan.
“Kerja kapan aja.”
“Jadi bos untuk diri sendiri.”
“Work from anywhere.”
Kedengarannya keren.
Sampai tagihan datang.
Guy Standing melihat ada sesuatu yang aneh dalam sistem ini. Dunia kerja mulai kehilangan fondasi paling dasar: rasa aman. Perusahaan ingin tenaga kerja yang fleksibel, cepat diganti, murah, dan tidak terlalu banyak bertanya.
Manusia akhirnya diperlakukan seperti aplikasi versi trial: dipakai selama berguna, lalu dihapus ketika tidak lagi efisien.
Ironisnya, banyak orang tetap membela sistem itu. Karena di era sekarang, kelelahan malah sering dipamerkan sebagai pencapaian.
Semakin burnout, semakin dianggap produktif.
Media sosial ikut membantu romantisasi penderitaan itu. Orang mengunggah laptop di kafe tengah malam sambil menulis caption tentang hustle culture, padahal diam-diam takut saldo rekening tidak cukup sampai akhir bulan.
Dan di titik itu, Guy Standing muncul bukan sebagai nabi kiamat ekonomi, tapi seperti dosen yang terlalu jujur saat seluruh kelas masih sibuk pura-pura optimis.
Generasi yang Punya Skill, Tapi Kehilangan Rasa Aman
Standing menyebut prekariat sebagai “dangerous class”.
Bukan karena mereka kriminal. Tapi karena manusia yang terus hidup dalam ketidakpastian lama-lama kehilangan rasa percaya pada sistem.
Kalau kerja keras tidak lagi menjamin hidup layak, orang mulai bertanya:
Lalu semua ini buat apa?
Pertanyaan itu semakin relevan di generasi muda. Banyak anak muda punya pendidikan lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya, tapi justru hidup dengan kecemasan finansial yang lebih besar.
Mereka punya LinkedIn bagus.
Portfolio keren.
Skill banyak.
Tapi tetap sulit membeli rumah, sulit punya tabungan, bahkan sulit merasa tenang.
Kapitalisme fleksibel ternyata menciptakan paradoks aneh: peluang makin banyak, tapi stabilitas makin langka.
Dan lucunya, dunia terus menyebut ini “kemajuan”.
Mungkin Sistem Tak Lagi Dirancang untuk Ketenangan
Ini bagian yang jarang dibicarakan.
Mungkin masalahnya bukan karena generasi sekarang malas.
Bukan juga karena semua orang salah mengatur uang.
Mungkin sistem ekonomi modern memang lebih membutuhkan manusia yang terus cemas.
Karena orang yang takut kehilangan penghasilan akan terus bekerja.
Orang yang insecure akan terus membeli validasi.
Orang yang tidak punya rasa aman akan terus mengejar produktivitas tanpa henti.
Ketidakpastian akhirnya berubah menjadi mesin ekonomi.
Dan di situlah prekariat menjadi lebih dari sekadar istilah akademik.
Ia berubah jadi kondisi psikologis massal.
Kita hidup di zaman ketika banyak orang terlihat sibuk, aktif, bahkan “berkembang”, padahal sebenarnya cuma berusaha bertahan hidup tanpa sempat berhenti berpikir:
apakah semua ini benar-benar menuju sesuatu?
Ini Bukan Sekadar Fenomena Kerja. Ini Pola Peradaban
Guy Standing tidak sekadar menciptakan istilah akademik. Ia memberi nama pada keresahan kolektif yang selama ini terasa terlalu abstrak untuk dijelaskan.
Prekariat bukan cuma kelas ekonomi baru.
Ia adalah generasi yang hidup dalam mode survival sambil berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Karena hari ini, banyak orang memang masih bekerja.
Masalahnya, mereka tidak lagi yakin sedang membangun masa depan, atau cuma sedang menunda kehancuran.
“Kapitalisme modern tidak selalu membuat orang miskin. Kadang ia cuma membuat semua orang terus cemas sambil tetap bekerja.” @waras



