• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Deep

Ledakan, Layar, dan Luka yang Tak Terlihat

November 13, 2025
in Deep
A A
Ledakan, Layar, dan Luka yang Tak Terlihat

Dua personel Gegana Brimob Polda Metro Jaya berjaga di lokasi ledakan SMAN 72 Jakarta, Jumat (7/11/2025). Ledakan di sekolah itu melukai 55 orang. (Foto : Antara.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Ledakan itu terjadi begitu cepat. Jumat siang, 7 November 2025, udara Jakarta Timur mendadak bergetar. SMAN 72 menjadi titik kecil di peta ibu kota yang tiba-tiba diselimuti asap, jerit, dan kepanikan.

Di luar pagar sekolah, orang tua berdatangan dengan wajah pucat. “Anak saya di dalam,” kata seorang ibu dengan napas tersengal, “katanya gara-gara bikin eksperimen, tapi kok dibilang mirip game PUBG?”

Kabar pun menyebar lebih cepat dari suara sirine ambulans.
Di media sosial, netizen sudah mulai menuding: “Pasti gara-gara game online.”
Nama PUBG kembali muncul, kali ini bukan di layar ponsel, tapi di ruang rapat kabinet.

Antara Ledakan dan Kebijakan

Empat hari setelah kejadian, Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Raden Wijaya Kusumawardhana, bicara hati-hati di Yogyakarta.
“Kami akan cermati dulu,” katanya. “Kalau bicara soal kebijakan game online, tentu harus menunggu arahan presiden.”

Arahan itu datang dari Presiden Prabowo Subianto.
Dalam rapat bersama Kapolri dan Menteri Sekretaris Negara, Prabowo disebut menyoroti pengaruh game online terhadap generasi muda.

“Kita harus berpikir untuk membatasi pengaruh dari game seperti PUBG,” kata Prasetyo Hadi, Mensesneg.

Alasannya sederhana tapi berat: ada kekhawatiran bahwa kekerasan digital menjelma jadi kekerasan nyata.
Densus 88 bahkan melaporkan bahwa terduga pelaku ledakan kerap mengunjungi komunitas daring di forum darknet tempat di mana video perang, pembunuhan, dan adegan sadis beredar bebas, jauh dari sensor dan akal sehat.

Namun publik terbelah.
Sebagian mendukung: “Anak-anak sekarang terlalu bebas main game kekerasan.”
Sebagian lain bertanya: “Apa benar game yang salah? Atau kita yang lalai membimbing?”

Dunia Virtual dan Luka Nyata

Bayangkan Rafi, 16 tahun, siswa SMA negeri di Depok.
Setiap malam dia menatap layar ponsel hingga dini hari. “Main PUBG itu kayak kabur sebentar dari dunia nyata,” katanya pelan.
Dunia nyata yang dia maksud adalah rumah kecil dengan ayah pengangguran dan ibu yang sibuk mencari tambahan uang.

Rafi bilang, “Kalau di game, aku bisa jadi pahlawan. Di rumah, aku cuma dianggap beban.”

Bagi generasi seperti Rafi, dunia digital bukan sekadar hiburan. Ia jadi tempat berlindung dari tekanan hidup yang tak mereka pahami, dari sistem pendidikan yang sibuk menghitung nilai, bukan perasaan.
Ketika dunia nyata tak menawarkan tempat untuk didengar, dunia maya menjadi ruang pelarian meski berisiko.

Lalu ada Mira, 18 tahun, yang kehilangan teman dekatnya karena kecanduan game perang. “Dia dulu ceria. Tapi lama-lama, dia jadi sinis, gampang marah, dan ngomong kasar terus,” kata Mira.
Bagi Mira, yang menakutkan bukan gamenya, tapi bagaimana realita perlahan meniru fantasi di layar.

Apa yang Sebenarnya Ingin Kita Batasi?

Kebijakan pembatasan game online mungkin terdengar masuk akal. Tapi Tabooo.id ingin bertanya, apa yang sebenarnya ingin kita batasi gamenya, atau realitas sosial yang menciptakan pelarian itu?

Kita hidup di masa di mana ruang digital menjadi tempat tumbuhnya rasa, identitas, dan bahkan dendam.
Anak muda bukan hanya pemain, mereka juga produk dari sistem yang lebih sering menghukum daripada mendengar.

RelatedPosts

Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

Ogoh-Ogoh: Saat Manusia Mengarak Ketakutannya Sendiri di Tengah Jalan

Membatasi PUBG tak akan serta-merta mematikan kekerasan, seperti menutup mata tak akan menghapus gelap.
Karena akar masalahnya bukan sekadar di game, tapi di ketimpangan: ruang aman yang hilang, komunikasi yang macet antara generasi, dan sistem pendidikan yang sibuk mencetak angka tanpa empati.

Negara kerap lupa anak muda tidak lahir di ruang hampa.
Mereka tumbuh di era di mana notifikasi lebih cepat dari nasihat, di mana perasaan disimpan dalam emoji, dan di mana stres mental sering disamarkan dengan tawa di TikTok.

Membatasi game boleh saja, tapi bagaimana dengan trauma yang mereka sembunyikan?
Siapa yang membatasi kesepian mereka?

Setelah Ledakan, Ada Suara yang Tersisa

Di tengah riuh perdebatan, satu hal terasa paling sunyi suara korban dan keluarganya.
Mereka bukan bicara soal larangan game atau regulasi digital. Mereka bicara tentang rasa kehilangan, tentang anak-anak yang tak sempat dewasa sepenuhnya.

Ledakan di SMAN 72 mungkin akan mereda dari pemberitaan. Tapi di kepala banyak orang tua, pertanyaan itu terus berdengung:
“Apakah kita sudah benar-benar mengenal anak-anak kita sendiri?”

Barangkali inilah waktunya kita berhenti mencari kambing hitam di layar ponsel, dan mulai mencari cermin di depan mata.
Karena masalah ini bukan cuma tentang game online, tapi tentang game of life di mana terlalu banyak pemain, tapi terlalu sedikit yang mau mendengar.

Jadi sebelum kita buru-buru menekan tombol “banned”, mungkin kita perlu menekan tombol “pause”.
Lihat dulu: siapa yang sebenarnya sedang terluka di balik layar? @dimas

Tags: Anak TerlukaBatas NalarDunia MayaEmpati HilangGame OnlineGenerasi SunyiKebijakan TergesaLedakan SekolahLuka DigitalPelarian VirtualRealita PahitTrauma Tersembunyi
Next Post
Dua Raja di Satu Keraton: GKR Rumbay Sebut Adiknya Berkhianat demi Tahta

Tudingan Berkhianat di Keraton: GKR Rumbay Sorot Sang Adik

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

5 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lebaran Beda Hari, Antara Ilmu, Ego, dan Toleransi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7.039 Pemudik Gratis Tiba di Tirtonadi, Mayoritas dari DKI Jakarta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Sebut Penyiraman Aktivis KontraS Terorisme, Harus Usut Dalangnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.