Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dari Bullying ke Bom: Alarm Bahaya Anak Digital yang Kita Abaikan

by dimas
November 13, 2025
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Bayangin, dulu kita harus rebutan warnet cuma buat buka Facebook dan main Pet Society. Sekarang, anak umur 5 tahun aja udah bisa buka YouTube sambil komentar, “nggak lucu bang.” Indonesia, negeri dengan 89 persen warganya (usia 5 tahun ke atas!) sudah online, seharusnya jadi negara paling melek digital, kan?
Sayangnya, yang melek justru… algoritmanya. Manusia? Masih banyak yang belum update firmware-nya.

Dari Dark Web ke Dark Reality

Ngaku deh, siapa yang masih mikir “dark web” itu cuma tempat hacker berkaos hitam di film? Nyatanya, beberapa waktu lalu, ada kasus ledakan bom di SMA 72 Jakarta, yang diduga pelakunya adalah anak sekolah. Anak, bro. Bukan James Bond.
Diduga, si pelaku belajar ngerakit bom dari internet. Artinya, akses menuju kegelapan itu cuma sejauh satu klik. Ironi banget, karena yang harusnya bisa jadi ruang belajar, malah jadi lab eksperimen bahaya.

Menurut National Center for Missing and Exploited Children (NCMEC), dalam rentang 2021–2024 aja, ada 5,5 juta konten pornografi anak di Indonesia. Kebayang nggak tuh? Angka yang harusnya cuma ada di statistik kriminal internasional, malah jadi bagian dari feed digital kita.

Pemerintah: “Kami Punya PP TUNAS!”

Tenang, pemerintah nggak tinggal diam. Mereka bikin Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS).
Kata Menkomdigi Meutya Hafid, Indonesia bahkan jadi negara kedua di dunia (setelah Australia) yang menerapkan sistem penundaan akses anak terhadap platform digital. Keren, ya?

Tapi… kalau kita turun ke lapangan, realitanya nggak semanis press release.
Nenden Sekar Arum dari SAFEnet bilang, moderasi konten di Indonesia itu “masih bersifat sukarela.” Artinya? Ya terserah platform mau serius atau nggak. “Filter” yang kita punya sekarang cuma dua, not interested dan mode anak-anak yang seringnya bisa dibobol pakai tanggal lahir palsu.

Ini Belum Selesai

Apakah Sistem Listrik Indonesia Sedang Menuju Krisis?

Indonesia Kaya Budaya, Tapi Kita Terlalu Haus Validasi Asing?

Jadi, PP TUNAS ini kayak payung di musim hujan… tapi bolong.

Algoritma: Si Teman Baik yang Jahat

Masalahnya bukan cuma soal akses, tapi siapa yang memberi makan pikiran kita.
Sekali kamu nonton satu video tentang kekerasan, algoritma bakal bilang, “Oh, kamu suka yang beginian ya?” dan terus nyodorin video serupa. Akhirnya, timeline kamu berubah jadi lubang kelinci menuju dunia yang makin gelap.

Margaret Aliyatul Maimunah dari KPAI bilang, anak-anak itu kelompok paling rentan. Mereka gampang banget nyerap apa yang mereka lihat, dan bisa aja ngira, “Oh, bikin bom itu keren ya?” atau “Orang yang mukul orang lain itu kuat ya?”
Tanpa literasi digital yang kuat, anak-anak ini bukan lagi digital native, tapi digital korban.

Bullying: Pemantik yang Kita Abaikan

Sebelum ngomongin algoritma, jangan lupa: akar masalahnya bisa jadi dimulai di dunia nyata. Kasus SMA 72 Jakarta itu misalnya, diduga karena pelaku pernah jadi korban bullying.
Kalau sekolah nggak jadi tempat aman buat tumbuh, jangan heran kalau anak mencari pelarian ke dunia digital yang sayangnya, bisa lebih berbahaya dari dunia nyata.

Abidin Fikri, Wakil Ketua Komisi VIII DPR, bilang, regulasi anti-bullying itu banyak, tapi sering cuma jadi “acara seremonial”. Ya, semacam upacara bendera ramai di awal, hilang di tengah minggu. Padahal yang kita butuh bukan seremonial, tapi sistem deteksi dini dan empati yang benar-benar hidup.

Proteksi Digital Itu Urusan Semua Orang

Ngira ngawasin anak di dunia digital itu cuma tugas pemerintah? Salah besar.
Kata Margaret dari KPAI, tanggung jawab itu kolektif, orang tua, guru, bahkan tetangga yang suka nimbrung di grup WhatsApp RT.
Kalau anak buka konten negatif, jangan langsung disalahin. Dampingi, jelaskan kenapa itu salah, dan bantu mereka memahami apa yang benar. Jangan biarkan YouTube jadi guru utama anakmu, atau TikTok jadi tempat mereka belajar etika.

Internet Nggak Jahat, Tapi Penggunanya Bisa

Kita sering bilang “anak muda sekarang rusak gara-gara internet.” Padahal, internet cuma cermin: dia memantulkan apa yang udah ada di dunia nyata.
Kalau kita masih abai, kalau sistem pendidikan masih sibuk bikin lomba hafalan ketimbang literasi digital, jangan salahkan anak-anak kalau mereka lebih percaya “konten konspirasi” ketimbang guru di sekolah.

Sekarang gini deh internet udah masuk sampai TK, tapi literasi digital kita masih di TK juga.
Lalu, kamu di kubu mana: yang sadar, atau yang masih nganggap ini “urusan nanti aja”? @dimas

Tags: Dunia MayaGenerasi Digital

Kamu Melewatkan Ini

Menara Emas yang Diam, Tapi Terus Mengingatkan Mojokerto Siapa Dirinya

Menara Emas yang Diam, Tapi Terus Mengingatkan Mojokerto Siapa Dirinya

by teguh
Juni 3, 2026

Sore perlahan merambat turun di Kota Mojokerto. Langit mulai berubah warna. Lampu jalan menyala satu demi satu. Kendaraan terus bergerak...

Anak Hafal Skin Mobile Legends daripada Congklak, Siapa yang Salah?

Anak Hafal Skin Mobile Legends daripada Congklak, Siapa yang Salah?

by teguh
Mei 29, 2026

“Anak sekarang kebanyakan gadget dan hafal skin mobile legend.” Kalimat ini mungkin jadi keluhan paling sering terdengar di meja makan...

Budaya Scroll: Cepat Melihat, Sulit Memahami?

Budaya Scroll: Cepat Melihat, Sulit Memahami?

by dimas
Mei 28, 2026

Budaya scroll tanpa henti di TikTok, Reels, dan Shorts mulai mengubah cara anak Indonesia belajar, fokus, dan berinteraksi sosial. Tabooo.id...

Next Post
Jawa, Rumah Singgah Dunia: Dari Juru Kling ke Global Citizen

Jawa, Rumah Singgah Dunia: Dari Juru Kling ke Global Citizen

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id