Tabooo.id: Check – Beberapa hari terakhir, jagat maya ramai oleh sebuah klaim yang terdengar seperti naskah film fiksi ilmiah versi receh. Dalam unggahan yang tersebar di Facebook dan Instagram, disebutkan bahwa CEO Meta, Mark Zuckerberg, memprediksi dunia akan kembali ke masa tanpa internet jika perang antara Iran dan Amerika Serikat benar-benar pecah. “Kita akan kembali ke masa tanpa Google, Facebook, WhatsApp, dan Instagram,” begitu bunyi narasinya lengkap dengan foto serius Zuckerberg, seolah dia baru saja memberi kuliah tentang kiamat digital.
Faktanya: Zuckerberg Tak Pernah Bicara Soal Perang Iran-AS
Masalahnya, pernyataan itu tidak pernah diucapkan oleh Zuckerberg. Tim Cek Fakta Tabooo.id sudah menelusuri seluruh jejak digitalnya dan tidak menemukan satu pun bukti bahwa bos Meta itu pernah bicara soal perang Iran-AS. Zuckerberg, yang kini lebih sibuk dengan proyek sains dan kecerdasan buatan, bahkan jarang sekali berkomentar tentang isu politik global. Ia lebih sering membicarakan riset-riset kesehatan dan teknologi lewat Biohub lembaga filantropi yang ia dirikan bersama sang istri, Priscilla Chan.
Kenapa Bisa Viral? Karena Hoaks Selalu Lebih Menarik
Kabar palsu ini bermula dari unggahan beberapa akun media sosial yang menampilkan foto Zuckerberg lengkap dengan kutipan palsu. Narasinya cepat menyebar, mungkin karena dua hal, pertama, orang suka dengan kabar dramatis yang terdengar “dalam” padahal absurd; kedua, hoaks semacam ini mudah dipercaya karena dikemas rapi seolah disampaikan langsung oleh tokoh besar. Apalagi, siapa sih yang mau repot-repot verifikasi kalau caption-nya sudah cocok sama kecemasan kita?
Logika Sederhana: Zuckerberg Justru Paling Rugi
Padahal, logikanya sederhana. Kalau perang terjadi dan semua platform digital benar-benar lenyap, Zuckerberg-lah yang akan paling rugi. Seluruh imperium bisnisnya dari Facebook, WhatsApp, hingga Instagram akan ikut musnah. Jadi, buat apa dia menakut-nakuti dunia dengan ramalan yang justru menghancurkan sumber kekayaannya sendiri?
Jempol Lebih Cepat dari Akal Sehat
Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: di era serba cepat ini, kecepatan jempol sering kali mengalahkan akal sehat. Banyak orang lebih dulu menekan tombol “bagikan” daripada “periksa dulu.” Hoaks seperti ini pun menjalar seperti virus digital lucunya, disebarkan lewat platform yang sama yang katanya bakal “punah”.
Nostalgia Tanpa Nalar
Kalau dipikir-pikir, narasi “balik ke masa 90-an” ini malah terdengar lucu. Bayangkan dunia tanpa internet: orang kembali membaca berita lewat koran, menonton TV tabung, dan ngobrol pakai telepon rumah. Nostalgia memang manis, tapi bukan berarti harus dimulai dengan kebohongan.
Jangan Jadi Penyebar Dosa Digital
Jadi, sebelum panik membeli antena TV dan mulai menimbun baterai radio, ada baiknya kita tarik napas. Dunia tidak akan mundur ke zaman tanpa sinyal hanya karena unggahan Facebook yang tidak jelas sumbernya. Kalau mau kembali ke masa lalu, mending dengarkan lagu-lagu 90-an saja lebih aman, dan tidak menyesatkan.
Sebelum jempolmu gatal ingin membagikan berita heboh, ingat satu hal, cek dulu, baru share. Jangan sampai ikut menyebar dosa digital. @dimas





