Dosen UIN Walisongo diduga melakukan kekerasan seksual terhadap mahasiswa. Korban disebut takut melapor karena trauma. Di tengah ruang akademik yang seharusnya menjadi tempat aman untuk belajar dan bertumbuh, ketakutan justru muncul dari relasi kuasa yang membuat sebagian korban memilih diam.
Tabooo.id: Semarang – Dugaan kekerasan seksual kembali mengguncang dunia kampus. Kali ini, seorang dosen di Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswa melalui percakapan digital bernada vulgar dan tidak pantas. Kasus itu viral setelah akun Instagram @pesan_uinws mengunggah aduan korban beserta tangkapan layar percakapan pada awal Mei 2026.
Dalam percakapan yang beredar, dosen berinisial Z diduga meminta foto tidak senonoh kepada mahasiswa. Isi pesan itu langsung memicu kemarahan publik dan memancing reaksi keras mahasiswa di lingkungan kampus.
Senin malam, puluhan mahasiswa menggelar dialog publik dan mimbar bebas di area kampus UIN Walisongo. Mereka menuntut transparansi penanganan kasus sekaligus jaminan keamanan bagi korban yang hingga kini masih memilih diam.
Korban Takut Bicara
Koordinator Ekonomi Sosial Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo, Farid Muhammad, mengatakan korban dalam dugaan kasus tersebut lebih dari satu orang. Ia juga menyebut dugaan tindakan serupa sudah muncul sejak 2008, tetapi korban terus memilih bungkam karena takut melapor.
“Korban ini takut, trauma, dan khawatir karena komentar-komentar yang menyudutkan korban,” kata Farid.
Ketakutan itu tidak muncul tanpa alasan. Banyak korban kekerasan seksual harus menghadapi tekanan sosial ketika mencoba bicara. Alih-alih mendapat dukungan, mereka justru menerima komentar yang menyalahkan tindakan korban.
Sejumlah warganet bahkan mempertanyakan alasan korban masih merespons pesan dari dosen tersebut. Reaksi semacam itu membuat korban semakin terpojok dan kehilangan rasa aman.
Ruang Akademik yang Dipertanyakan
Kasus ini tidak hanya menyoroti dugaan pelecehan seksual. Kasus ini juga membuka sisi gelap relasi kuasa di lingkungan pendidikan.
Dosen memiliki posisi, pengaruh, dan akses terhadap kehidupan akademik mahasiswa. Dalam situasi tertentu, ketimpangan itu membuat mahasiswa merasa sulit menolak atau melawan.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar tentang keamanan ruang akademik. Kampus yang seharusnya menjadi tempat belajar justru kembali diterpa dugaan kekerasan seksual yang membuat mahasiswa hidup dalam rasa takut.
Mahasiswa yang menggelar mimbar bebas menuntut kampus bergerak lebih tegas. Mereka meminta pihak kampus membuka perkembangan investigasi secara transparan dan memastikan korban mendapatkan perlindungan.
Kampus Lakukan Investigasi
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UIN Walisongo, Ummul Baroroh, mengatakan kampus akan berpihak kepada korban dan menjaga kerahasiaan identitas mereka.
Ia juga memastikan tim kampus tetap menyelidiki laporan yang muncul di media sosial. Jika investigasi membuktikan adanya pelanggaran, kampus akan menjatuhkan sanksi berat hingga pemecatan terhadap pelaku.
Sementara itu, Ketua Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Walisongo, Kurnia Muhajarah, mengatakan tim investigasi telah mengantongi identitas korban dan mulai mengumpulkan bukti tambahan. Namun hingga kini, korban belum membuat laporan resmi.
Bukan Sekadar Chat Digital
Kasus ini menunjukkan bahwa kekerasan seksual tidak selalu muncul dalam bentuk kontak fisik. Tekanan psikologis, pesan vulgar, dan relasi kuasa juga dapat melukai korban dalam waktu panjang.
Masalahnya, banyak korban masih takut berbicara karena khawatir publik akan menghakimi mereka lebih dulu sebelum proses hukum berjalan.
Ini bukan sekadar dugaan pelecehan lewat pesan digital. Ini tentang ruang pendidikan yang belum sepenuhnya memberi rasa aman kepada mahasiswa.
Lalu pertanyaannya sekarang kalau korban masih takut bersuara di lingkungan akademik, seberapa aman sebenarnya ruang kampus hari ini?
“Di banyak kasus kekerasan seksual, korban sering kali bukan cuma takut pada pelaku, tapi juga takut pada cara publik menghakimi mereka.” @dimas





