Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Perempuan Papua dan Tanah Adat Yang Berubah Jadi Zona Maut

by dimas
Mei 11, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Perempuan Papua berdiri di tengah pegunungan yang sunyi, membawa cerita yang tak lagi tentang kampung halaman, melainkan tentang ruang hidup yang perlahan berubah menjadi ruang ketakutan. Sebab, kematian dua perempuan di Distrik Omukia, Kabupaten Puncak, kembali membuka luka lama tentang bagaimana konflik bersenjata terus merenggut tubuh dan masa depan perempuan Papua.

Tabooo.id – Dua perempuan, Tarling Wanimbo (20) dan Naina Murib (31), ditemukan tewas di kebun pada awal Mei 2026. Namun peristiwa ini tidak berhenti sebagai tragedi biasa. Dugaan adanya bahan peledak pada jenazah Tarling yang melukai warga saat proses evakuasi justru memperluas makna peristiwa ini menjadi simbol meningkatnya eskalasi kekerasan di Papua Tengah.

Seiring waktu, perempuan Papua kembali berada dalam posisi paling rentan di tengah konflik yang terus bergerak tanpa kendali. Ruang yang sebelumnya menjadi sumber kehidupan kebun dan tanah adat perlahan kehilangan fungsi amannya. Akibatnya, kehidupan sehari-hari berubah menjadi serangkaian kewaspadaan yang tak pernah selesai.

“Kenapa Tuhan menciptakan kami perempuan Papua untuk melahirkan, tapi justru dibunuh?”

Kalimat itu tidak sekadar ratapan. Sebaliknya, ia muncul sebagai luapan keputusasaan dari ruang hidup yang semakin menyempit. Di tengah konflik bersenjata yang terus berlangsung, perempuan tidak hanya menyaksikan kekerasan, tetapi juga mengalaminya secara langsung.

Ketika Kebun Tidak Lagi Memberi Perlindungan

Di banyak wilayah pegunungan Papua, kebun selama ini menjadi pusat kehidupan. Namun, situasi tersebut berubah drastis ketika konflik mulai masuk ke ruang-ruang yang sebelumnya dianggap aman.

Ini Belum Selesai

Api Dipadamkan, Masalahnya Jangan Ikut Dibiarkan

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen

Warga menemukan Tarling Wanimbo dan Naina Murib sudah tidak bernyawa di kebun Distrik Omukia. Awalnya, peristiwa ini dibaca sebagai bagian dari kekerasan yang terus berulang. Akan tetapi, situasi berubah ketika warga menduga adanya bahan peledak di tubuh Tarling.

Saat proses evakuasi berlangsung, ledakan terjadi dan melukai tujuh orang. Dengan demikian, peristiwa ini tidak hanya menciptakan korban jiwa, tetapi juga memperluas trauma di tengah masyarakat yang sudah berada dalam tekanan panjang.

Ruang Hidup yang Terus Menyusut

Di Pegunungan Tengah Papua, perempuan memegang peran penting dalam menjaga keberlangsungan hidup keluarga. Mereka mengelola kebun, mengurus pangan, dan memastikan kehidupan tetap berjalan.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ruang gerak itu semakin terbatas.

Esther Haluk dari Gereja Kingmi Papua menggambarkan perubahan tersebut sebagai kondisi yang perlahan menekan kehidupan sehari-hari perempuan. Ia menjelaskan bahwa perempuan kini tidak lagi bisa pergi ke kebun secara mandiri. Mereka harus bergerak bersama laki-laki, dan tanpa itu mereka memilih tidak pergi sama sekali.

“Bagaimana anak-anak bisa makan kalau ibu tidak bisa ke kebun?” ujarnya.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa persoalan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan keamanan, tetapi juga menyentuh fondasi paling dasar kehidupan: akses terhadap pangan. Akibatnya, ketakutan perlahan menggeser aktivitas yang sebelumnya dianggap normal.

Tubuh Perempuan dalam Lanskap Kekerasan

Sementara itu, para pembela hak perempuan menilai bahwa konflik di Papua tidak berhenti pada ruang publik. Kekerasan juga menembus ruang paling intim, yaitu tubuh perempuan.

Yokbeth Felle dari Aneta Papua menegaskan bahwa tubuh perempuan Papua telah berubah menjadi “medan koloni” dalam dinamika kekuasaan dan konflik yang berlangsung lama.

Di beberapa lokasi pengungsian, perempuan menghadapi situasi yang sangat terbatas. Mereka melahirkan di tengah hutan tanpa dukungan medis, tanpa sanitasi, dan tanpa perlindungan yang layak. Kondisi ini memperlihatkan bahwa konflik tidak hanya menghancurkan ruang fisik, tetapi juga mengganggu proses paling dasar kehidupan manusia.

Ribuan Pengungsi dan Pola yang Terus Berulang

Hingga tahun 2026, sekitar 85.000 warga Papua tercatat sebagai pengungsi internal. Mereka meninggalkan kampung bukan karena bencana alam, tetapi karena konflik bersenjata yang terus berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.

Di sisi lain, kehadiran aparat bersenjata di sejumlah daerah justru memperkuat rasa takut di masyarakat sipil. Oleh karena itu, banyak warga memilih meninggalkan rumah mereka meskipun tanpa kepastian tujuan.

Mutiara Ika Pratiwi dari Perempuan Mahardhika menilai kondisi ini sebagai bentuk kekerasan yang sering kali tertutupi oleh narasi keamanan. Akibatnya, dampak terhadap warga sipil tidak selalu terlihat dalam ruang publik nasional.

Sementara itu, gelombang pengungsian terus terjadi. Anak-anak ikut bergerak tanpa memahami sepenuhnya alasan mereka meninggalkan rumah.

Bantuan yang Terhambat di Tengah Krisis

Di tengah situasi yang terus memburuk, bantuan kemanusiaan tidak selalu dapat menjangkau mereka yang membutuhkan.

Gispa Ferdinanda dari Sahabat Perempuan Papua menjelaskan bahwa akses ke wilayah konflik sering kali tertutup atau sangat terbatas. Kondisi ini membuat distribusi kebutuhan dasar seperti makanan bayi, pembalut, dan layanan kesehatan psikologis menjadi tidak stabil.

Selain itu, sebagian pihak yang berupaya menyalurkan bantuan kerap menghadapi kecurigaan di lapangan. Akibatnya, sejumlah wilayah semakin terisolasi, baik secara geografis maupun informasi.

Dengan demikian, krisis tidak hanya berlangsung di medan konflik, tetapi juga di ruang-ruang yang kehilangan akses terhadap bantuan.

Lebih dari Konflik: Kehidupan yang Bertahan

Di balik seluruh laporan dan angka, kehidupan tetap berjalan dalam kondisi yang tidak normal.

Perempuan Papua tidak menuntut hal yang berlebihan. Mereka hanya ingin kembali ke kebun tanpa rasa takut, mereka ingin anak-anak mereka mendapatkan makanan dengan tenang, mereka juga ingin menjalani proses kehidupan tanpa harus bersembunyi di hutan.

Namun realitas menunjukkan hal sebaliknya. Konflik telah mengubah kehidupan sehari-hari menjadi upaya bertahan hidup yang terus berulang.

Twist: Ini Bukan Sekadar Konflik

Pada akhirnya, peristiwa ini tidak berdiri sebagai kasus tunggal.

Ini adalah pola.

Ruang hidup perempuan menyempit sedikit demi sedikit, seiring konflik yang terus bergerak tanpa jeda. Dalam situasi yang sama, tubuh perempuan menjadi titik paling rentan dalam pusaran kekerasan yang berkepanjangan. Akibatnya, ketakutan tidak lagi hadir sebagai respons sesaat, melainkan berubah menjadi rutinitas yang perlahan dianggap normal dalam kehidupan sehari-hari.

Human Impact

Jika perempuan tidak lagi dapat mengakses kebun, maka siapa yang memastikan anak-anak tetap makan hari ini?
Jika tanah yang dahulu menjadi sumber kehidupan berubah menjadi ruang berbahaya, lalu di mana masa depan akan bertumbuh?

Papua tidak hanya hadir sebagai wilayah konflik dalam peta. Sebaliknya, ia adalah ruang hidup yang perlahan kehilangan penghuninya dalam keheningan yang panjang.

Penutup

Pada dasarnya, perempuan Papua tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin hidup tanpa rasa takut.

Namun, di tengah konflik yang terus berlangsung, bahkan keinginan paling sederhana pun terasa semakin jauh dari jangkauan.

Lalu, sampai kapan tubuh perempuan harus terus menjadi saksi paling sunyi dari perang yang tidak pernah mereka pilih? @dimas

Tags: Hak Asasi ManusiaKrisis Kemanusiaan

Kamu Melewatkan Ini

Membaca Pengamanan Demo Dua Tahun Prabowo–Gibran: Jalan Dijaga, Suara Diawasi?

Membaca Pengamanan Demo Dua Tahun Prabowo–Gibran: Jalan Dijaga, Suara Diawasi?

by teguh
Oktober 20, 2026

Ribuan aparat bersiap mengamankan jalanan Jakarta. Di sisi lain, masyarakat bersiap menyampaikan aspirasi, memperingati dua tahun Prabowo–Gibran, atau sekadar menjalani...

Korupsi Dana Darurat Bencana, Ketika Perlindungan Warga Dipertaruhkan

Korupsi Dana Darurat Bencana, Ketika Perlindungan Warga Dipertaruhkan

by dimas
Oktober 16, 2026

Dugaan korupsi dana darurat BNPB memicu sorotan terhadap perlindungan warga dan hak atas lingkungan sehat. Rieke mendesak pengusutan hingga ke...

Munir di Malioboro: 22 Tahun Berlalu, Pertanyaan Belum Selesai

Munir di Malioboro: 22 Tahun Berlalu, Pertanyaan Belum Selesai

by dimas
September 25, 2026

Munir di Malioboro menghidupkan kembali ingatan tentang perjuangan HAM, 22 tahun setelah kematiannya dan pertanyaan hukum yang belum selesai. Tabooo.id...

Next Post
Kenapa Kota di Indonesia Makin Gampang Tenggelam?

Kenapa Kota di Indonesia Makin Gampang Tenggelam?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id