Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Nasib Orang Awyu, Saat Negara Melihat Tanah Mereka Sebagai Investasi

by Tabooo
Mei 9, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Nasib orang Awyu di Papua Selatan berubah semakin tidak pasti sejak hutan adat mereka masuk ke dalam peta investasi sawit dan proyek strategis nasional. Di saat negara berbicara tentang pembangunan, masyarakat adat justru mulai takut kehilangan sungai, sagu, ruang berburu, dan tanah leluhur yang selama ini menjaga hidup mereka. Konflik ini bukan lagi sekadar sengketa lahan, tetapi benturan keras antara ambisi investasi dan hak masyarakat adat untuk tetap hidup di rumah mereka sendiri.
Nasib Orang Awyu, Saat Negara Melihat Tanah Mereka Sebagai Investasi
Nasib Suku Awyu di Papua Selatan terancam setelah hutan adat mereka masuk proyek sawit dan PSN. (Infografis: Tabooo)

Tabooo.id – Bagi banyak orang di luar Papua, mungkin hutan hanya terlihat sebagai hamparan hijau yang siap untuk memulai proyek baru. Mereka melihat lahan luas, potensi sawit, proyek pangan nasional, dan angka investasi yang cocok masuk slide presentasi. Dari kejauhan, Papua Selatan sering muncul sebagai wilayah “potensial” yang siap menghasilkan keuntungan besar.

Namun bagi Suku Awyu di Boven Digoel, Papua Selatan, hutan bukan ruang kosong yang menunggu dibuka alat berat.

Di sana ada sungai tempat mereka mencari ikan. Ada rawa sagu yang menjadi sumber makanan utama. Leluhur mereka juga mewariskan jalur berburu secara turun-temurun. Mereka juga menjaga wilayah sakral yang tidak bisa begitu saja berpindah hanya karena perusahaan sudah mengantongi izin.

Masalahnya, negara dan masyarakat adat membaca wilayah yang sama dengan cara yang sangat berbeda.

Dalam logika pembangunan, pemerintah melihat Papua Selatan sebagai kawasan strategis untuk pangan, sawit, dan proyek investasi skala besar. Sementara bagi masyarakat Awyu, tanah itu bukan aset ekonomi. Itu rumah. Sumber hidup dan identitas mereka.

Ini Belum Selesai

Love Scamming di Balik Jeruji: Ketika Penjara Jadi Markas Penipuan Digital

Main Game Saat Bahas Kesehatan: Kelalaian Biasa atau Krisis Empati Politik?

Benturan ini akhirnya berubah menjadi konflik panjang yang memperlihatkan satu hal pahit: ketika negara berbicara tentang investasi, masyarakat adat sering justru mulai takut kehilangan masa depan mereka sendiri.

Hutan yang Mereka Sebut “Rekening Abadi”

Masyarakat Awyu punya satu istilah yang menjelaskan cara mereka memandang hutan: “rekening abadi”.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi maknanya dalam.

Selama hutan tetap ada, masyarakat bisa hidup tanpa sepenuhnya bergantung pada uang. Mereka mengambil sagu dari rawa, menangkap ikan di sungai, berburu di hutan, mencari tanaman obat, lalu memakai kayu alam untuk membangun rumah.

Bagi masyarakat Awyu, Sungai Digoel menjadi jalur utama yang menopang kehidupan sehari-hari. Sungai Mappi menyediakan rawa gambut dan sumber sagu untuk kebutuhan pangan sehari-hari. Masyarakat juga menangkap ikan di wilayah Sungai Bamgi dan Edera, sementara hutan primer di sekitar Sungai Kia menyimpan berbagai tanaman obat serta kayu untuk membangun rumah.

Artinya, hutan bukan sekadar lingkungan hidup. Hutan adalah sistem ekonomi, pangan, kesehatan, dan budaya yang bekerja secara bersamaan.

Karena itu, ketika kawasan hutan berubah menjadi konsesi sawit, masyarakat tidak hanya kehilangan pepohonan. Mereka kehilangan ruang hidup yang selama ini membuat mereka bertahan tanpa harus sepenuhnya masuk ke sistem ekonomi industri.

Dan pastinya, angka pun sulit untuk menerjemahkan kehilangan rasa aman hidup di tanah sendiri.

Puluhan Ribu Hektare Tanah Adat Masuk Konsesi Sawit

Konflik besar mulai mengeras ketika perusahaan-perusahaan sawit memperoleh izin konsesi di wilayah adat Papua Selatan.

Salah satu perusahaan yang menjadi pusat gugatan masyarakat Awyu adalah PT IAL. Perusahaan ini menguasai konsesi seluas 36.094 hektare di atas wilayah adat Marga Woro di Distrik Mandobo dan Distrik Fofi. Luas konsesi itu bahkan melampaui lebih dari separuh wilayah DKI Jakarta.

Selain PT IAL, ada PT MJR dan PT KCP yang masing-masing memiliki konsesi lebih dari 40 ribu hektare. Pembukaan hutan di area terkait tercatat mencapai 8.538 hektare.

Di atas dokumen perizinan, angka-angka ini mungkin terlihat administratif.

Namun di lapangan, setiap hektare punya konsekuensi sosial yang nyata.

Wilayah berburu mulai terputus. Jalur sungai perlahan berubah. Ruang ritual adat ikut terdesak oleh ekspansi lahan. Sementara itu, banyak keluarga mulai takut ketika alat berat bergerak semakin dekat ke tempat mereka hidup sehari-hari.

Masyarakat Awyu melihat semua itu bukan sebagai ekspansi biasa.

Mereka melihatnya sebagai proses perlahan yang mengubah rumah mereka menjadi kawasan industri.

Benarkah Ada Persetujuan?

Salah satu masalah terbesar dalam konflik ini adalah proses persetujuan masyarakat adat.

Dalam standar hak masyarakat adat internasional, proyek yang memengaruhi ruang hidup komunitas lokal harus mengikuti prinsip Free, Prior and Informed Consent atau FPIC. Artinya, perusahaan dan pemerintah wajib memberi informasi lengkap kepada masyarakat, melibatkan mereka sejak awal, lalu membiarkan mereka menentukan sikap tanpa tekanan sebelum proyek berjalan.

Namun masyarakat Awyu menilai proses tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Masyarakat Awyu mengaku tidak pernah ikut terlibat secara transparan dalam penyusunan AMDAL proyek tersebut. Marga Woro sebagai pemilik hak ulayat utama menyatakan sudah menolak kehadiran perusahaan sejak awal. Namun penolakan itu tidak menghentikan proses izin.

Muncul pula dugaan manipulasi identitas wilayah adat dalam peta konsesi. Wilayah Marga Woro disebut diidentifikasi sebagai milik marga lain untuk mempermudah proses administrasi. Jika benar, persoalan ini tidak lagi sekadar konflik agraria biasa.

Ini menyentuh inti keberadaan masyarakat adat.

Karena ketika tanah leluhur bisa dipindahkan namanya di atas peta, keberadaan manusia yang hidup di atasnya ikut menjadi kabur.

Ketika Pengadilan Lebih Sibuk Menghitung Tenggat

Masyarakat Awyu mencoba melawan lewat jalur hukum.

Melalui Hendrikus Woro dan tim hukumnya, mereka menggugat izin lingkungan PT IAL. Gugatan itu berjalan dari PTUN Jayapura, PTTUN Makassar, hingga Mahkamah Agung. Namun pada 1 November 2024, MA menolak kasasi masyarakat Awyu melalui putusan No. 458 K/TUN/LH/2024.

Salah satu alasan penting dalam penolakan adalah persoalan tenggat waktu gugatan.

Dalam perspektif hukum formal, itu dianggap prosedural. Tapi bagi masyarakat adat yang hidup jauh dari pusat informasi dan akses hukum, batas waktu seperti ini tidak selalu sesederhana hitungan kalender birokrasi.

Hakim Yodi Martono Wahyunadi kemudian menyampaikan dissenting opinion atau pendapat berbeda. Ia menilai pengadilan seharusnya mengutamakan keadilan substantif, bukan hanya terpaku pada formalitas administratif. Ia juga menilai AMDAL PT IAL belum benar-benar mengakomodasi kerugian masyarakat adat yang hidup turun-temurun di wilayah tersebut.

Perbedaan pendapat itu membuat perkara ini terasa lebih besar dari sekadar menang atau kalah di pengadilan. Karena yang dipertanyakan sebenarnya adalah apakah hukum benar-benar mampu melihat masyarakat adat sebagai manusia hidup, bukan sekadar pihak administratif dalam sengketa izin?

Ribuan Salib Merah Berdiri di Tengah Hutan

Saat jalur hukum terasa berat, masyarakat Awyu menggunakan simbol yang jauh lebih sunyi tapi kuat.

Mereka menancapkan lebih dari seribu salib merah di kawasan hutan adat Boven Digoel. Tinggi salib mencapai 12 meter dan lebarnya 7 meter. Tinggi 12 meter melambangkan dua belas murid Yesus, sementara lebar 7 meter mewakili tujuh wilayah adat besar Suku Awyu. Warna merah menjadi simbol darah, keberanian, dan tanda bahaya.

Salib-salib itu bukan sekadar simbol religius.

Bagi masyarakat Awyu, itu adalah tanda bahwa wilayah tersebut sedang berada dalam keadaan darurat. Dalam tradisi Papua, pemasangan tanda seperti ini juga berkaitan dengan palang adat atau Sasi, yaitu larangan adat terhadap aktivitas luar di wilayah tertentu.

Di tengah hutan yang mulai dikepung konsesi, salib merah menjadi semacam pesan pendek, “kami masih hidup di sini”.

PSN dan Ketakutan Baru di Papua Selatan

Ketegangan di Papua Selatan semakin besar setelah pemerintah mendorong Program Strategis Nasional atau PSN.

Pada 2025 dan 2026, pemerintah melepaskan kawasan hutan seluas 486.939 hektare di Provinsi Papua Selatan untuk menjadi Area Penggunaan Lain demi proyek pangan, sawit, dan infrastruktur. Rinciannya mencapai 333.966 hektare di Merauke, 143.142 hektare di Boven Digoel, dan 9.731 hektare di Mappi.

Angka hampir setengah juta hektare itu membuat banyak masyarakat adat semakin khawatir.

Karena bagi mereka, pelepasan kawasan hutan dalam skala sebesar itu bukan hanya soal pembangunan ekonomi. Itu berarti tekanan baru terhadap sungai, rawa, sumber pangan, dan ruang budaya mereka.

Pembukaan hutan dalam skala besar juga berisiko mengubah bentang alam Papua Selatan, memicu banjir, merusak ekosistem rawa gambut, dan mengancam ketahanan pangan masyarakat adat setempat.

Konflik seperti ini juga muncul dalam berbagai narasi tentang Papua dan tanah adat yang terus terdesak proyek besar. Tabooo sebelumnya membahas bagaimana isu penggusuran ruang hidup masyarakat Papua ikut muncul di balik film Pesta Babi.

Sementara di ruang-ruang resmi orang berbicara tentang target produksi nasional, masyarakat di kampung mulai bertanya apakah anak-anak mereka nanti masih bisa hidup dari tanah yang sama.

Dari Pemilik Tanah Menjadi Buruh di Tanah Sendiri

Salah satu janji yang paling sering muncul dari ekspansi sawit adalah lapangan pekerjaan.

Namun situasi di lapangan tidak sesederhana itu.

Masyarakat yang sebelumnya hidup mandiri dari hutan justru berisiko berubah menjadi buruh kasar di tanah adat mereka sendiri. Ada praktik buruh harian lepas, upah rendah, jeratan utang, serta ketergantungan terhadap fasilitas perusahaan. Orang Asli Papua hanya mengisi sekitar 28 persen tenaga kerja perkebunan dan mayoritas berada di posisi paling rentan.

Ini ironi yang sulit terabaikan.

Dulu mereka hidup dari tanah sendiri tanpa harus meminta izin siapa pun untuk mengambil sagu atau menangkap ikan.

Sekarang mereka bisa saja bekerja untuk membeli makanan yang dulu tersedia gratis dari hutan.

Ketika orang menyebut situasi seperti ini sebagai pembangunan, banyak masyarakat adat justru merasa pihak lain sedang membangun keuntungan di atas hidup mereka.

Melainkan sistem baru yang membuat mereka semakin tergantung. @tabooo

FAQ

Apa yang sebenarnya diperjuangkan Suku Awyu di Papua Selatan?

Suku Awyu tidak hanya memperjuangkan sebidang tanah. Mereka mempertahankan hutan adat yang menjadi sumber makan, air, obat-obatan, jalur berburu, serta identitas budaya mereka. Bagi masyarakat Awyu, kehilangan hutan berarti kehilangan cara hidup yang sudah diwariskan turun-temurun.

Kenapa konflik Suku Awyu dikaitkan dengan investasi dan sawit?

Konflik muncul setelah sejumlah perusahaan sawit memperoleh izin konsesi di wilayah adat Papua Selatan. Salah satunya PT IAL yang menguasai lebih dari 36 ribu hektare lahan di atas wilayah adat Marga Woro. Masyarakat adat menilai ekspansi tersebut mengancam ruang hidup mereka.

Apa itu salib merah yang dipasang masyarakat Awyu di hutan?

Salib merah menjadi simbol perlawanan masyarakat adat terhadap pembukaan hutan. Masyarakat Awyu menancapkan ribuan salib merah sebagai tanda bahwa wilayah tersebut tidak kosong dan masih menjadi ruang hidup mereka. Dalam tradisi lokal, simbol itu juga berkaitan dengan palang adat atau larangan terhadap aktivitas luar di wilayah tertentu.

Kenapa kasus Suku Awyu penting untuk menjadi sorotan?

Kasus ini memperlihatkan benturan antara proyek pembangunan skala besar dengan hak masyarakat adat. Selain menyangkut isu lingkungan dan deforestasi, konflik ini juga memunculkan pertanyaan besar tentang perlindungan hukum masyarakat adat di Indonesia.

Tags: Boven DigoelFilm Pesta BabiHutan Papuakonflik agrariaMasyarakat AdatPapua SelatanSuku AwyuTabooo DeepTanah Adat

Kamu Melewatkan Ini

Main Game Saat Bahas Kesehatan: Kelalaian Biasa atau Krisis Empati Politik?

Main Game Saat Bahas Kesehatan: Kelalaian Biasa atau Krisis Empati Politik?

by teguh
Mei 14, 2026

Ruang rapat itu seharusnya bicara soal hidup anak-anak, kesehatan ibu, dan masa depan keluarga miskin. Namun perhatian publik justru tersedot...

Kebangkitan Aktivis Perempuan: Apa Artinya Bagi Demokrasi Indonesia?

Kebangkitan Aktivis Perempuan: Apa Artinya Bagi Demokrasi Indonesia?

by Tabooo
Mei 13, 2026

Kebangkitan aktivis perempuan membuat demokrasi Indonesia tidak bisa lagi bersembunyi di balik angka pemilu, kursi parlemen, dan pidato kesetaraan. Saat...

Ekspansi Sawit Menjanjikan Kemajuan, Tapi Kenapa Hutan dan Tradisi Menghilang?

Ekspansi Sawit Menjanjikan Kemajuan, Tapi Kenapa Hutan dan Tradisi Menghilang?

by dimas
Mei 13, 2026

Ekspansi sawit datang membawa janji kemajuan, jalan baru, dan pertumbuhan ekonomi. Namun di balik hamparan kebun yang terus meluas di...

Next Post
Film Pesta Babi Kembali Dibubarkan, Kini Terjadi di Ternate

Film Pesta Babi Kembali Dibubarkan, Kini Terjadi di Ternate

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Film Pesta Babi Kembali Dibubarkan, Kini Terjadi di Ternate

Mei 10, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id