Senin, Juni 29, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ekspansi Sawit Menjanjikan Kemajuan, Tapi Kenapa Hutan dan Tradisi Menghilang?

by dimas
Mei 13, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Ekspansi sawit datang membawa janji kemajuan, jalan baru, dan pertumbuhan ekonomi. Namun di balik hamparan kebun yang terus meluas di Kalimantan, masyarakat Dayak perlahan kehilangan hutan, sungai, hingga cara hidup yang selama ini menjaga identitas mereka.

Tabooo.id – Siang itu panas menggantung di jalan menuju Desa Tumbang Kalang, Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur. Truk-truk sawit melintas tanpa jeda di tengah ekspansi sawit yang terus meluas. Debu tanah liat beterbangan. Aspal berhenti beberapa kilometer sebelum desa. Namun yang benar-benar terputus bukan cuma jalan. Cara hidup masyarakat Dayak juga ikut perlahan hilang.

Di rumah kayunya yang sederhana, Damang Antang Kalang, Hermas Bintih, menarik napas panjang ketika bicara soal sawit. Suaranya terdengar pelan, tetapi menyimpan luka yang dalam.

“Dulu masyarakat Dayak hidup dari alam. Cari makan dari hutan, sungai, dan ladang. Sekarang sungai tercemar, hutan hilang,” katanya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya, tersimpan cerita panjang tentang perubahan besar yang datang diam-diam selama belasan tahun.

Ketika Hutan Tidak Lagi Jadi Rumah

Dulu warga masih bebas berladang berpindah. Sistem tradisional itu bukan sekadar cara bertani. Tradisi itu menjadi identitas masyarakat Dayak selama turun-temurun. Warga membuka hutan seperlunya, menanam padi, lalu membiarkan tanah pulih secara alami. Selain itu, tradisi tersebut juga menghadirkan gotong royong dan ritual adat yang memperkuat hubungan manusia dengan alam.

Ini Belum Selesai

Arief Rahman: Dari Aktivis Kampus ke Arsitek Media Digital

Pemerintah Janji Redam PHK, Tapi Industri Sudah Kehilangan Napas

Kini ruang hidup itu makin sempit.

Lalang, Ketua Dewan Adat Dayak Kecamatan Antang Kalang, mengatakan masyarakat dulu mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Beras hasil ladang cukup untuk setahun. Warga juga mudah mencari ikan dan berburu rusa di hutan. Namun setelah ekspansi sawit masuk, keadaan berubah drastis.

“Sekarang semuanya berburu uang,” ujarnya.

Kalimat itu terasa seperti ironi besar pembangunan di Indonesia.

Sawit datang membawa janji jalan bagus, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, sebagian warga justru kehilangan kemampuan dasar untuk bertahan hidup. Ketika perusahaan mengubah lahan adat menjadi perkebunan sawit, masyarakat kehilangan ruang berburu. Sungai juga kehilangan kebersihannya. Sementara itu, generasi muda mulai menjauh dari tradisi leluhur mereka.

Masalahnya bukan sekadar pohon sawit.

Masalah sebenarnya muncul ketika perubahan datang terlalu cepat dan memaksa masyarakat meninggalkan cara hidup lama mereka.

Berburu Uang di Tanah Sendiri

Ketika ladang hilang, masyarakat harus masuk ke sistem ekonomi uang tunai. Mereka mulai membeli makanan yang dulu tersedia gratis di alam. Selain itu, mereka juga harus mencari pekerjaan di tengah keterbatasan pendidikan dan akses ekonomi.

Menurut tokoh adat setempat, tekanan hidup itu ikut memicu kasus pencurian sawit oleh warga.

Di titik itu, konflik sawit bukan lagi sekadar masalah lingkungan. Konflik tersebut berkembang menjadi persoalan identitas, ketimpangan sosial, dan krisis ruang hidup.

Handi P. Hady, warga Desa Tumbang Kalang, mengatakan warga dulu hidup dari rotan, karet, hasil sungai, dan hutan. Namun kini harga hasil alam jatuh, sementara hutan lebih dulu hilang.

“Jalan bagus tidak sepadan dengan hutan kami yang hilang,” katanya.

Pernyataan itu terasa seperti tamparan bagi narasi pembangunan yang sering hanya menghitung angka investasi.

Sebab pembangunan sering terlihat megah dari luar. Namun di sisi lain, banyak warga merasakan kehilangan yang tidak pernah masuk laporan ekonomi.

Pembangunan dan Kehilangan yang Berjalan Bersamaan

Pemerintah daerah belum memberikan penjelasan rinci soal dampak aktivitas perusahaan sawit di kawasan tersebut. Di sisi lain, pihak perusahaan membantah tuduhan pencemaran sungai dan mengklaim telah memberikan plasma kepada masyarakat sekitar.

Namun bagi sebagian warga, persoalannya jauh lebih dalam daripada sekadar kompensasi ekonomi.

Yang hilang bukan cuma tanah.

Yang hilang adalah hubungan manusia dengan alam, tradisi, dan cara hidup yang selama ini mereka jaga.

Fenomena di Antang Kalang juga memperlihatkan pola lama yang terus berulang di banyak wilayah Indonesia. Alam berubah menjadi komoditas atas nama pembangunan. Sementara itu, masyarakat adat harus beradaptasi dengan kehilangan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Ironisnya, masyarakat yang paling dekat dengan hutan justru menjadi kelompok pertama yang tersingkir ketika industri mulai menguasai ruang hidup mereka.

Dan pertanyaannya sekarang sederhana kalau hutan habis, sungai tercemar, dan budaya perlahan hilang, sebenarnya siapa yang benar-benar menikmati hasil pembangunan itu?

“Di negeri yang sibuk bicara pertumbuhan ekonomi, masyarakat adat sering cuma diminta tumbuh rasa sabarnya.” @dimas

Tags: Ekspansi SawitKalimantan Tengahkonflik agrariaMasyarakat Adat DayakRuang Hidup Adat

Kamu Melewatkan Ini

Karhutla Tak Hanya Membakar Hutan, Tapi Juga Kehidupan Warga Desa

Karhutla Tak Hanya Membakar Hutan, Tapi Juga Kehidupan Warga Desa

by dimas
Mei 25, 2026

Karhutla di Kalimantan Tengah tak hanya membakar hutan, tetapi juga memukul ekonomi keluarga, perempuan, dan masa depan anak desa. Tabooo.id:...

Feodalisme Modern: Saat Kekuasaan Tidak Lagi Pakai Mahkota

Feodalisme Modern: Saat Kekuasaan Tidak Lagi Pakai Mahkota

by Tabooo
Mei 19, 2026

Feodalisme tidak benar-benar hilang. Ia berubah bentuk lewat jabatan yang disakralkan, birokrasi yang minta dilayani, patronase politik, dan konflik agraria...

Hukum Pasca-Reformasi: Dari Pelindung Warga Menjadi Alat Pengatur Kritik

Hukum Pasca-Reformasi: Dari Pelindung Warga Menjadi Alat Pengatur Kritik

by Tabooo
Mei 15, 2026

Reformasi melahirkan banyak instrumen hukum. Namun hukum sering bergerak lambat untuk korban, cepat untuk kritik, dan dingin saat warga berhadapan...

Next Post
Krisis Identitas Gen Z di Tengah Ambisi Indonesia Emas 2045

Krisis Identitas Gen Z di Tengah Ambisi Indonesia Emas 2045

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id