Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ekspansi Sawit Menjanjikan Kemajuan, Tapi Kenapa Hutan dan Tradisi Menghilang?

by dimas
Mei 13, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Ekspansi sawit datang membawa janji kemajuan, jalan baru, dan pertumbuhan ekonomi. Namun di balik hamparan kebun yang terus meluas di Kalimantan, masyarakat Dayak perlahan kehilangan hutan, sungai, hingga cara hidup yang selama ini menjaga identitas mereka.

Tabooo.id – Siang itu panas menggantung di jalan menuju Desa Tumbang Kalang, Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur. Truk-truk sawit melintas tanpa jeda di tengah ekspansi sawit yang terus meluas. Debu tanah liat beterbangan. Aspal berhenti beberapa kilometer sebelum desa. Namun yang benar-benar terputus bukan cuma jalan. Cara hidup masyarakat Dayak juga ikut perlahan hilang.

Di rumah kayunya yang sederhana, Damang Antang Kalang, Hermas Bintih, menarik napas panjang ketika bicara soal sawit. Suaranya terdengar pelan, tetapi menyimpan luka yang dalam.

“Dulu masyarakat Dayak hidup dari alam. Cari makan dari hutan, sungai, dan ladang. Sekarang sungai tercemar, hutan hilang,” katanya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya, tersimpan cerita panjang tentang perubahan besar yang datang diam-diam selama belasan tahun.

Ketika Hutan Tidak Lagi Jadi Rumah

Dulu warga masih bebas berladang berpindah. Sistem tradisional itu bukan sekadar cara bertani. Tradisi itu menjadi identitas masyarakat Dayak selama turun-temurun. Warga membuka hutan seperlunya, menanam padi, lalu membiarkan tanah pulih secara alami. Selain itu, tradisi tersebut juga menghadirkan gotong royong dan ritual adat yang memperkuat hubungan manusia dengan alam.

Ini Belum Selesai

Reformasi 1998: Luka yang Masih Menunggu Keadilan

Kebangkitan Aktivis Perempuan: Apa Artinya Bagi Demokrasi Indonesia?

Kini ruang hidup itu makin sempit.

Lalang, Ketua Dewan Adat Dayak Kecamatan Antang Kalang, mengatakan masyarakat dulu mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Beras hasil ladang cukup untuk setahun. Warga juga mudah mencari ikan dan berburu rusa di hutan. Namun setelah ekspansi sawit masuk, keadaan berubah drastis.

“Sekarang semuanya berburu uang,” ujarnya.

Kalimat itu terasa seperti ironi besar pembangunan di Indonesia.

Sawit datang membawa janji jalan bagus, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, sebagian warga justru kehilangan kemampuan dasar untuk bertahan hidup. Ketika perusahaan mengubah lahan adat menjadi perkebunan sawit, masyarakat kehilangan ruang berburu. Sungai juga kehilangan kebersihannya. Sementara itu, generasi muda mulai menjauh dari tradisi leluhur mereka.

Masalahnya bukan sekadar pohon sawit.

Masalah sebenarnya muncul ketika perubahan datang terlalu cepat dan memaksa masyarakat meninggalkan cara hidup lama mereka.

Berburu Uang di Tanah Sendiri

Ketika ladang hilang, masyarakat harus masuk ke sistem ekonomi uang tunai. Mereka mulai membeli makanan yang dulu tersedia gratis di alam. Selain itu, mereka juga harus mencari pekerjaan di tengah keterbatasan pendidikan dan akses ekonomi.

Menurut tokoh adat setempat, tekanan hidup itu ikut memicu kasus pencurian sawit oleh warga.

Di titik itu, konflik sawit bukan lagi sekadar masalah lingkungan. Konflik tersebut berkembang menjadi persoalan identitas, ketimpangan sosial, dan krisis ruang hidup.

Handi P. Hady, warga Desa Tumbang Kalang, mengatakan warga dulu hidup dari rotan, karet, hasil sungai, dan hutan. Namun kini harga hasil alam jatuh, sementara hutan lebih dulu hilang.

“Jalan bagus tidak sepadan dengan hutan kami yang hilang,” katanya.

Pernyataan itu terasa seperti tamparan bagi narasi pembangunan yang sering hanya menghitung angka investasi.

Sebab pembangunan sering terlihat megah dari luar. Namun di sisi lain, banyak warga merasakan kehilangan yang tidak pernah masuk laporan ekonomi.

Pembangunan dan Kehilangan yang Berjalan Bersamaan

Pemerintah daerah belum memberikan penjelasan rinci soal dampak aktivitas perusahaan sawit di kawasan tersebut. Di sisi lain, pihak perusahaan membantah tuduhan pencemaran sungai dan mengklaim telah memberikan plasma kepada masyarakat sekitar.

Namun bagi sebagian warga, persoalannya jauh lebih dalam daripada sekadar kompensasi ekonomi.

Yang hilang bukan cuma tanah.

Yang hilang adalah hubungan manusia dengan alam, tradisi, dan cara hidup yang selama ini mereka jaga.

Fenomena di Antang Kalang juga memperlihatkan pola lama yang terus berulang di banyak wilayah Indonesia. Alam berubah menjadi komoditas atas nama pembangunan. Sementara itu, masyarakat adat harus beradaptasi dengan kehilangan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Ironisnya, masyarakat yang paling dekat dengan hutan justru menjadi kelompok pertama yang tersingkir ketika industri mulai menguasai ruang hidup mereka.

Dan pertanyaannya sekarang sederhana kalau hutan habis, sungai tercemar, dan budaya perlahan hilang, sebenarnya siapa yang benar-benar menikmati hasil pembangunan itu?

“Di negeri yang sibuk bicara pertumbuhan ekonomi, masyarakat adat sering cuma diminta tumbuh rasa sabarnya.” @dimas

Tags: Ekspansi SawitKalimantan Tengahkonflik agrariaMasyarakat Adat DayakRuang Hidup Adat

Kamu Melewatkan Ini

Nasib Orang Awyu, Saat Negara Melihat Tanah Mereka Sebagai Investasi

Nasib Orang Awyu, Saat Negara Melihat Tanah Mereka Sebagai Investasi

by Tabooo
Mei 9, 2026

Nasib orang Awyu di Papua Selatan berubah semakin tidak pasti sejak hutan adat mereka masuk ke dalam peta investasi sawit...

Pembangunan atau Perampasan Halus? Nasib Tanah Adat di Ujung Tanduk

Pembangunan atau Perampasan Halus? Nasib Tanah Adat di Ujung Tanduk

by dimas
Mei 9, 2026

Di tengah derasnya arus pembangunan, nasib tanah adat kian berada di persimpangan yang rapuh, sementara konflik tanah ulayat kembali mencuat...

Di Balik Film Pesta Babi, Ada Tanah Adat yang Sedang Tergusur

Di Balik Film Pesta Babi, Ada Tanah Adat yang Sedang Tergusur

by Tabooo
Mei 8, 2026

Film Pesta Babi bukan sekadar dokumenter tentang Papua Selatan, tetapi potret benturan besar antara proyek pembangunan nasional dan ruang hidup...

Next Post
Krisis Identitas Gen Z di Tengah Ambisi Indonesia Emas 2045

Krisis Identitas Gen Z di Tengah Ambisi Indonesia Emas 2045

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id