Isunya tidak hanya tentang kenaikan harga pangan dan pupuk global, tetapi juga bagaimana perang, kebijakan energi, dan krisis iklim perlahan membentuk ulang cara dunia mengelola ketersediaan pangan bagi miliaran manusia.
Tabooo.id: Reality – Ada satu paradoks yang kini menghantui sistem pangan global ketika produksi masih tergolong stabil di atas kertas, harga justru terus merangkak naik dan menekan negara-negara yang paling rentan. Perang di Timur Tengah, khususnya konflik AS-Israel versus Iran yang memicu penutupan Selat Hormuz, menjadi pemicu utama terganggunya jalur perdagangan energi, pupuk, dan komoditas pangan dunia.
Dalam situasi ini, pangan tidak lagi sekadar soal produksi dan distribusi, tetapi juga soal geopolitik, energi, dan siapa yang mengendalikan jalur logistik global. Dampaknya tidak berhenti di pasar internasional, tetapi perlahan merambat ke biaya hidup masyarakat di berbagai negara, termasuk negara pengimpor seperti Indonesia. Perang di Timur Tengah bukan hanya soal konflik geopolitik. Dampaknya kini terasa sampai dapur rumah tangga dunia. Harga gandum dan beras terus naik, sementara pupuk ikut melonjak tajam. Seberapa jauh krisis ini akan menekan hidup kita?
Selat Hormuz Lumpuh, Rantai Pasok Dunia Terguncang
Perang Amerika Serikat (AS)-Israel versus Iran yang pecah pada 28 Februari 2026 kini memasuki bulan ketiga. Konflik ini menutup akses normal di Selat Hormuz dan mengubah pola perdagangan energi serta pupuk dunia secara drastis.
Sebelum perang, 100-150 kapal melintas setiap hari di jalur itu. Kini, otoritas membatasi pergerakan kapal hanya pada jenis tertentu dengan pengawasan ketat. Situasi ini menghambat sekitar 20-30 persen perdagangan minyak global dan mengganggu 20-45 persen distribusi pupuk dunia.
Perubahan rute pelayaran dan kenaikan premi asuransi ikut mendorong biaya logistik laut naik tajam. Perusahaan pelayaran kini menanggung beban operasional yang jauh lebih tinggi dibanding periode sebelum konflik.
Pupuk Melonjak Lebih Cepat dari Energi
Tekanan paling keras muncul dari sektor pupuk. Indeks Harga Pupuk global naik 14,05 persen secara bulanan, melampaui kenaikan Indeks Harga Energi yang mencapai 12,07 persen.
Kenaikan ini terjadi karena harga pupuk urea dan TSP melonjak masing-masing 18,09 persen dan 17,92 persen. Produsen pangan di berbagai negara langsung merasakan dampaknya karena biaya produksi ikut naik.
UNCTAD juga mencatat lonjakan biaya logistik global. Harga bahan bakar kapal bersulfur tinggi naik 81,3 persen. Biaya pengiriman minyak dan barang curah bahkan naik lebih dari 100 persen pada sejumlah rute utama.
Beras dan Gandum Ikut Tertekan
Tekanan harga juga merambat ke komoditas pangan utama. Bank Dunia mencatat Indeks Harga Komoditas Pertanian naik 1,5 persen pada April 2026.
FAO kemudian mencatat kenaikan Indeks Harga Pangan global sebesar 1,6 persen secara bulanan. Tren ini berlangsung selama tiga bulan berturut-turut.
Harga gandum naik 0,8 persen, sedangkan beras naik 1,9 persen. Di pasar Asia, harga beras Thailand naik dari 381 dolar AS menjadi 403 dolar AS per ton. Vietnam juga mengalami kenaikan hingga 352,9 dolar AS per ton.
FAO menilai El Nino, kenaikan harga energi, dan mahalnya pupuk sebagai tiga faktor utama yang mendorong kenaikan harga pangan global.
Produksi Stabil, Tapi Risiko Tetap Besar
FAO menyebut produksi serealia dunia pada musim 2025/2026 mencapai 3,04 miliar ton. Angka itu naik sekitar 6 persen dibanding tahun sebelumnya.
Namun stabilitas produksi tidak otomatis menurunkan risiko pasar. Kepala Ekonom FAO Máximo Torero menegaskan bahwa gangguan perdagangan masih menjadi ancaman utama.
“Gangguan di Selat Hormuz masih berlangsung signifikan. Tekanan dari El Nino dan pupuk juga belum mereda,” ujarnya.
ASEAN Mulai Menyusun Respons Kolektif
Negara-negara ASEAN mulai mempercepat koordinasi untuk menghadapi tekanan global ini dalam KTT Ke-48 ASEAN di Filipina.
Indonesia mendorong penguatan ketahanan pangan dan energi melalui diversifikasi sumber impor, sistem peringatan dini, dan peningkatan kerja sama perdagangan antarnegara anggota.
Menteri Perdagangan RI Budi Santoso menegaskan bahwa kawasan harus memperkuat integrasi untuk menghadapi tekanan global yang tidak menentu.
“ASEAN harus tetap terbuka dan tangguh menghadapi ketidakpastian global,” ujarnya.
Dampak Langsung ke Kehidupan Sehari-hari
Kenaikan harga global ini tidak berhenti di level pasar internasional. Rantai dampaknya bergerak hingga pasar tradisional dan rumah tangga.
Harga pangan pokok berpotensi ikut naik seiring meningkatnya biaya produksi dan distribusi. Negara pengimpor seperti Indonesia menghadapi tekanan ganda biaya impor naik, sementara daya beli masyarakat bergerak lebih lambat.
Pada akhirnya, krisis ini tidak hanya berlangsung di ruang geopolitik, tetapi hadir langsung di meja makan masyarakat.
Lalu, sampai kapan konflik global akan terus menentukan isi keranjang belanja kita? @dimas





