Empat mahasiswa tewas ditembak pada Mei 1998. Hari ini, 27 tahun kemudian, sebagian anak muda justru mengenal Reformasi lewat potongan video TikTok berdurasi 30 detik. Pertanyaannya bukan lagi apakah Reformasi penting. Pertanyaannya: apakah generasi digital masih merasa punya hubungan emosional dengan sejarah itu atau Reformasi perlahan berubah jadi sekadar konten nostalgia?
Tabooo.id: Pada Mei 1998, ribuan mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR. Mereka turun ke jalan bukan demi algoritma, engagement, atau trending topic. Mereka turun karena harga kebutuhan pokok melonjak, korupsi merajalela, dan negara membungkam kritik.
Tragedi Trisakti lalu menjadi titik ledak. Aparat keamanan menembak empat mahasiswa hingga tewas. Setelah itu, Jakarta terbakar. Rezim Orde Baru runtuh. Reformasi lahir dari kemarahan publik dan keberanian anak muda.
Dulu, aktivisme membutuhkan keberanian fisik.
Sekarang, aktivisme sering berhenti di layar sentuh.
Gen Z Tumbuh di Era “Kebebasan Instan”
Generasi yang lahir setelah 1998 tidak pernah merasakan sensor Orde Baru. Mereka tumbuh ketika internet sudah terbuka, media sosial sudah bebas, dan kritik terhadap pemerintah terasa normal.
Masalahnya, kebebasan yang selalu tersedia sering terasa tidak istimewa.
Bagi banyak Gen Z, Reformasi bukan pengalaman emosional. Reformasi hanyalah bab sejarah sekolah, thread X, atau video carousel Instagram dengan backsound nostalgia.
Ironisnya, generasi yang menikmati hasil Reformasi justru paling jauh dari trauma yang melahirkannya.
TikTok Mengubah Cara Anak Muda Memahami Politik
Media sosial mengubah ritme perhatian publik. TikTok, Instagram Reels, dan Shorts membuat informasi bergerak sangat cepat. Politik akhirnya bersaing dengan dance challenge, drama selebriti, dan konten random tengah malam.
Akibatnya, isu serius harus bertarung dalam durasi pendek.
Kalau tidak menarik dalam tiga detik pertama, publik scroll.
Ini bukan salah Gen Z sepenuhnya. Platform digital memang merancang sistem yang mempertahankan perhatian sesingkat mungkin. Mereka mempercepat emosi dan memadatkan opini. Kemarahan berubah jadi tren harian.
Hari ini, aktivisme sering diukur dari hashtag.
Bukan dari risiko.
Dari Demonstrasi ke “Digital Awareness”
Bukan berarti generasi sekarang tidak peduli sama sekali.
Gen Z tetap vokal soal kesehatan mental, gender, lingkungan, dan kebebasan berekspresi. Mereka aktif membuat kampanye digital, mengkritik pejabat lewat meme, dan membangun solidaritas online.
Namun bentuk perlawanannya berubah.
Dulu mahasiswa menduduki gedung parlemen.
Sekarang netizen menduduki kolom komentar.
Perubahan ini menciptakan konflik baru: apakah kesadaran digital cukup kuat untuk melawan sistem nyata?
Atau justru algoritma membuat semua kemarahan terasa cepat, ramai, lalu hilang?
Reformasi Kini Terasa Jauh dari Kehidupan Sehari-hari
Banyak anak muda hari ini lebih sibuk memikirkan harga kos, burnout kerja, PHK massal, atau biaya hidup yang makin mahal.
Politik terasa abstrak.
Reformasi terasa jauh.
Padahal dampaknya tetap dekat.
Ketika kebebasan pers melemah, ruang kritik menyempit, dan institusi antikorupsi kehilangan taring, generasi muda sebenarnya sedang menyaksikan warisan Reformasi yang perlahan terkikis.
Masalahnya, degradasi demokrasi sering terjadi pelan-pelan.
Tidak dramatis.
Tidak selalu viral.
Ini Bukan Sekadar Soal Sejarah. Ini Soal Ingatan Kolektif
Bahaya terbesar bukan ketika anak muda tidak hafal tanggal Reformasi.
Bahaya terbesar muncul ketika publik kehilangan hubungan emosional dengan alasan orang-orang dulu memperjuangkan Reformasi.
Karena saat sejarah berubah jadi sekadar konten, masyarakat lebih mudah mengulang kesalahan yang sama.
Rezim otoriter tidak selalu kembali lewat tank dan senjata.
Kadang ia datang lewat rasa lelah publik terhadap politik.
Lewat apatisme.
Lewat kalimat:
“Semua juga sama.”
Human Impact
Kalau generasi sekarang makin jauh dari nilai Reformasi, dampaknya bukan cuma soal sejarah yang dilupakan.
Dampaknya adalah masyarakat perlahan terbiasa melihat kebebasan sebagai sesuatu yang bisa dikurangi sedikit demi sedikit.
Hari ini mungkin cuma kritik yang dibatasi.
Besok bisa jadi suara publik yang dianggap mengganggu.
Generasi 1998 melawan ketakutan di jalanan.
Generasi sekarang melawan distraksi di timeline.
Musuhnya berbeda. Tapi pertanyaannya tetap sama:
Kalau demokrasi mulai melemah pelan-pelan, apakah kita masih cukup peduli untuk mempertahankannya? @waras





