Minggu, Juli 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kasus Suap Bea Cukai Rp61 Miliar: Nama Dirjen Muncul di Sidang Tipikor

by jeje
Mei 7, 2026
in Reality
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter
Pelabuhan selalu terlihat sibuk dari kejauhan. Kontainer datang dan pergi. Crane terus bergerak. Truk-truk melintas seperti denyut nadi ekonomi yang tidak pernah tidur. Namun di balik lalu lintas barang itu, ada ruang-ruang sunyi yang jarang publik lihat: ruang pertemuan, kedekatan, dan akses. Kini, ruang itu mulai terbuka di pengadilan.

Tabooo.id: News – Ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta mendadak menegang ketika jaksa KPK membacakan satu nama yang langsung menarik perhatian: Djaka Budi Utama. Nama Dirjen Bea Cukai itu muncul dalam surat dakwaan kasus dugaan suap kepabeanan senilai Rp61,3 miliar. Sejak momen itu, kasus ini tidak lagi terasa seperti perkara suap biasa.

Pertemuan yang Kini Dibaca Publik dengan Cara Berbeda

Kasus ini bermula dari dakwaan terhadap tiga orang dari Blueray Cargo Group: John Field, Dedy Kurniawan Sukolo, dan Andri. Jaksa menilai mereka memberikan uang, fasilitas hiburan, hingga barang mewah kepada sejumlah pejabat Bea Cukai agar proses impor berjalan lebih cepat dan lebih aman. Nilainya pun tidak kecil.

Bukan cuma miliaran, tetapi puluhan miliar rupiah. Dalam dakwaan, jaksa menyebut total dugaan suap mencapai Rp61.301.939.000 dalam bentuk dolar Singapura. Selain itu, penerima juga diduga menikmati fasilitas hiburan dan barang mewah senilai Rp1,845 miliar.

Namun publik tidak hanya berhenti pada angka. Publik mulai membaca pola relasinya. Pada Mei 2025, John Field bertemu Rizal di sebuah restoran kawasan Kelapa Gading. Saat itu, Rizal menjabat Direktur Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai. Sebulan kemudian, Rizal memperkenalkan John kepada Sisprian Subiaksono dan Orlando Hamonangan Sianipar di kantor pusat Bea Cukai, Rawamangun.

Lalu muncul pertemuan yang kini terasa jauh lebih sensitif setelah sidang berjalan. Juli 2025. Hotel Borobudur. Jakarta Pusat.

Ini Belum Selesai

30 Petugas Sensus Ekonomi Mundur, BPS Semarang Bantah Honor Macet

Final Piala Dunia 2026: La Albiceleste vs La Furia Roja

Jaksa menyebut sejumlah pejabat Bea Cukai bertemu para pengusaha kargo di lokasi itu. Dalam dakwaan, nama Djaka Budi Utama hadir bersama Rizal, Sisprian, dan Orlando.

“Dilakukan pertemuan antara pejabat-pejabat di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai antara lain Djaka Budi Utama, Rizal, Sisprian Subiaksono, dan Orlando Hamonangan Sianipar dengan pengusaha-pengusaha kargo,” kata jaksa di ruang sidang.

Setelah itu, nama Djaka memang tidak lagi muncul dalam uraian dugaan aliran uang. Namun publik telanjur menangkap sesuatu yang lebih besar dari sekadar nama.

Publik mulai melihat kemungkinan bahwa relasi personal ikut bekerja di balik sistem yang terlihat formal dan administratif.

Jalur Merah dan Dugaan Jalan Pintas

Sebulan setelah pertemuan Hotel Borobudur, Orlando kembali menemui John Field.

Dalam pertemuan itu, John mengeluhkan barang impor Blueray Cargo yang semakin sering masuk jalur merah dan terkena dwelling time.

Barang tertahan lebih lama. Proses berjalan semakin lambat. Biaya pun ikut membengkak.

Di titik itu, dugaan permainan mulai terlihat lebih jelas. Jaksa menyebut aliran uang berjalan bertahap sejak Juli 2025 hingga Januari 2026. Dugaan itu mengarah pada upaya mempercepat proses impor dan mempermudah keluarnya barang dari pengawasan pelabuhan.

Kalau dakwaan ini terbukti di pengadilan, maka persoalannya jauh lebih besar dari sekadar suap.

Sebab selama ini publik hanya melihat harga barang di pasar. Padahal di belakangnya, ada dugaan negosiasi akses yang menentukan siapa bisa bergerak cepat dan siapa harus tertahan dalam antrean sistem.

Yang punya koneksi melaju lebih dulu. Sementara yang tidak punya akses hanya bisa menunggu. Ironisnya, semua itu terjadi di ruang yang seharusnya paling steril dari kedekatan kepentingan.

Ketika Birokrasi Tidak Lagi Terasa Netral

Menanggapi munculnya nama Dirjen Bea Cukai dalam surat dakwaan, Kasubdit Hubungan Masyarakat dan Penyuluhan Bea Cukai, Budi Prasetiyo, menyatakan pihaknya menghormati proses hukum yang berjalan.

“Kami menghormati proses hukum yang sedang berjalan di pengadilan, dengan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah,” ujar Budi, Kamis (7/5/2026).

Ia juga menegaskan Bea Cukai tidak akan mengomentari substansi perkara demi menjaga independensi persidangan.

Namun ruang sidang telanjur membuka pertanyaan yang jauh lebih dalam.

Tentang bagaimana birokrasi bekerja.

Tentang siapa yang sebenarnya memiliki akses.

Dan tentang betapa mudahnya sistem berubah menjadi privilese bagi mereka yang duduk di meja yang tepat. @jeje

Tags: Bea Cukaiberita hari iniKPKPelabuhan

Kamu Melewatkan Ini

Polri Tetapkan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Sebagai Tersangka

Di Balik Kasus Febrie: Hukum atau Pertarungan Elite?

by dimas
Juli 16, 2026

Kasus Febrie Adriansyah memicu pertanyaan besar: murni penegakan hukum atau pertarungan elite? Transparansi kini menjadi taruhan kepercayaan publik. Tabooo.id -...

KPK Geledah Rumah Anggota BPK, Usut Suap Audit Muara Enim

KPK Geledah Rumah Anggota BPK, Usut Suap Audit Muara Enim

by dimas
Juli 15, 2026

KPK menggeledah rumah anggota BPK berinisial BB untuk mengusut dugaan suap audit Pemkab Muara Enim. Penyidik menyita barang bukti elektronik....

SK Jadi Mesin Setoran: Dari Regulasi Menjadi Alat Memeras Bawahan

SK Jadi Mesin Setoran: Dari Regulasi Menjadi Alat Memeras Bawahan

by dimas
Juli 12, 2026

KPK menduga SK Bupati Sukoharjo menjadi alat menarik setoran dari bawahan. Dugaan ini membuka pola korupsi yang mengakar di birokrasi....

Next Post
Hari Palang Merah Internasional: Kemanusiaan yang Lahir dari Kekacauan Perang

Hari Palang Merah Internasional: Kemanusiaan yang Lahir dari Kekacauan Perang

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id