Final Piala Dunia 2026 mempertemukan Argentina dan Spanyol dalam duel perebutan takhta sepak bola dunia. La Albiceleste dan La Furia Roja siap mengukir sejarah di laga puncak.
Tabooo.id: Sport – Piala Dunia 2026 tinggal menyisakan satu pertandingan. Di Stadion MetLife, New Jersey, Senin (20/7/2026) dini hari WIB, Spanyol dan Argentina akan bertarung memperebutkan trofi paling bergengsi di sepak bola dunia.
Ini bukan sekadar duel dua tim terbaik. Final ini mempertemukan dua filosofi permainan, dua generasi bintang, dan dua ambisi besar: Spanyol memburu gelar dunia kedua dalam sejarahnya, sementara Argentina mengincar status juara bertahan sekaligus mempertegas dominasi era Lionel Messi.
Dari 48 peserta yang memulai turnamen, hanya “La Furia Roja” dan “La Albiceleste” yang mampu bertahan hingga laga terakhir. Kini, hanya satu yang akan pulang sebagai juara dunia.
Duel Taktik: Bisakah Spanyol Menghentikan Messi?
Tantangan terbesar Spanyol jelas bernama Lionel Messi. Kapten Argentina itu menjadi pusat permainan timnya dengan kontribusi delapan gol dan empat assist sepanjang turnamen. Sebanyak 63 persen gol Argentina lahir melalui keterlibatan langsung sang megabintang.
Mantan bek Inggris Gary Neville menyarankan Spanyol menerapkan penjagaan satu lawan satu terhadap Messi. Namun, pelatih Luis de la Fuente memilih pendekatan berbeda.
Menurut De la Fuente, pengalaman menghadapi Messi sejak level junior membuktikan penjagaan individu justru sering berujung bencana. Karena itu, Spanyol lebih memilih membatasi ruang gerak Messi melalui organisasi pertahanan kolektif.
Strategi tersebut bukan tanpa modal. Sepanjang Piala Dunia 2026, Spanyol baru kebobolan satu gol. Solidnya lini belakang yang dipimpin Marc Cucurella, Rodri, dan Fabian Ruiz menjadi fondasi utama perjalanan mereka menuju final.
Namun, ada satu kelemahan yang harus diwaspadai. Spanyol beberapa kali kehilangan fokus setelah unggul lebih dahulu. Melawan Argentina yang terkenal mampu bangkit dari situasi sulit, kesalahan sekecil apa pun bisa berujung petaka.
Argentina Kembali Diterpa Isu Keberpihakan Wasit
Di luar lapangan, Argentina juga menghadapi sorotan tajam. Sejumlah pihak menuding perjalanan mereka menuju final diwarnai keputusan kontroversial wasit yang dianggap menguntungkan.
Kontroversi muncul dalam laga melawan Tanjung Verde, Mesir, hingga Swiss. Beberapa keputusan VAR dan kartu merah memicu perdebatan di kalangan pengamat maupun pendukung lawan.
Messi menolak seluruh tudingan tersebut. Ia menegaskan keberhasilan Argentina bukan hadiah dari siapa pun, melainkan hasil pengalaman, mental juara, dan perjuangan tim.
Pelatih Lionel Scaloni juga meminta publik tidak mudah percaya pada narasi yang berkembang di media sosial. Menurutnya, keberadaan VAR membuat sangat sulit bagi sebuah tim mendapatkan keuntungan secara sistematis.
Yamal vs Messi: Masa Depan Bertemu Sang Legenda
Final ini juga menghadirkan duel simbolik antara dua generasi Barcelona.
Lamine Yamal, 19 tahun, menjadi wajah baru sepak bola Spanyol. Sementara Messi, 39 tahun, berpeluang menjalani final Piala Dunia terakhir dalam kariernya.
Keduanya sama-sama pemain kidal, pernah mengenakan nomor punggung 19 dan 10 di Barcelona, serta beroperasi dari sisi kanan serangan. Namun, pengalaman menjadi pembeda utama.
Yamal baru mencetak satu gol sepanjang turnamen, tetapi kontribusinya membuka ruang dan membangun serangan membuatnya menjadi bagian penting dalam sistem permainan Spanyol.
Sebaliknya, Messi tetap tampil luar biasa. Delapan gol dan empat assist membuktikan bahwa usia belum mengurangi kecerdasannya membaca permainan maupun menentukan momen.
Scaloni bahkan menyebut Yamal sebagai salah satu talenta terbesar yang dimiliki sepak bola saat ini. Meski demikian, bagi Argentina, ancaman terbesar tetap datang dari kolektivitas Spanyol yang tampil sangat disiplin sepanjang turnamen.
Final yang Menentukan Sejarah
Pertemuan Spanyol dan Argentina bukan sekadar perebutan trofi. Ini adalah pertarungan antara regenerasi dan pengalaman, organisasi permainan melawan kreativitas individu, serta duel dua pelatih yang sama-sama berhasil membangun identitas timnya.
Jika Spanyol menang, mereka akan mengakhiri penantian panjang sejak gelar 2010 sekaligus menegaskan lahirnya generasi emas baru.
Sebaliknya, jika Argentina kembali berjaya, Lionel Messi berpotensi menutup karier Piala Dunia dengan dua gelar beruntun sebuah pencapaian yang akan semakin mengukuhkan namanya sebagai salah satu pemain terbesar sepanjang sejarah.
Peluit akhir nanti tak hanya menentukan siapa juara. Ia juga akan menulis bab terakhir dari kisah terbesar sepak bola dunia tahun ini. @dimas







