Senin, Juni 29, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bukan Sekadar Main HP, Pengadilan AS Sebut Media Sosial Dirancang Bikin Candu

by jeje
Mei 7, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Perdebatan soal media sosial kini bergeser. Orang kini tidak lagi hanya memperdebatkan durasi menatap layar, tapi juga cara platform digital merancang sistem mereka sejak awal.

Tabooo.id: Deep – Seorang perempuan muda memenangkan gugatan melawan Meta dan Google di Pengadilan Los Angeles setelah mengalami kecanduan media sosial sejak kecil. Juri menyatakan Meta, pemilik Instagram, Facebook, dan WhatsApp, serta Google sebagai pemilik YouTube, sengaja membangun sistem yang membuat pengguna sulit lepas dari aplikasi.

Penggugat yang dikenal sebagai Kaley mendapat ganti rugi sebesar US$6 juta atau sekitar Rp97 miliar. Putusan itu diprediksi memengaruhi ratusan gugatan serupa di Amerika Serikat.

Platform Adiktif Jadi Sorotan

Kasus ini memicu perdebatan baru tentang desain media sosial modern. Penggugat menilai perusahaan teknologi sengaja menciptakan fitur yang mampu mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.

Fitur itu meliputi infinite scroll atau konten tanpa akhir, autoplay video otomatis, hingga sistem like dan komentar yang memberi dorongan psikologis instan.

Selain itu, notifikasi push terus memancing pengguna agar kembali membuka aplikasi.

Ini Belum Selesai

Arief Rahman: Dari Aktivis Kampus ke Arsitek Media Digital

Pemerintah Janji Redam PHK, Tapi Industri Sudah Kehilangan Napas

Peneliti bahkan membandingkan mekanisme ini dengan sistem perjudian. Platform terus memberi kombinasi ketidakpastian, hadiah, dan validasi sosial agar pengguna terus kembali.

Masalahnya, anak-anak menjadi kelompok paling rentan terhadap sistem tersebut.

Anak-anak Jadi Target Paling Mudah

Kaley mulai menggunakan media sosial sejak usia enam tahun. Seiring waktu, kebiasaan itu berkembang menjadi penggunaan kompulsif hingga memicu depresi.

Peneliti menyebut otak anak belum memiliki kontrol impuls yang matang. Karena itu, anak-anak lebih mudah terdorong membuka aplikasi secara terus-menerus tanpa sadar.

Meski dunia medis masih memperdebatkan istilah “kecanduan media sosial”, para peneliti kini memakai istilah problematic social media use untuk menggambarkan penggunaan berlebihan yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

Gejalanya mirip kecanduan lain. Pengguna terus merasa terdorong membuka aplikasi, mengalami perubahan suasana hati, hingga kesulitan tidur.

Meta dan Google Melawan

Namun Meta dan Google menolak putusan tersebut dan berencana mengajukan banding.

Meta menilai kesehatan mental remaja tidak bisa dikaitkan dengan satu aplikasi saja.

“Kami akan terus membela diri dengan gigih karena setiap kasus berbeda, dan kami tetap yakin dengan rekam jejak kami dalam melindungi remaja secara daring,” kata pihak Meta.

Meski begitu, kasus ini mulai mendorong banyak negara mempertimbangkan aturan lebih ketat terhadap media sosial. Pemerintah di berbagai negara mulai membahas pembatasan usia hingga larangan fitur yang dianggap terlalu adiktif.

Karena sekarang pertanyaannya bukan lagi apakah media sosial berbahaya atau tidak.

Pertanyaannya: sampai sejauh mana platform digital boleh memonetisasi perhatian anak-anak? @jeje

Tags: Anak Muda IndonesiaGenerasi AlphaGenerasi ZMedia SosialNasionalSadar KesehatanTaboooid

Kamu Melewatkan Ini

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

by Tabooo
Juni 18, 2026

Hoaks tidak hanya menyebarkan informasi palsu. Ia menyerang cara berpikir, memanfaatkan emosi, identitas, dan algoritma yang terus mengulang hal serupa....

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

by jeje
Juni 2, 2026

Bagaimana mungkin seseorang menulis tentang Indonesia sebelum Indonesia benar-benar ada? Pertanyaan itu muncul ketika membaca Naar de Republiek Indonesia, karya Tan...

Next Post
Infinite Scroll dan Otak Anak: Kenapa Generasi Sekarang Sulit Lepas dari HP?

Infinite Scroll dan Otak Anak: Kenapa Generasi Sekarang Sulit Lepas dari HP?

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id