Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bukan Sekadar Main HP, Pengadilan AS Sebut Media Sosial Dirancang Bikin Candu

by jeje
Mei 7, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Perdebatan soal media sosial kini bergeser. Orang kini tidak lagi hanya memperdebatkan durasi menatap layar, tapi juga cara platform digital merancang sistem mereka sejak awal.

Tabooo.id: Deep – Seorang perempuan muda memenangkan gugatan melawan Meta dan Google di Pengadilan Los Angeles setelah mengalami kecanduan media sosial sejak kecil. Juri menyatakan Meta, pemilik Instagram, Facebook, dan WhatsApp, serta Google sebagai pemilik YouTube, sengaja membangun sistem yang membuat pengguna sulit lepas dari aplikasi.

Penggugat yang dikenal sebagai Kaley mendapat ganti rugi sebesar US$6 juta atau sekitar Rp97 miliar. Putusan itu diprediksi memengaruhi ratusan gugatan serupa di Amerika Serikat.

Platform Adiktif Jadi Sorotan

Kasus ini memicu perdebatan baru tentang desain media sosial modern. Penggugat menilai perusahaan teknologi sengaja menciptakan fitur yang mampu mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.

Fitur itu meliputi infinite scroll atau konten tanpa akhir, autoplay video otomatis, hingga sistem like dan komentar yang memberi dorongan psikologis instan.

Selain itu, notifikasi push terus memancing pengguna agar kembali membuka aplikasi.

Ini Belum Selesai

Masuk Kampus, Membayar Kuasa?

AMPB Tinggalkan DPR, Mengapa Warga Pati Memilih Mengalah?

Peneliti bahkan membandingkan mekanisme ini dengan sistem perjudian. Platform terus memberi kombinasi ketidakpastian, hadiah, dan validasi sosial agar pengguna terus kembali.

Masalahnya, anak-anak menjadi kelompok paling rentan terhadap sistem tersebut.

Anak-anak Jadi Target Paling Mudah

Kaley mulai menggunakan media sosial sejak usia enam tahun. Seiring waktu, kebiasaan itu berkembang menjadi penggunaan kompulsif hingga memicu depresi.

Peneliti menyebut otak anak belum memiliki kontrol impuls yang matang. Karena itu, anak-anak lebih mudah terdorong membuka aplikasi secara terus-menerus tanpa sadar.

Meski dunia medis masih memperdebatkan istilah “kecanduan media sosial”, para peneliti kini memakai istilah problematic social media use untuk menggambarkan penggunaan berlebihan yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

Gejalanya mirip kecanduan lain. Pengguna terus merasa terdorong membuka aplikasi, mengalami perubahan suasana hati, hingga kesulitan tidur.

Meta dan Google Melawan

Namun Meta dan Google menolak putusan tersebut dan berencana mengajukan banding.

Meta menilai kesehatan mental remaja tidak bisa dikaitkan dengan satu aplikasi saja.

“Kami akan terus membela diri dengan gigih karena setiap kasus berbeda, dan kami tetap yakin dengan rekam jejak kami dalam melindungi remaja secara daring,” kata pihak Meta.

Meski begitu, kasus ini mulai mendorong banyak negara mempertimbangkan aturan lebih ketat terhadap media sosial. Pemerintah di berbagai negara mulai membahas pembatasan usia hingga larangan fitur yang dianggap terlalu adiktif.

Karena sekarang pertanyaannya bukan lagi apakah media sosial berbahaya atau tidak.

Pertanyaannya: sampai sejauh mana platform digital boleh memonetisasi perhatian anak-anak? @jeje

Tags: Anak Muda IndonesiaGenerasi AlphaGenerasi ZMedia SosialNasionalSadar KesehatanTaboooid

Kamu Melewatkan Ini

Kartu Kredit Indonesia Meluncur, MDR QRIS 0% Diperluas

Kartu Kredit Indonesia Meluncur, MDR QRIS 0% Diperluas

by Tabooo
Agustus 18, 2026

Excerpt: Kartu Kredit Indonesia resmi meluncur. Bersamaan dengan itu, BI memperluas MDR QRIS 0% mulai 1 Oktober 2026 untuk transaksi...

RUU Perampasan Aset Mulai Ngebut. Bagaimana Realisasinya?

RUU Perampasan Aset Mulai Ngebut. Bagaimana Realisasinya?

by Tabooo
Agustus 18, 2026

Prabowo meminta RUU Perampasan Aset dipercepat. DPR masih menjaring masukan publik. Tantangannya bukan cuma pengesahan, tetapi memastikan aset hasil kejahatan...

Bela Prabowo soal “Londo Ireng”, Hasan Nasbi: Pemerintah Juga Boleh Mengkritik

Bela Prabowo soal “Londo Ireng”, Hasan Nasbi: Pemerintah Juga Boleh Mengkritik

by Tabooo
Agustus 1, 2026

Hasan Nasbi membela pernyataan Prabowo Subianto soal “Londo Ireng”. Menurutnya, kebebasan berpendapat harus berlaku dua arah, termasuk bagi pemerintah.

Next Post
Infinite Scroll dan Otak Anak: Kenapa Generasi Sekarang Sulit Lepas dari HP?

Infinite Scroll dan Otak Anak: Kenapa Generasi Sekarang Sulit Lepas dari HP?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id