Senin, Juni 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Suami Tunduk, Istri Melawan: Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

by teguh
Mei 5, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Di satu sisi, seorang suami memilih aman di bawah kekuasaan. Namun di sisi lain, sang istri justru mengangkat senjata. Ironisnya, konflik itu tidak hanya terjadi di medan perang tetapi juga di dalam rumah mereka sendiri.

Tabooo.id: Edge – Pada 1825–1830, Jawa terbakar oleh Perang Diponegoro. Saat banyak bangsawan mencari selamat, Raden Tumenggung Yudokusumo I justru mengambil posisi yang stabil bekerja sama dengan kolonial.

Namun, berbeda arah, istrinya, Raden Ayu Yudokusumo, memilih melawan. Ia tidak menunggu. Ia tidak diam. Ia langsung bergerak.

Menurut sejarawan Peter Carey:

“Perempuan dalam lingkaran Diponegoro tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga aktor nyata dalam strategi dan logistik perang.”

Karena itu, Raden Ayu Yudokusumo tidak sekadar hadir. Ia ikut menentukan arah perlawanan.

Kontras yang Terlalu Jelas: Stabil atau Tunduk?

Pada 17 September 1825 di Ngawi, ia mengatur serangan terhadap jaringan ekonomi yang terhubung dengan kolonial. Langkah itu jelas berisiko. Namun, ia tetap maju.

Ini Belum Selesai

Bersih Desa: Siapa yang Sebenarnya Sedang Dibersihkan?

RUU Pemilu dan Ancaman Penyempitan Ruang Demokrasi

Selanjutnya, pada 1827–1828, ia bergabung dengan pasukan kavaleri di bawah Sosrodilogo di wilayah Monconegoro Timur. Ia tidak bersembunyi. Ia justru berada di garis depan.

Sementara itu, sang suami tetap menjaga relasi dengan kekuasaan kolonial. Ia memilih stabilitas. Ia mempertahankan posisi.

Lalu muncul pertanyaan yang tidak nyaman Apakah stabil berarti benar? Atau justru berarti tunduk?

Perempuan yang Menolak Diam

Menurut Sartono Kartodirdjo:

“Perang Diponegoro adalah bentuk perlawanan total rakyat Jawa, termasuk perempuan bangsawan.”

Namun, Raden Ayu Yudokusumo melangkah lebih jauh. Ia tidak hanya ikut. Ia menabrak batas.

Soerjono Soekanto menegaskan:

“Perubahan sosial sering dimulai dari individu yang berani melawan norma dominan.”

Karena itu, ia tidak mengikuti peran istri pada zamannya. Ia tidak tunduk pada struktur patriarki. Sebaliknya, ia menciptakan jalannya sendiri.

Simbol yang Tidak Main-Main

Kemudian, ia mencukur rambutnya hingga gundul. Dalam budaya Jawa, rambut melambangkan kehormatan perempuan. Namun, ia melepaskan simbol itu.

Ia tidak kehilangan identitas. Ia justru memilih identitas baru.

Budayawan Goenawan Mohamad pernah berkata:

“Sejarah bukan hanya tentang siapa yang menang, tetapi siapa yang memilih untuk tidak tunduk.”

Dan jelas, ia memilih untuk tidak tunduk.

Kalah Fisik, Bukan Prinsip

Pada 1828 di Madiun, ia menyerah. Saat itu, kekuatan pasukan Diponegoro di wilayah timur mulai melemah.

Namun, ia tidak menyerah pada nilai yang ia pegang. Ia hanya berhenti karena situasi memaksa.

Ini Bukan Sekadar Perang

Ini bukan sekadar cerita sejarah. Ini pola kekuasaan yang terus berulang. Di satu sisi, kekuasaan selalu menawarkan rasa aman. Namun di sisi lain, perlawanan selalu menuntut keberanian. Dan sering kali, konflik terbesar tidak terjadi di luar. Justru, konflik itu muncul di dalam lingkaran paling dekat yaitu keluarga.

Ini Tentang Kamu

Hari ini, bentuknya mungkin berbeda. Namun polanya tetap sama.

Kamu akan menghadapi pilihan:

  • ikut arus demi aman, atau
  • melawan demi prinsip

Dan sering kali, pilihan itu tidak datang dari jauh. Ia datang dari orang terdekatmu.

Siapa yang Sebenarnya Kalah?

Banyak orang menyebut sikap tunduk sebagai realistis. Sebaliknya, orang sering menyebut perlawanan sebagai nekat.

Namun, realitasnya tidak sesederhana itu.

Karena bisa jadi, yang terlihat realistis hanyalah cara halus untuk mempertahankan posisi.

Sementara itu, yang disebut nekat justru bentuk keberanian paling jujur.

Pilihan yang Tidak Netral

Akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang menang. Sejarah mencatat siapa yang berani memilih. Jadi, jika kamu berada di posisi itu kamu akan ikut diam atau berdiri melawan?

Nyaman Itu Menipu

Yang paling berbahaya bukan penjajah di luar tapi kenyamanan yang membuatmu berhenti melawan. @teguh

Tags: BudayawankekuasaanKolonialmadiunngawiperempuanPerlawananPolaSimbol

Kamu Melewatkan Ini

Memuliakan Kekuasaan atau Memuliakan Manusia?

Memuliakan Kekuasaan atau Memuliakan Manusia?

by dimas
Juni 21, 2026

Memuliakan kekuasaan atau memuliakan manusia? Ketika rakyat merasa terabaikan, kontrak sosial mulai retak, kepercayaan publik memudar, dan demokrasi kehilangan fondasi...

Panembahan Ronggo Jumeno, Purabaya dan Akar Sejarah Madiun

Panembahan Ronggo Jumeno, Purabaya dan Akar Sejarah Madiun

by dimas
Juni 21, 2026

Panembahan Ronggo Jumeno menjadi tokoh penting dalam sejarah Purabaya. Simak jejak konflik dengan Mataram yang membentuk identitas awal Madiun. Tabooo.id...

Negara Hukum atau Negara Elite?

Negara Hukum atau Negara Elite?

by dimas
Juni 18, 2026

Negara hukum seharusnya melindungi rakyat. Namun ketika elite lebih menentukan arah kebijakan, demokrasi menghadapi krisis legitimasi dan kepercayaan publik. Tabooo.id...

Next Post
Saat Dunia Guncang, Barito Pacifi Justru Tancap Gas 200% Lebih

Saat Dunia Guncang, Barito Pacific Justru Tancap Gas 200% Lebih

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id