Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ini Bukan Sekadar Sidang. Ini Tentang Cara Kebenaran Dibentuk

by jeje
Mei 1, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Ruang sidang itu awalnya tenang. Lalu satu teriakan memecah semuanya. “Saya bukan pelakunya!” Sejak detik itu, sidang tidak lagi sekadar membahas kasus pembunuhan. Ia berubah menjadi panggung pertanyaan tentang kebenaran.

Tabooo.id: Deep – Ruang sidang itu terasa biasa di awal. Formal. Kaku. Seperti pengadilan pada umumnya. Namun kemudian, semuanya pecah dalam satu momen.

Ririn Rifanto berdiri. Suaranya meninggi. Ia tak lagi tampak seperti terdakwa yang menunggu putusan. Ia berubah menjadi seseorang yang ingin didengar sebelum semuanya terlambat.
“Saya bukan pelakunya!”

Ucapan itu bukan sekadar bantahan. Ia terdengar seperti alarm. Sejak saat itu, arah sidang langsung bergeser.

Perhatian tidak lagi tertuju pada prosedur. Fokus beralih ke satu hal yang lebih mendasar: kebenaran.

Ketika Nama-Nama Baru Muncul

Di tengah emosinya, Rifanto menyebut beberapa nama: Aman Yani, Joko, Hardi, dan Yoga.

Ini Belum Selesai

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

Penyebutan itu langsung mengguncang rasa kepastian yang sebelumnya terasa di ruang sidang.

Akibatnya, keyakinan mulai retak.

Sementara itu, kuasa hukum menegaskan bahwa jaksa belum menghadirkan saksi kunci. Ia menyebut sosok ini mengetahui langsung kejadian, bahkan diduga ikut menguburkan korban.

Jika hal itu terbukti, cerita yang selama ini dianggap utuh bisa berubah drastis.

Karena itu, publik mulai mempertanyakan: apakah yang terlihat ini benar-benar fakta, atau hanya konstruksi?

Pengakuan yang Dipertanyaka

Namun, bagian paling mengganggu muncul setelahnya.

Rifanto melontarkan pernyataan lain. Lebih dalam. Lebih gelap.
“Kaki saya dipatahin, pak. Saya disuruh mengakui.”

Pernyataan ini tidak hanya menyerang satu kasus. Pernyataan ini langsung mengguncang kepercayaan publik.

Selama ini, sistem hukum sering menjadikan pengakuan sebagai bentuk kebenaran paling sederhana.

Masalahnya, pertanyaan kini berubah: bagaimana jika pengakuan itu tidak lahir dari kehendak bebas?

Lebih jauh lagi, bagaimana jika tekanan justru membentuk “kebenaran”?

Sistem yang Tidak Terlihat

Polda Jawa Barat menyatakan bahwa penyidik telah menjalankan prosedur. Penegasan ini penting, karena hukum bergantung pada aturan yang jelas.

Namun demikian, persoalan tidak berhenti di situ.

Masalah utama justru muncul dari cara publik melihatnya.

Publik tidak membaca berkas. Publik melihat manusia. Mereka menyaksikan terdakwa berteriaka, mendengar dugaan penyiksaan dan merasakan ketegangan di ruang sidang.

Dari situ, kepercayaan mulai bergeser.

Dalam banyak kasus, yang dipertaruhkan bukan hanya putusan. Sistem itu sendiri ikut dipertanyakan.

Kasus yang Sudah Mengguncang

Publik belum melupakan awal kasus ini.

Pelaku membunuh satu keluarga. Lima korban ia kubur dalam satu lubang. Bahkan, seorang bayi ikut menjadi korban.

Sejak awal, peristiwa ini memicu kemarahan luas.

Namun kini, kemarahan itu bercampur dengan keraguan.

Jika aparat salah menetapkan pelaku, maka dua kejahatan terjadi sekaligus: pembunuhan dan kemungkinan salah menghukum.

Ini Lebih Besar dari Satu Orang

Saat ini, sidang berada di titik persimpangan.

Di satu sisi berdiri kebenaran. Di sisi lain, muncul konstruksi kebenaran.

Sistem hukum tidak hanya bekerja dengan fakta. Sistem juga bergantung pada narasi, pengakuan, dan kepercayaan.

Begitu satu elemen retak, keseluruhan sistem ikut goyah.

Pertanyaan yang Tidak Nyaman

Selama ini, pengadilan dipercaya sebagai tempat terakhir mencari kebenaran.

Namun, bagaimana jika justru di sana muncul lebih banyak pertanyaan?

Bagaimana jika seseorang mengaku bukan karena bersalah, tetapi karena terpaksa?

Dan satu pertanyaan yang sulit dihindari:

Jika ini bisa terjadi pada satu orang, apakah hal yang sama bisa menimpa siapa saja? @jeje

Tags: Hukum IndonesiaKasus IndramayuKekuasaan Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Di Balik Tembok Lapas Cibinong: Ketika Pengawasan Justru Datang dari Luar

Di Balik Tembok Lapas Cibinong: Ketika Pengawasan Justru Datang dari Luar

by teguh
September 28, 2026

Di balik tembok lapas Cibinong seharusnya membatasi ruang gerak warga binaan. Namun, temuan Ombudsman RI di Lapas Kelas IIA Cibinong...

RUU Perampasan Aset: 15 Desember Jadi Deadline Politik DPR

RUU Perampasan Aset: 15 Desember Jadi Deadline Politik DPR

by Tabooo
Agustus 27, 2026

DPR menetapkan 15 Desember 2026 sebagai batas penyelesaian RUU Perampasan Aset. Setelah Dasco menyatakan siap mundur jika gagal, tenggat legislasi...

Hari Pengayoman, Hukum Jangan Sekadar Kumpulan Aturan

Hari Pengayoman: Negara Punya Aturan, Rakyat Butuh Kepastian

by dimas
Agustus 20, 2026

Hari Pengayoman ke-81 menjadi momentum menguji apakah hukum benar-benar hadir untuk melindungi masyarakat, bukan sekadar menambah tumpukan aturan. Tabooo.id -...

Next Post
Buruh Madiun Kritik May Day di Monas: Perjuangan atau Sekadar Hura-hura?

Buruh Madiun Kritik May Day di Monas: Perjuangan atau Sekadar Hura-hura?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id