Ruang sidang itu awalnya tenang. Lalu satu teriakan memecah semuanya. “Saya bukan pelakunya!” Sejak detik itu, sidang tidak lagi sekadar membahas kasus pembunuhan. Ia berubah menjadi panggung pertanyaan tentang kebenaran.
Tabooo.id: Deep – Ruang sidang itu terasa biasa di awal. Formal. Kaku. Seperti pengadilan pada umumnya. Namun kemudian, semuanya pecah dalam satu momen.
Ririn Rifanto berdiri. Suaranya meninggi. Ia tak lagi tampak seperti terdakwa yang menunggu putusan. Ia berubah menjadi seseorang yang ingin didengar sebelum semuanya terlambat.
“Saya bukan pelakunya!”
Ucapan itu bukan sekadar bantahan. Ia terdengar seperti alarm. Sejak saat itu, arah sidang langsung bergeser.
Perhatian tidak lagi tertuju pada prosedur. Fokus beralih ke satu hal yang lebih mendasar: kebenaran.
Ketika Nama-Nama Baru Muncul
Di tengah emosinya, Rifanto menyebut beberapa nama: Aman Yani, Joko, Hardi, dan Yoga.
Penyebutan itu langsung mengguncang rasa kepastian yang sebelumnya terasa di ruang sidang.
Akibatnya, keyakinan mulai retak.
Sementara itu, kuasa hukum menegaskan bahwa jaksa belum menghadirkan saksi kunci. Ia menyebut sosok ini mengetahui langsung kejadian, bahkan diduga ikut menguburkan korban.
Jika hal itu terbukti, cerita yang selama ini dianggap utuh bisa berubah drastis.
Karena itu, publik mulai mempertanyakan: apakah yang terlihat ini benar-benar fakta, atau hanya konstruksi?
Pengakuan yang Dipertanyaka
Namun, bagian paling mengganggu muncul setelahnya.
Rifanto melontarkan pernyataan lain. Lebih dalam. Lebih gelap.
“Kaki saya dipatahin, pak. Saya disuruh mengakui.”
Pernyataan ini tidak hanya menyerang satu kasus. Pernyataan ini langsung mengguncang kepercayaan publik.
Selama ini, sistem hukum sering menjadikan pengakuan sebagai bentuk kebenaran paling sederhana.
Masalahnya, pertanyaan kini berubah: bagaimana jika pengakuan itu tidak lahir dari kehendak bebas?
Lebih jauh lagi, bagaimana jika tekanan justru membentuk “kebenaran”?
Sistem yang Tidak Terlihat
Polda Jawa Barat menyatakan bahwa penyidik telah menjalankan prosedur. Penegasan ini penting, karena hukum bergantung pada aturan yang jelas.
Namun demikian, persoalan tidak berhenti di situ.
Masalah utama justru muncul dari cara publik melihatnya.
Publik tidak membaca berkas. Publik melihat manusia. Mereka menyaksikan terdakwa berteriaka, mendengar dugaan penyiksaan dan merasakan ketegangan di ruang sidang.
Dari situ, kepercayaan mulai bergeser.
Dalam banyak kasus, yang dipertaruhkan bukan hanya putusan. Sistem itu sendiri ikut dipertanyakan.
Kasus yang Sudah Mengguncang
Publik belum melupakan awal kasus ini.
Pelaku membunuh satu keluarga. Lima korban ia kubur dalam satu lubang. Bahkan, seorang bayi ikut menjadi korban.
Sejak awal, peristiwa ini memicu kemarahan luas.
Namun kini, kemarahan itu bercampur dengan keraguan.
Jika aparat salah menetapkan pelaku, maka dua kejahatan terjadi sekaligus: pembunuhan dan kemungkinan salah menghukum.
Ini Lebih Besar dari Satu Orang
Saat ini, sidang berada di titik persimpangan.
Di satu sisi berdiri kebenaran. Di sisi lain, muncul konstruksi kebenaran.
Sistem hukum tidak hanya bekerja dengan fakta. Sistem juga bergantung pada narasi, pengakuan, dan kepercayaan.
Begitu satu elemen retak, keseluruhan sistem ikut goyah.
Pertanyaan yang Tidak Nyaman
Selama ini, pengadilan dipercaya sebagai tempat terakhir mencari kebenaran.
Namun, bagaimana jika justru di sana muncul lebih banyak pertanyaan?
Bagaimana jika seseorang mengaku bukan karena bersalah, tetapi karena terpaksa?
Dan satu pertanyaan yang sulit dihindari:
Jika ini bisa terjadi pada satu orang, apakah hal yang sama bisa menimpa siapa saja? @jeje





