Jumat, Juni 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ini Bukan Sekadar Sidang. Ini Tentang Cara Kebenaran Dibentuk

by jeje
Mei 1, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Ruang sidang itu awalnya tenang. Lalu satu teriakan memecah semuanya. “Saya bukan pelakunya!” Sejak detik itu, sidang tidak lagi sekadar membahas kasus pembunuhan. Ia berubah menjadi panggung pertanyaan tentang kebenaran.

Tabooo.id: Deep – Ruang sidang itu terasa biasa di awal. Formal. Kaku. Seperti pengadilan pada umumnya. Namun kemudian, semuanya pecah dalam satu momen.

Ririn Rifanto berdiri. Suaranya meninggi. Ia tak lagi tampak seperti terdakwa yang menunggu putusan. Ia berubah menjadi seseorang yang ingin didengar sebelum semuanya terlambat.
“Saya bukan pelakunya!”

Ucapan itu bukan sekadar bantahan. Ia terdengar seperti alarm. Sejak saat itu, arah sidang langsung bergeser.

Perhatian tidak lagi tertuju pada prosedur. Fokus beralih ke satu hal yang lebih mendasar: kebenaran.

Ketika Nama-Nama Baru Muncul

Di tengah emosinya, Rifanto menyebut beberapa nama: Aman Yani, Joko, Hardi, dan Yoga.

Ini Belum Selesai

Dari Buku ke Perubahan: Saat Ibu Rumah Tangga Menjadi Agen Iklim Indonesia

Otoriter Populis: Saat Demokrasi Dilemahkan dari Dalam

Penyebutan itu langsung mengguncang rasa kepastian yang sebelumnya terasa di ruang sidang.

Akibatnya, keyakinan mulai retak.

Sementara itu, kuasa hukum menegaskan bahwa jaksa belum menghadirkan saksi kunci. Ia menyebut sosok ini mengetahui langsung kejadian, bahkan diduga ikut menguburkan korban.

Jika hal itu terbukti, cerita yang selama ini dianggap utuh bisa berubah drastis.

Karena itu, publik mulai mempertanyakan: apakah yang terlihat ini benar-benar fakta, atau hanya konstruksi?

Pengakuan yang Dipertanyaka

Namun, bagian paling mengganggu muncul setelahnya.

Rifanto melontarkan pernyataan lain. Lebih dalam. Lebih gelap.
“Kaki saya dipatahin, pak. Saya disuruh mengakui.”

Pernyataan ini tidak hanya menyerang satu kasus. Pernyataan ini langsung mengguncang kepercayaan publik.

Selama ini, sistem hukum sering menjadikan pengakuan sebagai bentuk kebenaran paling sederhana.

Masalahnya, pertanyaan kini berubah: bagaimana jika pengakuan itu tidak lahir dari kehendak bebas?

Lebih jauh lagi, bagaimana jika tekanan justru membentuk “kebenaran”?

Sistem yang Tidak Terlihat

Polda Jawa Barat menyatakan bahwa penyidik telah menjalankan prosedur. Penegasan ini penting, karena hukum bergantung pada aturan yang jelas.

Namun demikian, persoalan tidak berhenti di situ.

Masalah utama justru muncul dari cara publik melihatnya.

Publik tidak membaca berkas. Publik melihat manusia. Mereka menyaksikan terdakwa berteriaka, mendengar dugaan penyiksaan dan merasakan ketegangan di ruang sidang.

Dari situ, kepercayaan mulai bergeser.

Dalam banyak kasus, yang dipertaruhkan bukan hanya putusan. Sistem itu sendiri ikut dipertanyakan.

Kasus yang Sudah Mengguncang

Publik belum melupakan awal kasus ini.

Pelaku membunuh satu keluarga. Lima korban ia kubur dalam satu lubang. Bahkan, seorang bayi ikut menjadi korban.

Sejak awal, peristiwa ini memicu kemarahan luas.

Namun kini, kemarahan itu bercampur dengan keraguan.

Jika aparat salah menetapkan pelaku, maka dua kejahatan terjadi sekaligus: pembunuhan dan kemungkinan salah menghukum.

Ini Lebih Besar dari Satu Orang

Saat ini, sidang berada di titik persimpangan.

Di satu sisi berdiri kebenaran. Di sisi lain, muncul konstruksi kebenaran.

Sistem hukum tidak hanya bekerja dengan fakta. Sistem juga bergantung pada narasi, pengakuan, dan kepercayaan.

Begitu satu elemen retak, keseluruhan sistem ikut goyah.

Pertanyaan yang Tidak Nyaman

Selama ini, pengadilan dipercaya sebagai tempat terakhir mencari kebenaran.

Namun, bagaimana jika justru di sana muncul lebih banyak pertanyaan?

Bagaimana jika seseorang mengaku bukan karena bersalah, tetapi karena terpaksa?

Dan satu pertanyaan yang sulit dihindari:

Jika ini bisa terjadi pada satu orang, apakah hal yang sama bisa menimpa siapa saja? @jeje

Tags: Hukum IndonesiaKasus IndramayuKekuasaan Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Indonesia Makin Modern, Tapi Kenapa Keadilan Masih Terasa Mahal?

Indonesia Makin Modern, Tapi Kenapa Keadilan Masih Terasa Mahal?

by dimas
Mei 26, 2026

Indonesia terus membangun kota dan teknologi. Namun di tengah modernisasi, publik mulai mempertanyakan apakah keadilan ikut berkembang. Tabooo.id - Indonesia...

Kakek Mujiran, Getah Karet, dan Wajah Hukum yang Keras ke Bawah

Kakek Mujiran, Getah Karet, dan Wajah Hukum yang Keras ke Bawah

by dimas
Mei 26, 2026

Kakek Mujiran dipenjara karena dugaan pencurian getah karet Rp 8,8 juta. Kasus ini memicu kritik soal tajamnya hukum kepada rakyat...

Ferdy Sambo Kuliah Teologi di Penjara: Pertobatan, Privilege, Rebranding Moral?

Ferdy Sambo Kuliah Teologi di Penjara: Pertobatan, Privilege, Rebranding Moral?

by teguh
Mei 15, 2026

Di balik dinding dingin lembaga pemasyarakatan, ada cerita yang selalu membuat publik gelisah bagaimana jika seseorang yang pernah berada di...

Next Post
Buruh Madiun Kritik May Day di Monas: Perjuangan atau Sekadar Hura-hura?

Buruh Madiun Kritik May Day di Monas: Perjuangan atau Sekadar Hura-hura?

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id