Minggu, September 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

UU Perlindungan Anak Kuat, Tapi Implementasi Lemah

by Jery
April 27, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter
Oleh: Jery Satria. B. P., S.H. (Head of Legal PT Tabooo Network Indonesia, Pengamat Hukum) 
Pacaran Backstreet Bisa Dipidana: Mitos atau Realita KUHP Baru?

Tabooo.id: Talk – Negara bicara perlindungan anak Indonesia melalui undang-undang yang terlihat lengkap dan sistematis. Bahkan, secara normatif, Indonesia memiliki kerangka hukum yang cukup kuat untuk menjamin keamanan anak.

Namun, ketika kasus daycare di Yogyakarta terungkap, realitas justru berbicara sebaliknya, hukum tampak kokoh di atas kertas, tetapi rapuh dalam praktik.

Ironisnya, situasi ini bukan anomali, melainkan pola yang berulang. Negara terus memproduksi regulasi baru, memperkuat pasal, dan menambah ancaman pidana.

Namun di saat yang sama, negara tidak membangun sistem pengawasan yang benar-benar hidup. Akibatnya, hukum hanya bekerja sebagai simbol, bukan sebagai perlindungan nyata.

Hukum Sudah Jelas, Tapi Tidak Efektif

Indonesia telah memiliki Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak sebagai payung hukum utama. Selain itu, undang-undang ini secara tegas melarang segala bentuk kekerasan terhadap anak melalui Pasal 76C, yang mencakup tindakan langsung maupun tidak langsung.

Ini Belum Selesai

E-Parkir Solo Diluncurkan, Pemkot Bidik Pengurangan Pungli

Raja Kecil dan Raja Besar: Berebut Kuasa di Birokrasi

Lebih lanjut, Pasal 80 memberikan ancaman pidana bagi setiap pelaku kekerasan terhadap anak. Bahkan, dalam konteks profesi, hukum memberikan pemberatan sanksi apabila pelaku adalah pengasuh atau pendidik, karena mereka memiliki kewajiban hukum untuk melindungi anak.

Namun, meskipun struktur normatif ini terlihat kuat, banyak pihak justru mempertanyakan efektivitasnya. Sebab, norma hukum tidak otomatis menjamin perlindungan nyata jika negara tidak menjalankan mekanisme implementasi secara aktif dan konsisten.

Kegagalan Negara: Dari Pengawasan ke Penindakan

Kasus daycare Little Aresha menunjukkan kegagalan yang tidak bisa kita anggap sederhana. Lembaga tersebut beroperasi tanpa izin resmi, tetapi tetap mampu menampung lebih dari 100 anak dalam jangka waktu yang cukup lama.

Situasi ini mengindikasikan bahwa sistem pengawasan negara tidak berjalan sebagaimana mestinya. Seharusnya, negara hadir pada tahap awal melalui verifikasi perizinan, inspeksi rutin, dan pengawasan berkelanjutan.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Negara baru hadir setelah terjadi pelanggaran yang masif dan viral. Dengan demikian, negara menerapkan pendekatan hukum yang bersifat reaktif, bukan preventif.

Dalam perspektif hukum administrasi, hal ini menunjukkan kegagalan dalam fungsi kontrol negara terhadap aktivitas yang berisiko tinggi terhadap kelompok rentan.

Delik Terjadi, Tapi Kontrol Tidak Ada

Dari sudut pandang hukum pidana, tindakan yang terjadi di daycare tersebut jelas memenuhi unsur tindak pidana. Pengikatan fisik terhadap anak, penelantaran medis, serta kondisi lingkungan yang tidak layak merupakan bentuk pelanggaran serius terhadap hak anak.

Namun yang menjadi persoalan bukan hanya pada perbuatan pidana itu sendiri, melainkan pada lamanya praktik tersebut berlangsung tanpa terdeteksi.

Artinya, sistem pengawasan tidak hanya lemah, tetapi juga tidak memiliki mekanisme deteksi dini. Dalam teori hukum, negara memiliki kewajiban untuk melindungi kelompok rentan melalui pendekatan preventif.

Ketika kewajiban ini tidak dijalankan, maka negara secara tidak langsung membiarkan potensi kejahatan berkembang.

Tanggung Jawab Hukum Tidak Berhenti pada Pelaku

Penetapan 13 tersangka oleh aparat penegak hukum memang menunjukkan adanya respons. Namun pendekatan ini masih berfokus pada individu sebagai pelaku langsung.

Padahal, dalam perkembangan hukum modern, kita mengenal konsep pertanggungjawaban korporasi (corporate liability). Dalam konteks ini, hukum bisa menuntut yayasan atau lembaga sebagai entitas hukum ketika mereka menciptakan atau membiarkan kondisi yang memicu tindak pidana.

Jika manajemen secara sadar tidak menyediakan jumlah pengasuh yang memadai atau sengaja mengabaikan standar operasional demi efisiensi, maka hukum tidak boleh hanya membebankan tanggung jawab kepada pekerja lapangan.

Dengan kata lain, kejahatan ini berpotensi bersifat sistemik, bukan sekadar individual.

Negara Tidak Bisa Netral

Dalam isu perlindungan anak, negara tidak memiliki ruang untuk bersikap netral. Negara memiliki kewajiban aktif untuk memastikan setiap anak berada dalam lingkungan yang aman.

Namun fakta menunjukkan bahwa daycare ilegal dapat beroperasi lebih dari satu tahun tanpa intervensi.

Hal ini menunjukkan adanya celah serius dalam sistem perizinan dan pengawasan. Selain itu, kondisi ini juga memperlihatkan bahwa mekanisme kontrol yang ada tidak mampu menjangkau seluruh aktivitas pengasuhan yang berkembang di masyarakat.

Dengan demikian, negara tidak hanya terlambat, tetapi juga tidak cukup hadir.

Reformasi Hukum: Bukan Sekadar Penegakan

Kasus ini seharusnya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan anak.

Pertama, negara perlu memperkuat pengawasan melalui inspeksi rutin dan audit mendadak. Kedua, perlu ada standardisasi nasional yang ketat bagi tenaga pengasuh, termasuk sertifikasi kompetensi dan evaluasi psikologis.

Ketiga, transparansi operasional harus menjadi kewajiban hukum, misalnya melalui sistem pemantauan yang dapat diakses oleh orang tua.

Tanpa langkah-langkah ini, penegakan hukum hanya akan bersifat parsial dan tidak menyentuh akar masalah.

Hukum Tanpa Implementasi Adalah Ilusi

Kasus daycare di Yogyakarta bukan hanya persoalan kekerasan terhadap anak. Lebih dari itu, kasus ini menjadi refleksi atas kegagalan sistem hukum dalam menjalankan fungsi perlindungan.

Hukum telah menyediakan norma, larangan, dan sanksi. Namun tanpa implementasi yang konsisten, semua itu hanya menjadi formalitas.

Pada akhirnya, perlindungan anak tidak diukur dari seberapa lengkap undang-undang yang dimiliki, tetapi dari seberapa efektif negara menjalankannya. @jery

Tags: Hukum IndonesiaKasus DaycareKekerasan Anakopini hukumSistem HukumTabooo Talk

Kamu Melewatkan Ini

Kalau Tan Malaka Melihat Demo 27 Agustus: Massa Besar Tidak Perlu Rusuh

Kalau Tan Malaka Melihat Demo 27 Agustus: Massa Besar Tidak Perlu Rusuh

by Tabooo
Agustus 29, 2026

Tan Malaka mungkin membela hak rakyat untuk turun ke jalan. Namun, Aksi Massa dan MADILOG menunjukkan bahwa ia juga akan...

RUU Perampasan Aset: 15 Desember Jadi Deadline Politik DPR

RUU Perampasan Aset: 15 Desember Jadi Deadline Politik DPR

by Tabooo
Agustus 27, 2026

DPR menetapkan 15 Desember 2026 sebagai batas penyelesaian RUU Perampasan Aset. Setelah Dasco menyatakan siap mundur jika gagal, tenggat legislasi...

Hari Pengayoman, Hukum Jangan Sekadar Kumpulan Aturan

Hari Pengayoman: Negara Punya Aturan, Rakyat Butuh Kepastian

by dimas
Agustus 20, 2026

Hari Pengayoman ke-81 menjadi momentum menguji apakah hukum benar-benar hadir untuk melindungi masyarakat, bukan sekadar menambah tumpukan aturan. Tabooo.id -...

Next Post
Bukan Soal Bagus, Tapi Berani: Erros Djarot Sebut Musiknya Kurang Ndugal

Bukan Soal Bagus, Tapi Berani: Erros Djarot Sebut Musiknya Kurang Ndugal

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id