Empat mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya terseret dugaan kasus pelecehan seksual. Kasus ini tiba-tiba viral di media sosial, meski pihak kampus mengaku sudah lebih dulu menangani. Pertanyaannya, kenapa publik baru tahu sekarang?
Tabooo.id: Nasional – Akun Instagram @unairjournal memicu perhatian publik setelah mengunggah identitas terduga pelaku. Unggahan itu juga memuat rincian dugaan pelanggaran, mulai dari pelecehan verbal, sentuhan fisik paksa, hingga dugaan pemerkosaan. Nama mahasiswa dari FISIP dan FKG ikut terseret.
Pihak kampus langsung merespons. Ketua Pusat Humas dan Protokol Unair, Pulung Siswantaro, menegaskan bahwa Satgas PPKPT sudah lebih dulu menangani kasus ini.
“Kasus kekerasan seksual ini bukan kasus baru. Satgas PPKPT sudah menanganinya sesuai prosedur,” ujar Pulung, Jumat (01/05/2026).
Pulung menjelaskan, Satgas telah menyelesaikan tiga kasus dan menjatuhkan sanksi kepada pelaku. Sementara itu, satu kasus lain masih dalam tahap pendalaman.
“Tiga kasus sudah kami tangani. Kami juga sudah menjatuhkan sanksi sesuai rekomendasi Satgas. Korban pun mendapat pendampingan,” jelasnya.
Namun, kampus menahan detail kronologi dan jenis sanksi. Pulung menegaskan bahwa kampus mengikuti aturan perlindungan data pribadi serta regulasi Kemendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024.
Perspektif Dan Kutipan Tambahan
Kebijakan tertutup ini memicu perdebatan. Publik menuntut transparansi, sementara kampus menekankan perlindungan korban.
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, sebelumnya menegaskan pentingnya keamanan di kampus.
“Kampus harus jadi ruang aman. Sistem harus berani melindungi korban,” ujarnya, 2024.
Sosiolog dari Universitas Indonesia, Musni Umar, melihat kasus ini sebagai fenomena berulang.
“Kasus seperti ini sering tersembunyi. Korban takut bicara, dan sistem belum sepenuhnya berpihak,” jelasnya, Sabtu (02/05/2026).
Praktisi hukum pidana, Suparji Ahmad, menekankan pentingnya jalur hukum.
“Jika ada unsur pidana, proses hukum harus berjalan terbuka. Penanganan internal saja tidak cukup,” tegasnya.
Budayawan Goenawan Mohamad ikut menyoroti budaya diam di institusi.
“Masalahnya bukan hanya pelaku. Budaya diam membuat korban memilih bungkam,” tulisnya.
Tabooo Twist
Ini bukan sekadar kasus pelecehan di kampus. Ini benturan antara sistem internal yang berjalan diam dan tekanan publik yang menuntut keterbukaan.
Human Impact
Bagi mahasiswa, ini soal rasa aman. Mereka butuh kepastian: kampus benar-benar melindungi, bukan sekadar menyelesaikan di balik layar.
Closing
Kasus ini membuka realitas yang sering luput kekerasan seksual di kampus sering terjadi, tapi jarang terlihat.
Sekarang publik sudah tahu. Pertanyaannya, apakah sistem akan ikut berubah atau tetap berjalan diam seperti sebelumnya?





