Empat warga Indonesia disandera di perairan Somalia. Dunia? Lagi sibuk perang. Negosiasi berjalan. Pernyataan resmi keluar. Koordinasi dilakukan. Tapi di balik semua itu, ada satu realitas yang tidak nyaman: semakin besar konflik global, semakin kecil perhatian pada nyawa individu.
Tabooo.id: Edge – Saat ini, semua perhatian global tersedot ke konflik besar.
Timur Tengah memanas dan selat Hormuz jadi pusat ketegangan. Negara-negara besar saling unjuk kekuatan.
Semua mata ke sana.
Dan seperti biasa, ketika semua orang melihat ke satu arah, arah lain jadi gelap.
Di kegelapan itulah, bajak laut bergerak.
Ini Bukan Kebetulan
Kemunculan kembali pembajakan di Somalia bukan kejadian acak. Ini momentum.
Patroli laut melemah. Pengawasan longgar. Fokus dunia terpecah.
Dan kelompok seperti ini tahu persis kapan harus muncul.
Bukan karena mereka lebih kuat.
Tapi karena dunia sedang lengah.
Bajak Laut Tidak Pernah Hilang
Kita sering berpikir pembajakan itu cerita lama. Sudah selesai. Sudah ditangani.
Faktanya? Tidak pernah.
Mereka hanya berhenti ketika tekanan tinggi.
Dan kembali saat tekanan hilang. Seperti sekarang.
Nyawa Jadi Komoditas
Mari jujur.
Dalam kasus seperti ini, yang sedang terjadi bukan sekadar kejahatan. Ini transaksi.
Ada sandera, negosiasi, dan angka tebusan.
Dan di tengah semua itu, nyawa manusia punya nilai.
Bisa dihitung, ditawar, dan ditunda.
Negara, Perusahaan, atau Siapa?
Pertanyaan yang jarang dijawab secara jujur yaitu siapa yang benar-benar bertanggung jawab?
Negara?
Perusahaan pemilik kapal?
Atau sistem global yang membiarkan wilayah seperti Somalia tetap rapuh?
Semua punya peran.
Dan anehnya… semua juga punya alasan untuk tidak sepenuhnya bertanggung jawab.
Kita Peduli, Tapi Tidak Lama
Berita seperti ini akan ramai.
Masuk headline.
Membahas sebentar.
Lalu tenggelam.
Tergantikan isu baru. Algoritma bergerak.
Perhatian berpindah. Dan para sandera?
Masih di sana.
Ini bukan sekadar pembajakan.
Ini adalah efek samping dari dunia yang kita bangun hari ini.
Dunia yang:
- Lebih cepat bereaksi pada konflik besar
- Tapi lambat merespons tragedi individu
- Lebih peduli pada kekuasaan
- Daripada keselamatan manusia
Saat negara besar sibuk adu kekuatan, yang kecil jadi korban.
Saat negara besar sibuk adu kekuatan, lalu yang kecil jadi korban
Atau lebih buruk… jadi peluang.
Sekarang pertanyaannya sederhana:
Kalau nyawa bisa dinegosiasikan, siapa yang menentukan harganya? @waras





