Kamis, Juni 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kamu Pikir Lagi Santai, Padahal Otakmu Tidak Pernah Istirahat

by Naysa
Mei 2, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Kamu bilang cuma “sebentar”. Tapi tanpa sadar, satu jam hilang begitu saja. Jempol terus bergerak, layar terus berganti, dan otak terus dipaksa menerima. Anehnya, bukan makin segar, kamu justru makin capek. Kenapa sesuatu yang terlihat ringan bsa terasa begitu menguras? Ini bukan malas. Ini bukan kurang niat. Ini yang orang mulai sebut: digital burnout.

Tabooo.id: Edge – Banyak orang mengira scroll adalah cara santai: capek kerja, buka TikTok. Saat bosan, buka Instagram. Kalau tidak tahu mau ngapain, kembali scroll. Sekilas, semua itu terlihat ringan. Namun kenyataannya, otak tidak pernah benar-benar berhenti. Setiap swipe memicu keputusan kecil: lanjut atau skip, suka atau tidak, relevan atau tidak. Memang cepat, tetapi terjadi terus-menerus. Akibatnya, otak tetap bekerja tanpa jeda.

Algoritma Tidak Mau Kamu Berhenti

Platform tidak pernah berniat membuatmu selesai. Sebaliknya, mereka sengaja membuatmu bertahan lebih lama. Semakin lama waktu yang kamu habiskan, semakin banyak data yang mereka kumpulkan. Lalu, data itu mereka gunakan untuk menyaring konten yang makin relevan.

Hasil akhirnya, semua terasa personal: “ini gue banget”. Padahal sebenarnya, sistemlah yang mempelajari kebiasaanmu, bukan kamu yang mengendalikan sistem. Scroll bukan kebetulan. Justru, scroll adalah hasil desain.

Capek Tanpa Gerak

Tidak ada lari. Tidak ada beban fisik. Tetapi, rasa lelah tetap muncul. Penyebabnya jelas: otak menerima terlalu banyak stimulasi.

Video cepat, suara keras, emosi naik-turun, semuanya datang hampir bersamaan. Akibatnya, otak terus menyesuaikan diri tanpa henti.

Ini Belum Selesai

Politik Identitas, Ekonomi Kedekatan, dan Ancaman bagi Meritokrasi

Kebo Bule, Mitos, dan Makna yang Hilang di Malam 1 Suro

Pada titik tertentu, energi mental habis begitu saja.

Dari Hiburan Jadi Kecemasan

Awalnya, yang muncul hanya konten ringan. Lalu, perhatian bergeser ke berita. Berikutnya, masuk ke kehidupan orang lain. Di titik ini, perbandingan mulai terjadi.

Orang lain terlihat lebih sukses. Sebagian tampak lebih bahagia. Yang lain terlihat melaju lebih cepat. Dari situ, hiburan berubah jadi tekanan.

Meski begitu, aktivitas scroll tetap berlanjut. Anehya, berhenti justru terasa lebih tidak nyaman.

Doomscrolling: Saat Negatif Jadi Candu

Ada momen ketika konten terasa berat. Namun alih-alih berhenti, kamu justru terus melihatnya. Berita buruk, konflik, drama, semuanya menumpuk dalam satu aliran.

Inilah yang disebut doomscrolling.

Kamu tidak menyukai hal negatif. Sebaliknya, otakmu mencoba mencari kepastian. Sayangnya, hasilnya berbalik: kecemasan meningkat, ketenangan menurun.

Cara Hidup yang Diam-Diam Menguras

Rutinitas ini terjadi berulang. Bangun tidur langsung cek HP. Waktu luang diisi scroll. Menjelang tidur, layar kembali dibuka. Akhirnya, hampir tidak ada jeda tanpa distraksi.

Ruang untuk diam menghilang. Kesempatan untuk bosan ikut hilang. Padahal, dari situ pemulihan mental biasanya terjadi.

Sebaliknya, setiap celah waktu justru terisi. Akibatnya, kelelahan menumpuk dan kemampuan untuk benar-benar istirahat ikut menurun.

Ini Bukan Soal Lemah, Ini Soal Sistem

Saran klasik sering muncul: “kurangi main HP”. Terdengar mudah. Namun, kenyataannya jauh lebih kompleks. Yang dihadapi bukan sekadar kebiasaan pribadi, melainkan sistem besar yang sengaja dirancang untuk menahan perhatian.

Teknologi, data, dan psikologi bekerja bersamaan. Pertarungan ini jelas tidak seimbang. Dan ketika gagal keluar, label “tidak disiplin” langsung muncul. Ini bukan sekadar kebiasaan buruk. Ini pola.

Dunia digital tidak hanya mengisi waktu. Lebih jauh, ia membentuk cara berpikir dan merasakan. Semakin lama terpapar, semakin kabur batas antara kebutuhan asli dan dorongan algoritma.

Rasa capek setelah “tidak melakukan apa-apa” bukan ilusi. Tubuh memang diam. Namun, pikiran terus bekerja. Pada akhirnya, yang paling melelahkan bukan aktivitas scroll itu sendiri, melainkan kesadaran bahwa kamu ingin berhenti, tetapi tetap melanjutkan.

Bukan kamu yang lemah tetapi, ritme hidupmu yang diam-diam dikendalikan. @naysa

Tags: Gen ZKesehatan MentalMedsosTabooo Edge

Kamu Melewatkan Ini

Tapa Bisu, Jejak Mindfulness dalam Tradisi Jawa

Tapa Bisu, Jejak Mindfulness dalam Tradisi Jawa

by dimas
Juni 8, 2026

Tapa bisu dalam tradisi Jawa ternyata memiliki kemiripan dengan mindfulness modern. Benarkah masyarakat Jawa telah mengenal latihan kesadaran sejak lama?...

Vape Rasa Buah Terasa Manis, Tapi Kenapa Ribuan Gen Tubuh Ikut Berubah?

Vape Rasa Buah Terasa Manis, Tapi Kenapa Ribuan Gen Tubuh Ikut Berubah?

by teguh
Juni 7, 2026

Mangga, semangka, stroberi, hingga campuran buah tropis membuat vape semakin populer di kalangan anak muda. Banyak pengguna juga meyakini vape...

Gizi Rakyat vs Gizi Koruptor

Gizi Rakyat vs Gizi Koruptor

by Tabooo
Juni 6, 2026

MBG hadir untuk memberi makan anak-anak. Tapi ketika kasus korupsi muncul, publik mulai bertanya: siapa yang sebenarnya paling kenyang dari...

Next Post
May Day Suram di Jabar: 20.536 Buruh Kena PHK, Ada Apa dengan Industri?

May Day Suram di Jabar: 20.536 Buruh Kena PHK, Ada Apa dengan Industri?

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id