Satu pesan suara mengubah segalanya.
Setelah itu, tidak ada lagi kabar yang benar-benar pasti.
Tabooo.id: Life – Bagi banyak orang, ini mungkin hanya berita luar negeri.
Tapi bagi satu keluarga di Indonesia, ini adalah awal dari hari-hari yang penuh ketakutan dan tanpa kepastian kapan akan berakhir.
Suara yang Tidak Pernah Hilang
Selasa malam itu (21/04), ponsel Santi Sanaya berdering. Bukan panggilan. Tapi pesan suara.
Singkat. “Kapal diserang bajak laut.”
Pesan itu datang dari suaminya, Ashari Samadikun, yang saat itu berada di atas kapal tanker MT Honour 25 di perairan Somalia.
Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada dramatisasi.
Hanya informasi yang terlalu berat untuk diterima dalam satu tarikan napas.
Santi langsung menelepon balik.
Tidak diangkat. Ia mencoba lagi. Tapi tetap sama.
Beberapa jam kemudian, ponsel itu tidak aktif.
“Putus… betul-betul putus komunikasiku sama dia,” katanya.
Sejak itu, yang tersisa hanya satu hal yaitu menunggu.
Menunggu Tanpa Kepastian
Di rumahnya di Gowa, waktu berjalan lebih lambat. Hari terasa panjang.
Malam terasa lebih sunyi. Santi tidak benar-benar tahu apa yang terjadi di sana.
Ia hanya tahu suaminya disandera. Ia hanya tahu ada senjata.
Dan ia tahu bahwa semua bisa berubah kapan saja.
Kadang ada kabar. Kadang tidak ada apa-apa.
Dan justru di jeda tanpa kabar itulah rasa takut tumbuh paling besar.
Hidup di Antara Takut dan Harapan
Beberapa hari setelah penyergapan, akhirnya komunikasi sempat terbuka.
Bukan lewat ponsel pribadi. Tapi lewat telepon kapal yang diawasi.
Dalam momen singkat itu, Ashari bercerita.
Tentang bagaimana mereka disergap, saat senjata yang diarahkan, dan detik-detik ketika semuanya terasa bisa berakhir.
“Suamiku beberapa kali ditodong,” kata Santi.
Namun di balik cerita itu, ada satu hal yang membuatnya tetap bertahan. Suaminya masih hidup.
Masih bisa bicara. Masih memikirkan orang lain.
Bahkan di Tengah Ancaman, Ia Memikirkan Orang Lain
Di tengah situasi yang mengancam nyawa, Ashari tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.
Ia memikirkan krunya, memikirkan keluarga mereka.
Ia tahu sebagian dari mereka bahkan belum sempat memberi kabar ke rumah.
“Yang dia pikir itu teman-temannya,” kata Santi.
Di saat banyak orang mungkin hanya ingin selamat sendiri, Ashari justru memikirkan orang lain.
Dan itu yang membuat Santi tetap percaya bahwa suaminya akan bertahan.
Satu Kalimat yang Menahan Peluru
Dalam salah satu cerita, ada momen yang terus terngiang di kepala Santi.
Saat para perompak sudah menguasai kapal, Ashari mencoba berbicara.
“Assalamualaikum, jangan tembak saya. Saya Muslim.”
Jawaban itu membuat situasi berhenti sejenak.
“Kau Muslim?”
“Iya.”
“Saya juga Muslim.”
Santi tidak tahu pasti apakah itu yang menyelamatkan suaminya.
Tapi ia percaya, di momen seperti itu, apa pun bisa menjadi penentu antara hidup dan mati.
Permintaan yang Paling Menyakitkan
Dalam komunikasi terakhir mereka, Ashari mengatakan sesuatu yang tidak pernah ingin didengar oleh siapa pun.
“Jangan hubungi saya lagi.”
Bukan karena tidak ingin berbicara. Bukan karena tidak rindu.
Tapi karena takut.
Takut jika komunikasi justru membahayakan. Takut jika ponsel itu jatuh ke tangan yang salah.
Sejak saat itu, Santi benar-benar harus belajar satu hal yang paling sulit yaitu menunggu tanpa bisa berbuat apa-apa.
Di Rumah, Harapan Tidak Pernah Padam
Hari-hari terus berjalan.
Anak-anak masih menunggu ayahnya pulang. Keluarga masih berharap.
Tidak ada permintaan besar. Tidak ada tuntutan rumit.
Hanya satu harapan sederhana:
“Semoga bisa kembali semua dalam keadaan selamat.”
Tidak kurang satu apa pun.
Ini Bukan Sekadar Berita
Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya berita luar negeri.
Angka. Data. Peristiwa.
Tapi bagi Santi, ini hidupnya. Ini keluarganya. Ini masa depan anak-anaknya.
Dan setiap hari yang berlalu tanpa kepastian bukan sekadar waktu, tapi tekanan yang terus bertambah.
Di suatu tempat di laut lepas, Ashari masih bertahan.
Di darat, Santi masih menunggu.
Keduanya terhubung oleh sesuatu yang sederhana yaitu harapan.
Dan satu pertanyaan yang mungkin tidak pernah benar-benar bisa dijawab:
kalau itu orang yang kamu sayangi, seberapa kuat kamu bisa menunggu tanpa kepastian? @waras





