Di sebuah rumah kos sederhana milik H.O.S. Tjokroaminoto, di Gang Peneleh, Surabaya. Sejarah Indonesia tumbuh tanpa sorotan. Tiga anak muda belajar, lalu memilih jalan yang saling berbenturan.
Tabooo.id: Deep – H.O.S. Tjokroaminoto lahir di Ponorogo pada 16/08/1882. Ia wafat di Yogyakarta pada 17/12/1934. Namun gagasannya terus hidup jauh setelah ia meninggal.
Melalui Sarekat Islam, yang berkembang kuat sejak 1912, ia mendorong rakyat bumiputra agar bangkit dari rasa takut. Ia mengajak pedagang kecil bersatu. Ia menuntut keadilan ekonomi. Ia menanamkan keberanian politik.
Karena itu, pemerintah kolonial Belanda menjulukinya De Ongekroonde Koning van Java atau Raja Jawa Tanpa Mahkota.
Julukan itu muncul bukan karena ia memiliki istana. Sebaliknya, ia memiliki pengaruh besar di tengah rakyat.
Ia juga mewariskan kalimat terkenal, “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepandai-pandai siasat.”
Kalimat itu mengajarkan tiga hal sekaligus: berpikir cerdas, menjaga moral, dan bertindak strategis.
Sejarawan Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo menilai kebangkitan nasional tumbuh ketika rakyat mulai sadar hak politiknya. Dalam konteks itu, Tjokroaminoto ikut mengubah rakyat dari penonton menjadi pelaku sejarah.
Dari Satu Atap, Lahir Tiga Jalan
Di Gang Peneleh, Soekarno muda belajar pidato, organisasi, dan keberanian menghadapi kekuasaan. Kelak, ia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17/08/1945.
Sementara itu, Semaoen bergerak ke jalur sosialisme. Ia aktif membangun gerakan buruh dan memperjuangkan kelas pekerja.
Di sisi lain, Kartosuwiryo memilih jalur Islam politik radikal. Ia lalu memproklamasikan Negara Islam Indonesia pada 07/08/1949.
Jadi, dari satu rumah lahir tiga arus besar nasionalisme, sosialisme, dan Islam politik.
Sejarawan M.C. Ricklefs menulis bahwa Indonesia modern terbentuk melalui tarik-menarik tiga kekuatan itu. Menariknya, semua pernah duduk di meja yang sama.
Namun kemudian sejarah membawa mereka ke arah konflik.
Ini Bukan Sekadar Kisah Rumah Kos
Cerita Gang Peneleh bukan hanya nostalgia masa lalu. Kisah ini menunjukkan bagaimana bangsa lahir dari perdebatan gagasan.
Perbedaan pandangan sebenarnya wajar. Bahkan perbedaan sering melahirkan kemajuan. Namun ketika orang menolak dialog, perbedaan mudah berubah menjadi permusuhan.
Karena itu, ruang diskusi jauh lebih penting daripada ruang propaganda.
Sosiolog Prof. Dr. Arief Budiman pernah menegaskan bahwa konflik politik sering muncul bukan karena gagasan berbeda, melainkan karena orang gagal mengelola perbedaan.
Indonesia berkali-kali menghadapi pola itu. Dulu konflik hadir lewat pertarungan ideologi. Kini konflik sering muncul lewat polarisasi digital.
Refleksi Indonesia Hari Ini
Indonesia memang sudah merdeka dari penjajahan fisik. Namun bangsa ini masih melawan bentuk penjajahan baru.
Kini ancaman datang melalui hoaks, fanatisme buta, korupsi, dan kebencian sosial.
Jika dulu penjajah memecah rakyat lewat kekuasaan, sekarang banyak pihak memecah publik lewat informasi palsu.
Budayawan Emha Ainun Nadjib kerap mengingatkan bahwa bangsa yang melupakan guru akan kehilangan akar moral. Karena itu, kisah Tjokroaminoto terasa relevan sampai hari ini.
Ironisnya, kita memiliki banyak tokoh viral. Tetapi kita kekurangan pendidik yang membentuk karakter. Kita punya banyak pengikut. Namun kita masih kurang pemikir.
Pelajaran untuk Generasi Sekarang
Pertama, jangan remehkan ruang kecil.
Kamar kos, warung kopi, atau komunitas sederhana bisa melahirkan ide besar.
Kedua, belajarlah dari banyak sudut pandang.
Karena itu, literasi menjadi senjata penting di zaman bising.
Ketiga, jadilah murid yang berpikir.
Belajar berarti memahami, bukan sekadar meniru.
Keempat, rawat perdebatan sehat.
Berbeda pendapat boleh. Tetapi kebencian hanya merusak masa depan.
Penutup
Gang Peneleh memberi pelajaran tajam satu guru mampu melahirkan banyak tokoh, tetapi para tokoh itu kemudian saling berebut arah bangsa. Namun justru dari sana Indonesia tumbuh.
Bangsa ini maju bukan karena semua orang sepakat. Sebaliknya, bangsa ini maju ketika rakyat mau berpikir, berdebat, lalu tetap menjaga persatuan.
Pertanyaannya sekarang sederhana di tengah negeri yang gaduh ini, siapa yang sedang menyiapkan Gang Peneleh berikutnya?. @teguh





