Pada era kolonial, penguasa menangkap orang yang menulis kritik. Kini, banyak suara kritis tidak perlu masuk sel. Platform cukup menenggelamkannya di linimasa. Alat berubah, tetapi niat membungkam tetap sama. Pada dekade 1930-an, S.K. Trimurti memilih jalan berbahaya menulis. Ketika banyak orang memilih diam, ia memakai mesin tik sebagai senjata. Sekitar 1930–1935, ia aktif menulis di surat kabar pergerakan seperti Pikiran Rakyat dan Pesat. Melalui tulisannya, ia menyerang kebijakan kolonial Belanda yang menekan rakyat kecil. Karena itu, aparat kolonial beberapa kali menangkapnya. Sejarawan Asvi Warman Adam menegaskan bahwa pers pergerakan pada masa itu berfungsi sebagai alat perjuangan, bukan sekadar penyampai kabar. Dulu, penguasa takut pada koran kecil. Namun sekarang, banyak elite justru nyaman dengan linimasa besar yang ramai tetapi dangkal.
Tabooo.id: Edge – Ketika Jepang masuk ke Indonesia pada Maret 1942, ruang kritik makin sempit. Tentara memburu aktivis, mengawasi media, dan menekan suara berbeda. Karena itu, Trimurti ikut masuk tahanan.
Sekitar 1943–1944, ia menjalani tahanan di Penjara Bulu, Semarang. Dalam situasi keras itu, ia melahirkan anak pertamanya di balik jeruji besi.
Bayangkan ironi itu. Seorang ibu melahirkan di penjara karena negara takut pada pikirannya.
Sosiolog Ariel Heryanto sering menyoroti bahwa kekuasaan selalu mencari cara mengatur narasi publik, baik lewat sensor kasar maupun kontrol halus.
Jika dulu jeruji besi tampak jelas, kini jeruji sering hadir sebagai shadow ban, report massal, buzzer, atau algoritma. Sistem itu bergerak rapi, modern, dan sering sulit dibuktikan.
Kalau Trimurti Hidup Hari Ini, Apakah Tetap Bebas Bicara?
Pertanyaan ini terasa mengganggu. Sebab jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.
Andaikan Trimurti hidup hari ini, mungkin tentara kolonial tidak menangkapnya. Namun platform bisa memberi cap terlalu keras, terlalu sensitif, terlalu politis, atau tidak sesuai pasar.
Sesudah itu, video prank, gosip selebritas, dan tutorial glow up tiga puluh detik menenggelamkan suaranya.
Budayawan Goenawan Mohamad pernah mengingatkan bahwa kebebasan berbicara jarang mati mendadak. Sebaliknya, ia melemah pelan-pelan ketika publik berhenti peduli.
Masalahnya, sensor modern sering datang tanpa seragam. Justru ia hadir sebagai hiburan tanpa henti.
Perempuan Didorong Cantik, Tetapi Tidak Didorong Kritis?
Mari bicara jujur. Hari ini, banyak perempuan hebat memimpin ruang publik, bisnis, kampus, dan gerakan sosial. Namun pada saat yang sama, sistem digital terus mendorong standar lain cantik, lucu, estetik, menarik, dan viral.
Tampil menarik tentu bukan masalah. Tetapi masalah muncul ketika ruang perempuan menyusut menjadi etalase.
Trimurti memakai media untuk menggugat ketidakadilan. Sementara itu, sebagian platform justru mendorong perempuan sibuk mengejar validasi angka. Followers naik, tetapi kesadaran turun.
Akademisi gender Julia Suryakusuma lama mengkritik cara masyarakat menempatkan perempuan sebagai objek tampilan, bukan subjek pemikiran. Karena itu, kritik tersebut terasa makin relevan hari ini.
Dari Menteri Buruh ke Buruh Konten
Sesudah Indonesia merdeka pada 17/08/1945, Soekarno menunjuk Trimurti sebagai Menteri Perburuhan pada 03/07/1947. Dengan langkah itu, ia menjadi menteri perempuan pertama di Indonesia. Di kursi itu, ia memperjuangkan hak buruh.
Ironisnya, sekarang jutaan orang berubah menjadi buruh digital mengejar engagement, bekerja demi impresi, dan menggantungkan hidup pada sistem yang rumusnya tidak transparan. Jika dulu buruh melawan mandor pabrik, kini kreator melawan dashboard.
Ini Bukan Nostalgia, Ini Pola Lama dengan Wajah Baru
Jangan romantiskan masa lalu. Era kolonial brutal, sedangkan zaman sekarang berbeda. Namun pola dasarnya sering terasa sama kekuasaan ingin suara kritis tenggelam oleh kebisingan.
Dulu mereka memakai penjara. Kini mereka memakai distraksi. Dulu mereka memakai borgol. Sekarang mereka memakai scroll.
Dulu Trimurti melawan dengan mesin tik. Lalu hari ini pertanyaannya berpindah kepada kita. Di tengah algoritma yang sibuk menjual gaya hidup, siapa yang masih berani menjual keberanian berpikir?. @teguh





