Kamis, Juli 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dulu Dipenjara Karena Tulisan, Sekarang Dibungkam Algoritma?

by teguh
April 25, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Pada era kolonial, penguasa menangkap orang yang menulis kritik. Kini, banyak suara kritis tidak perlu masuk sel. Platform cukup menenggelamkannya di linimasa. Alat berubah, tetapi niat membungkam tetap sama. Pada dekade 1930-an, S.K. Trimurti memilih jalan berbahaya menulis. Ketika banyak orang memilih diam, ia memakai mesin tik sebagai senjata. Sekitar 1930–1935, ia aktif menulis di surat kabar pergerakan seperti Pikiran Rakyat dan Pesat. Melalui tulisannya, ia menyerang kebijakan kolonial Belanda yang menekan rakyat kecil. Karena itu, aparat kolonial beberapa kali menangkapnya. Sejarawan Asvi Warman Adam menegaskan bahwa pers pergerakan pada masa itu berfungsi sebagai alat perjuangan, bukan sekadar penyampai kabar. Dulu, penguasa takut pada koran kecil. Namun sekarang, banyak elite justru nyaman dengan linimasa besar yang ramai tetapi dangkal.

Tabooo.id: Edge – Ketika Jepang masuk ke Indonesia pada Maret 1942, ruang kritik makin sempit. Tentara memburu aktivis, mengawasi media, dan menekan suara berbeda. Karena itu, Trimurti ikut masuk tahanan.

Sekitar 1943–1944, ia menjalani tahanan di Penjara Bulu, Semarang. Dalam situasi keras itu, ia melahirkan anak pertamanya di balik jeruji besi.

Bayangkan ironi itu. Seorang ibu melahirkan di penjara karena negara takut pada pikirannya.

Sosiolog Ariel Heryanto sering menyoroti bahwa kekuasaan selalu mencari cara mengatur narasi publik, baik lewat sensor kasar maupun kontrol halus.

Jika dulu jeruji besi tampak jelas, kini jeruji sering hadir sebagai shadow ban, report massal, buzzer, atau algoritma. Sistem itu bergerak rapi, modern, dan sering sulit dibuktikan.

Ini Belum Selesai

Lowongan Kerja Baru: Pemburu Begal, Gaji Sampai Rp50 Juta

Negara Sudah Punya Direktur AI. Semoga Birokrasinya Tetap Tidak Loading

Kalau Trimurti Hidup Hari Ini, Apakah Tetap Bebas Bicara?

Pertanyaan ini terasa mengganggu. Sebab jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.

Andaikan Trimurti hidup hari ini, mungkin tentara kolonial tidak menangkapnya. Namun platform bisa memberi cap terlalu keras, terlalu sensitif, terlalu politis, atau tidak sesuai pasar.

Sesudah itu, video prank, gosip selebritas, dan tutorial glow up tiga puluh detik menenggelamkan suaranya.

Budayawan Goenawan Mohamad pernah mengingatkan bahwa kebebasan berbicara jarang mati mendadak. Sebaliknya, ia melemah pelan-pelan ketika publik berhenti peduli.

Masalahnya, sensor modern sering datang tanpa seragam. Justru ia hadir sebagai hiburan tanpa henti.

Perempuan Didorong Cantik, Tetapi Tidak Didorong Kritis?

Mari bicara jujur. Hari ini, banyak perempuan hebat memimpin ruang publik, bisnis, kampus, dan gerakan sosial. Namun pada saat yang sama, sistem digital terus mendorong standar lain cantik, lucu, estetik, menarik, dan viral.

Tampil menarik tentu bukan masalah. Tetapi masalah muncul ketika ruang perempuan menyusut menjadi etalase.

Trimurti memakai media untuk menggugat ketidakadilan. Sementara itu, sebagian platform justru mendorong perempuan sibuk mengejar validasi angka. Followers naik, tetapi kesadaran turun.

Akademisi gender Julia Suryakusuma lama mengkritik cara masyarakat menempatkan perempuan sebagai objek tampilan, bukan subjek pemikiran. Karena itu, kritik tersebut terasa makin relevan hari ini.

Dari Menteri Buruh ke Buruh Konten

Sesudah Indonesia merdeka pada 17/08/1945, Soekarno menunjuk Trimurti sebagai Menteri Perburuhan pada 03/07/1947. Dengan langkah itu, ia menjadi menteri perempuan pertama di Indonesia. Di kursi itu, ia memperjuangkan hak buruh.

Ironisnya, sekarang jutaan orang berubah menjadi buruh digital mengejar engagement, bekerja demi impresi, dan menggantungkan hidup pada sistem yang rumusnya tidak transparan. Jika dulu buruh melawan mandor pabrik, kini kreator melawan dashboard.

Ini Bukan Nostalgia, Ini Pola Lama dengan Wajah Baru

Jangan romantiskan masa lalu. Era kolonial brutal, sedangkan zaman sekarang berbeda. Namun pola dasarnya sering terasa sama kekuasaan ingin suara kritis tenggelam oleh kebisingan.

Dulu mereka memakai penjara. Kini mereka memakai distraksi. Dulu mereka memakai borgol. Sekarang mereka memakai scroll.

Dulu Trimurti melawan dengan mesin tik. Lalu hari ini pertanyaannya berpindah kepada kita. Di tengah algoritma yang sibuk menjual gaya hidup, siapa yang masih berani menjual keberanian berpikir?. @teguh

Tags: AktivisalgoritmaBisnisBudayawanestetikJurnalisKolonialNasionalPenjaraPlatformScrollSosialSosiolog

Kamu Melewatkan Ini

UMKM Disuruh Go Digital. Giliran Digitalnya Error, Mau Ngadu ke Siapa?

UMKM Disuruh Go Digital. Giliran Digitalnya Error, Mau Ngadu ke Siapa?

by teguh
Juli 11, 2026

Digitalisasi menjanjikan pasar tanpa batas. Namun ketika algoritma lebih cepat menghukum daripada mendengar penjelasan, siapa sebenarnya yang melindungi pedagang kecil?...

Nama Jampidsus Disebut, Febrie Pertanyakan Kaitannya dengan Blackout PLN

Nama Jampidsus Disebut, Febrie Pertanyakan Kaitannya dengan Blackout PLN

by Tabooo
Juli 11, 2026

Nama Jampidsus Febrie Adriansyah ikut disebut dalam pusaran pengusutan dugaan korupsi BUMN. Ia mempertanyakan kaitannya dengan kasus blackout PLN yang...

74 Kg Emas Berapa Rupiah? Temuan Polisi di Sentul Ini Nilainya Fantastis

74 Kg Emas Berapa Rupiah? Temuan Polisi di Sentul Ini Nilainya Fantastis

by Tabooo
Juli 10, 2026

Temuan emas batangan 74 kilogram di rumah mewah Sentul membuat publik bertanya: 74 kg emas berapa rupiah? Nilainya bisa menembus...

Next Post
Negara Surplus Energi, Tapi Mengapa Kita Selalu Takut Harga Energi Naik?

Negara Surplus Energi, Tapi Mengapa Selalu Cemas Saat Harga Dunia Naik?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id