Senin, April 20, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Saat AI Dijanjikan Tambah PDB, Kita Sedang Menjadi Apa?

April 20, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter
Di Bali, Sabtu 18/04/2026, panggung bicara soal masa depan kembali menyala. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut adopsi kecerdasan buatan atau AI bisa menambah kontribusi hingga 3,67 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Angka itu terdengar besar. Namun, di balik tepuk tangan ekonomi.

Tabooo.id: Vibes – Namun dibalik tepuk tangan peserta yang hadir Muncul pertanyaan yang lebih sunyi ketika mesin makin pintar, manusia mau diposisikan sebagai apa? “Daya saing hari ini tidak lagi ditentukan oleh sumber daya, tetapi oleh kemampuan beradaptasi dengan teknologi, terutama AI,” kata Meutya dalam forum The Power of AI.

Ucapan itu terdengar sederhana, tetapi maknanya tajam. Selama puluhan tahun, bangsa ini terbiasa bicara batu bara, sawit, nikel, tanah, dan laut. Kini, nilai ekonomi bergeser ke data, algoritma, serta kecepatan membaca pola.

Meutya menambahkan, “Nilai kini bergeser, bukan lagi soal sumber daya, tetapi kemampuan kita mengelola data menjadi solusi.”

Pesannya jelas. Dunia sedang pindah rumah dari tanah ke layar, dari gudang ke server, dari otot ke kecerdasan digital.

Indonesia Sedang Berdiri di Simpang Jalan

Data Bank Dunia menempatkan Indonesia di peringkat ke-41 dari 198 negara dan masuk kategori A dalam transformasi digital publik. Pemerintah melihat posisi itu sebagai modal besar.

BacaJuga

Tembang Macapat Menjaga Harapan Petani Tembakau Madura

Soeara Boeroeh 1947: Mimpi Buruh yang Masih Relevan di 2026

“Indonesia terus memperkuat posisi sebagai kekuatan utama ekonomi digital di Asia Tenggara,” ujar Meutya.

Meski begitu, pertumbuhan digital tidak otomatis melahirkan keadilan digital.

Ekonom senior Universitas Indonesia, almarhum Faisal Basri, dalam banyak forum ekonomi pernah mengingatkan bahwa pertumbuhan tanpa pemerataan hanya menghasilkan angka indah di atas kertas, tetapi meninggalkan luka di lapangan.

Karena itu, jika AI hanya dinikmati kota besar, korporasi besar, dan mereka yang sudah melek teknologi, desa, pekerja kecil, serta UMKM bisa tertinggal lebih jauh.

Mesin Bisa Membantu, Tapi Juga Menggeser

Pemerintah mendorong AI masuk ke sektor kesehatan, pertanian, dan manufaktur. Secara teori, ini kabar baik. Petani dapat membaca cuaca lebih presisi. Rumah sakit mampu mempercepat diagnosis. Industri pun bisa menekan biaya produksi.

Di sisi lain, sosiolog Universitas Gadjah Mada Prof. Sunyoto Usman pernah menegaskan bahwa setiap lompatan teknologi selalu membawa dua sisi efisiensi dan ketimpangan. Siapa cepat belajar akan naik. Siapa lambat beradaptasi berisiko tersingkir.

Pada titik ini, AI bukan sekadar alat. Teknologi ini telah menjadi ujian sosial.

Manusia Takut Diganti, Bukan Dibantu

Psikolog klinis Universitas Indonesia, Dr. Anna Surti Ariani, dalam sejumlah diskusi publik menjelaskan bahwa ketakutan terbesar masyarakat terhadap teknologi bukan pada mesin itu sendiri, melainkan rasa kehilangan peran.

Karena itulah banyak orang gelisah saat mendengar AI menulis, mendesain, menghitung, bahkan menjawab pertanyaan. Mereka bukan semata takut pada teknologi, melainkan takut tak lagi dibutuhkan. Perasaan itu nyata dan terus tumbuh.

Hukum Selalu Datang Belakangan

Meutya menegaskan regulasi AI bukan pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Pemerintah juga mengaku telah merampungkan Peraturan Presiden mengenai peta jalan dan etika AI nasional.

Langkah tersebut penting. Praktisi hukum siber Universitas Padjadjaran, Dr. Sinta Dewi Rosadi, berulang kali mengingatkan bahwa teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada hukum. Saat aturan terlambat, penyalahgunaan lebih dulu terjadi.

Risikonya beragam, mulai dari pencurian data, manipulasi wajah digital, bias algoritma, hingga keputusan otomatis yang merugikan warga.

Jika negara bergerak lambat, publik berpotensi menjadi bahan uji coba.

UMKM dan Rakyat Kecil Jangan Jadi Penonton

Pemerintah menyebut AI juga akan didorong untuk UMKM. Bagian ini sangat penting, sebab ekonomi Indonesia hidup dari jutaan usaha kecil.

Bayangkan pedagang kecil memakai AI untuk membaca tren pasar, menata stok, membuat promosi, dan melayani pelanggan lebih cepat. Itu revolusi yang terasa nyata.

Sebaliknya, bila akses AI mahal, rumit, dan hanya tersedia dalam bahasa elite digital, rakyat kecil cuma akan menonton seminar masa depan yang tak pernah mereka masuki.

Ini Bukan Soal Mesin, Ini Soal Martabat

Narasi AI terlalu sering berhenti di angka PDB. Padahal hidup manusia tidak selesai di statistik.

Bangsa ini memang butuh ekonomi tumbuh. Kita juga perlu inovasi maju. Pada saat yang sama, masyarakat memerlukan rasa aman, ruang kerja baru, pendidikan ulang, serta etika yang jelas. Akhirnya, pertanyaan terbesar bukan apakah AI bisa menambah 3,67 persen PDB.

Pertanyaan sesungguhnya ialah ketika mesin mulai berpikir, apakah negara sudah menyiapkan manusia agar tetap berarti?. @teguh

Tags: AIalgoritmaAsia TenggarabaliBank DuniaBatu baraDataEkonomEkonomiForumlautMartabatMesinNikelPDBpemerintahPenontonPertumbuhanPraktisi HukumPsikolograkyatSawitSiberSosialSosiologTanahTeknologiThe Power of AITrenUMKMUniversitas Gadjah MadaUniversitas IndonesiaUniversitas Padjadjaran

REKOMENDASI TABOOO

AI Bisa Tambah PDB, Tapi Siapa yang Tertinggal?

AI Bisa Tambah PDB, Tapi Siapa yang Tertinggal?

by teguh
April 20, 2026

Sabtu, 18 April 2026, Bali menjadi panggung optimisme digital. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyebut adopsi kecerdasan buatan atau...

Bandara Jadi Arena Tikam, Politik Masih Pakai Otot?

Bandara Jadi Arena Tikam, Politik Masih Pakai Otot?

by teguh
April 20, 2026

Minggu siang, 19 April 2026, Bandara Karel Sadsuitubun di Langgur seharusnya menyambut kedatangan penumpang. Namun siang itu, tempat itu justru...

Akademi Bola atau Sekolah Emosi? EPA U-20 Bukan Cari Masa Depan

Akademi Bola atau Sekolah Emosi? EPA U-20 Bukan Cari Masa Depan

by teguh
April 20, 2026

Sepak bola usia muda mestinya melahirkan bintang baru. Namun di Stadion Citarum, Minggu, 19 April 2026, yang lahir justru tontonan...

Next Post
Angkutan Umum: Solusi yang Selalu Ada, Tapi Selalu Diabaikan?

Angkutan Umum: Solusi yang Selalu Ada, Tapi Selalu Diabaikan?

Recommended

Dari Kegelapan Menuju Cahaya: Jejak Sejarah Perjuangan R.A. Kartini

“Habis Gelap, Terbitlah Terang”: Apakah Kita Sudah Benar-Benar Keluar dari Kegelapan?

April 18, 2026
Soekarno Kayuh Sepeda di Hollywood, Kini Banyak yang Kayuh Pencitraan

Soekarno Kayuh Sepeda di Hollywood, Kini Banyak yang Kayuh Pencitraan

April 17, 2026

Popular

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

April 19, 2026

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

April 19, 2026

37% ODHIV Tak Terdeteksi: Krisis HIV Indonesia

April 20, 2026

Patriarki Masih Dominan: Perempuan Harus Diam atau Melawan?

April 19, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id