Di tengah ancaman krisis energi yang makin nyata, satu pertanyaan besar muncul benarkah kebijakan hemat energi seperti work from home cukup menekan konsumsi BBM, atau justru kita sedang menghindari masalah utama yang tak pernah selesai?
Tabooo.id: Talk – Harga minyak dunia terus berfluktuasi. Di saat yang sama, beban subsidi energi ikut membengkak. Karena itu, pemerintah kembali mendorong kebijakan bekerja dari rumah untuk menekan mobilitas. Namun, langkah ini hanya meredam dampak di permukaan. Masalah utama justru tetap bertahan, yaitu ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi.
Selama bertahun-tahun, sistem transportasi publik gagal menjadi pilihan utama. Akibatnya, masyarakat terus mengandalkan kendaraan pribadi, meski biayanya semakin tinggi.
Kenapa Angkutan Umum Tidak Pernah Jadi Pilihan Utama?
Masalahnya bukan sekadar ketersediaan, melainkan kepastian. Saat orang merencanakan perjalanan, mereka membutuhkan arah yang jelas.
Namun, sistem angkutan umum sering memaksa pengguna berpindah moda tanpa panduan yang pasti. Selain itu, titik transit tidak terintegrasi dengan baik. Karena itu, perjalanan terasa rumit dan melelahkan.
Di sisi lain, kendaraan pribadi menawarkan fleksibilitas penuh. Pengguna bisa berangkat kapan saja dan menuju ke mana saja tanpa hambatan. Maka, pilihan masyarakat menjadi sangat rasional.
Padahal, dalam perencanaan kota modern, masyarakat membutuhkan “jangkar psikologis” seperti simpul dan penanda ruang. Tanpa itu, mereka kehilangan orientasi perjalanan.
Kita Terjebak Pola Lama: Mengikuti Macet, Bukan Membentuk Kota
Selama ini, perencana transportasi lebih sering mengikuti pola kemacetan. Mereka merancang rute berdasarkan titik padat kendaraan. Akibatnya, sistem transportasi hanya bereaksi, bukan mengarahkan.
Padahal, kota membutuhkan pendekatan yang lebih strategis. Transportasi publik seharusnya membentuk arah pergerakan, bukan sekadar mengikuti kebiasaan lama.
Selain itu, pendekatan berbasis permintaan sering membuat perencanaan kehilangan visi jangka panjang. Kita hanya memotret masalah hari ini, tetapi gagal merancang solusi masa depan.
Masalah yang Lebih Dalam: Ego Sektoral dan Birokrasi
Masalah berikutnya muncul dari tata kelola yang terfragmentasi. Setiap wilayah menjalankan kebijakan sendiri. Sementara itu, pengguna membutuhkan sistem yang terintegrasi.
Akibatnya, perjalanan lintas wilayah menjadi tidak efisien. Bahkan, koordinasi antarinstansi sering berjalan lambat.
Namun, perubahan sebenarnya sudah mulai terlihat. Pemerintah mulai membangun integrasi multimoda. Meski begitu, langkah ini belum cukup kuat untuk mengubah sistem secara menyeluruh.
Tanpa reformasi kelembagaan dan model bisnis yang jelas, rencana transportasi akan terus terjebak di atas kertas.
Dampaknya Nyata: Dompet Rakyat yang Tertekan
Dampak dari kondisi ini langsung terasa. Biaya transportasi kini menyedot sekitar 19-22 persen pendapatan masyarakat. Angka ini jauh di atas batas ideal.
Akibatnya, masyarakat harus mengorbankan kebutuhan lain. Bahkan, kenaikan harga BBM berpotensi memperburuk situasi.
Di titik ini, transportasi bukan lagi sekadar mobilitas. Ia sudah menjadi beban ekonomi yang nyata.
Ini Bukan Sekadar Transportasi, Ini Soal Arah Kota
Transportasi publik tidak bisa dipandang sebagai urusan teknis semata. Sebaliknya, ia harus menjadi bagian dari strategi pembangunan kota.
Karena itu, integrasi antara ruang, moda, dan kelembagaan menjadi kunci utama. Tanpa integrasi, setiap kebijakan hanya menjadi solusi sementara.
Selain itu, kota membutuhkan simpul-simpul intermoda yang jelas. Dengan begitu, masyarakat bisa merencanakan perjalanan secara lebih mudah dan efisien.
Sampai Kapan Kita Mengabaikan Solusi yang Jelas?
Angkutan umum selalu disebut sebagai solusi. Namun, implementasinya sering tertunda.
Jika kondisi ini terus berlanjut, krisis energi akan terus berulang. Sementara itu, beban masyarakat akan semakin berat.
Jadi, pertanyaannya sederhana apakah kita benar-benar ingin memperbaiki sistem, atau hanya terus menunda perubahan?
Kita tidak kekurangan solusi, kita hanya terlalu sering menunda keberanian untuk menjalankannya. @dimas






